Breaking News:

Erick Thohir Bungkam saat Ditanya Kasus Jiwasraya: Nanti Ada Waktunya

Menteri Badan Usaha Milik Negara ( BUMN) Erick Thohir menolak berkomentar saat ditanyai soal permasalahan yang ada di PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

Editor: Sri Handayani1
Tribunnews/Herudin
Pengusaha Erick Thohir saat diwawancara secara khusus oleh Tribunnews, di Jakarta, Senin (30/9/2019). Wawancara tersebut seputar aktivitas Erick Thohir saat ini dan juga isu dirinya yang dicalonkan menjadi menteri di kabinet Presiden Joko Widodo (Jokowi) periode kedua. 

TRIBUNTERNATE.COM - Soal permasalahan yang ada di PT Asuransi Jiwasraya (Persero) rupanya belum menjumpai titik terang.

Kali ini, bahkan Menteri Badan Usaha Milik Negara ( BUMN) Erick Thohir menolak berkomentar saat ditanyai soal permasalahan yang ada di PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

Mantan pemilik klub sepak bola Inter Milan itu mencoba mengalihkan pertanyaan dari para pewarta agar tak menanyakan soal Jiwasraya.

Dia lebih menginginkan para wartawan menanyakan soal acara UMKM Export Brilianpreneur 2019.

“(Pertanyaannya sudah) melebar, nanti ada waktunya. ini (acara) UMKM,” ujar Erick di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (20/12/2019).

Saat wartawan terus mendesak agar Erick mau menjelaskan soal Jiwasrya, dia memilih bungkam. Di terus menerobos kerumunan wartawan yang sedang menunggu komentarnya.

Hingga Erick masuk mobil, tak ada sepatah kata pun yang terlontar dari mulutnya soal Jiwasraya.

Sebelumnya, nasabah PT Asuransi Jiwasraya (Persero) merasa kecewa karena tak ada perwakilan dari Kementerian BUMN yang menemui mereka.

Saat datang ke kantor Erick Thohir, para nasabah tersebut hanya ditemui oleh pihak keamanan Kementerian BUMN. Padahal, mereka ingin bertemu Erick Thohir atau Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga.

“Mau ketemu jubir (juru bicara) Pak Arya (Sinulingga) juga tak ada di tempat. Mereka (security) bilang sedang rapat di luar belum kembali. Mau ketemu staf menteri juga tidak ada yang bisa,” ujar salah satu nasabah Jiwasraya Haresh Nandwani di Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa (17/12/2019).

Masalah Jiwasraya bermula ketika perusahaan menunda pembayaran klaim produk asuransi Saving Plan sebesar Rp 802 miliar pada Oktober 2018.

Produk ini disalurkan melalui beberapa bank seperti PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN), PT Bank ANZ Indonesia, PT Bank QNB Indonesia Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), PT Bank KEB Hana, PT Bank Victoria Tbk, dan PT Bank Standard Chartered Indonesia.

Dalam surat yang beredar kala itu, Jiwasraya menyatakan pemenuhan pendanaan untuk pembayaran masih diproses.

Perusahaan pun menawarkan pemegang polis untuk memperpanjang jatuh tempo (roll over) hingga satu tahun berikutnya.

Selang setahun, masalah bertambah. Jiwasraya menyampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bahwa perusahaan butuh dana Rp 32,98 triliun.

Ini demi memperbaiki permodalan sesuai ketentuan minimal yang diatur OJK atau Risk Based Capital (RBC) 120 persen. (Kompas.com/Akhdi Martin Pratama)

4 Kedok Jiwasraya Terbongkar! Dari Rekayasa Harga Saham hingga Tawarkan Imbal Hasil 9-13% Per Tahun

Diberitakan sebelumnya, kedok gagal bayar Jiwasraya atas polis investornya kian terang. Kejaksaan Agung (Kejagung), Rabu (18/12), bahkan sudah mengungkap ada dugaan tindak pidana korupsi dalam pengelolaan duit investasi PT Asuransi Jiwasraya

Kejaksaan bahkan sudah menerbitkan Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) pada Selasa (17/12) lalu. Jaksa Agung ST Burhanuddin menyatakan, penyidikan atas Jiwasraya termasuk keterlibatan investasi Jiwasraya yang dilakukan di 13 perusahaan. 

Kejaksaan Agung menduga telah terjadi pelanggaran tata kelola perusahaan yang baik (GCG) atas pengelolaan produk JS Saving Plan Jiwasraya.

JS Saving Plan adalah produk asuransi berbalut investasi yang ditawarkan melalui bank (bancassurance). JS Saving Plan adalah produk asuransi unitlink yang mengawinkan produk asuransi dengan investasi.

JS Saving Plan Jiwasraya merupakan asuransi berbasis investasi dan asuransi proteksi kematian dengan tenor 1 tahun-5 tahun. Artinya jika pemilik polis JS Saving Plan meninggal sebelum jatuh tempo, dia akan mendapatkan santunan kematian sebesar 25% dari total yang disetorkan.

Merujuk penulisan Kontan.co.id, dalam memasarkan produk JS Saving Plan, Jiwasraya menggandeng perbankan. Ada 7 bank yang digandeng Jiwasraya yakni:

  • Bank Tabungan Negara
  • Bank Rakyat Indonesia
  • Bank ANZ
  • Bank Standard Chartered
  • Bank KEB Hana Indoneisa
  • Bank Victoria
  • Bank QNB Indonesia

Untuk menarik calon investor, JS Saving Plan Jiwasraya menawarkan imbal hasil pasti atau guaranted return sebesar 9%-13% per tahun, tergantung masa polis  selama periode 2013-2018.

Imbal hasil ini menggiurkan, lebih tinggi dari imbal hasil atau bunga deposito perbankan per tahun di tahun 2018 yang di kisaran 5% sampai 7% per tahun.

Adapun pencairan produk JS Saving Plan Jiwasraya ini bisa dilakukan setiap tahun, tergantung masa polis investor JS Saving Plan Jiwasaraya.

Menariknya untuk bisa menghasilkan imbal hasil atau return tinggi segede 9% sampai 13% per tahun, Jiwasraya bekerjasama dengan 13 manajer investasi. Dan, disinilah terungkap fakta-fakta aksi Jiwasraya menghasilkan return.

1. Ada dugaan kesalahan pembentukan harga produk atau investasi atas JS Saving Plan Jiwasaraya tersebut alias mispricing

Mispricing adalah kondisi  harga saham dinilai overvalue atau undervalue dari nilai wajarnya. Implikasinya: jika saham dinilai overvalue dari nilai wajarnya, maka perusahaan akan mengeluarkan saham baru.

Sebaliknya, jika saham dinilai undervalue dari nilai wajarnya, maka perusahaan cenderung akan menerbitkan utang dan membeli kembali sahamnya.

Dengan guaranted return 9%-13%, lebih tinggi dari pertumbuhan IHSG dan yield obligasi serta dapat dicairkan setiap tahun, Jiwasraya terus terkena risiko pasar," tulis dokumen tersebut, Kamis (19/12).

Imbal hasil dari obligasi korporasi dengan rating singleA (idA) hingga tripleA (AAA) berkisar  8%-9,5% per tahun. Adapun sepanjang tahun 2018, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya 2,3%.

2. Manajemen Jiwasraya diduga lemah dalam menjalankan prinsip kehati-hatian dalam berinvestasi.

Berdasarkan perincian aset investasi Jiwasraya, investasi JS Saving Plan pada saham-saham dan reksadana yang berisiko tinggi atau high risk. Perinciannya sebagai berikut:

- Saham

Porsi investasi saham dalam portfolio JS Saving Plan sebesar 22,4% atau sebanyak Rp 7 triliun, dari jumlah aset finansial. Sebanyak 5% portfolio itu berisi saham-saham di Indeks LQ45 (45 saham unggulan dan paling likuid di Bursa Efek Indonesia), sementara sisanya di luar LQ45.

- Reksadana

Alokasi reksadana Saving Plan Jiwarsrya sebesar 59,1% atau sebesar Rp 14,9 triliun dari jumlah aset finansial. Dari jumlah ini, hanya 2% yang dikelola oleh top tier perusahaan manajer investasi (MI), sementara sisanya di luar perusahaan MI lainnya.

Selain itu,  berkas dokumen yang sama menyebut, Jiwasraya  tidak menerapkan portofolio manajemen lantaran tak memiliki portofolio guideline yang mengatur alokasi investasi maksimum pada high risk assetse. Alhasil, dengan kondisi pasar saat ini, mayoritas aset investasi tidak dapat diperjualbelikan alias tidak likuid.

3. Rekayasa harga saham (window dressing).

Jiwasraya diduga merekayasa harga saham antara lain dengan jual-beli saham dengan dressing reksadana. Modusnya, dengan saham yang harganya kemahalan atayu overprice dibeli oleh Jiwasraya, kemudian dijual pada harga negosiasi (di atas harga perolehan) kepada perusahaan manajer investasi (MI) untuk kemudian dibeli kembali oleh Jiwasraya.

"Hal ini dibuktikan dengan aset investasi Jiwasraya yang dominan pada saham dan reksa dana saham yang underlying asset-nya sama dengan portofolio saham langsung," tulis dokumen tersebut.

4.  Tekanan likuiditas produk Saving Plan Jiwasraya karena penurunan kepercayaan nasabah terhadap produk Saving Plan menyebabkan penurunan penjualan produk ini.

Tidak adanya aset dan pencadangan aset yang cukup untuk memenuhi kewajiban membuat terjadi gagal bayar polis JS Saving Plan senilai Rop 12,4 triliun di Desember 2019 ini.

Penurunan kepercayaan nasabah membuat  klaim atau lapse rate secara signifikan meningkat ke 51% dan terus meningkat hingga 85%. Hal tersebut menyebabkan tekanan likuiditas pada Jiwasraya.

Efeknya: perolehan premi menurun tajam, pendapatan investasi Jiwasaraya menurun. Dengan klaim yang terus naik membuat terjadi krisis likuiditas di Jiwasraya. Juni 2019,  ekuitas Jiwasraya negatif sebesar Rp 20,2 triliun dan rasio kecukupan modal atau risk based capital (RBC) Jiwasraya minus hingga 664,4% .

Jika merujuk surat menyurat Menteri BUMN Rini Soemarno dengan manajemen asuransi Jiwasraya saat itu, Menteri BUMN Rini Soemarno menyetujui aksi korporasi Jiwasraya berupa transaksi repo atas aset investasi Jiwasraya berupa surat berharga pemerintah dan korporasi dengan indikatif proceed  sekitar Rp 1,38 triliun (repo BRI) dan Rp 379 miliar (repo BTN).

Lalu, Jiwasraya melakukan penarikan fasilitas kredit BNI beragunan aset perusahaan atau Jiwasraya berupa surat berharga pemerintah dan korporasi dengan nilai Rp 242,3 miliar.

Tak hanya itu, Menteri BUMN juga menyetujui penarikan fasilitas kredit oleh Jiwasraya dari BTN dengan jaminan aset surat berharga senilai Rp 200 miliar untuk pemenuhan kewajiban jatuh tempo polis.

Menteri BUMN juga menyetujui aksi korporasi Jiwasraya dengan penarikan fasilitas kredit jangka pendek BRI dengan plafon maksimal Rp 400 miliar fasilitasi settlement pada saat roll over transaksi repo BRI serta menyetujui penerbitan MTN senilai Rp 500 miliar.

  • Bank Tabungan Negara
  • Bank Rakyat Indonesia
  • Bank ANZ
  • Bank Standard Chartered
  • Bank KEB Hana Indoneisa
  • Bank Victoria
  • Bank QNB Indonesia

(Kontan.co.id/Titis Nurdiana)

Sumber:

Kompas.com: Ditanya soal Jiwasraya, Erick Thohir Bungkam

Kontan.co.id: Tabir investasi Jiwasraya terbuka, dari modus mispricing sampai window dressing

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved