Beri Kritikan ke Telkom, Erick Thohir Sebut Bisnis Cloud Dikuasai Asing
PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk jadi sasaran kritik Menteri BUMN Erick Thohir.
“Jadi Pak menteri (Erick Thohir pacu Telkom cari model bisnis (baru), bukan berarti Telkom dibubarkan. Jangan sampak anak usahanya (Telkomsel) yang banyak berikan dividen,” ujar Arya di Jakarta, Senin (17/2/2020).
Menurut Arya, Erick Thohir menginginkan bisnis Telkom tak lagi mengandalkan infrastruktur telekomunikasi lagi.
Dia ingin Telkom merambah ke bisnis big data dan komputasi awan.
“Jadi Telkom enggak bisa hanya mengandalkan itu lagi, masa orang lebih banyak dapat uang dari infrastruktur Telkom dibanding Telkom sendiri. Jadi Telkom harus ke sana, kaya bikin cloud, kan pengen punya juga,” kata Arya.
Laba besar Telkomsel
Menilik laporan kinerjanya, Telkomsel memang selalu menyumbang laba sangat besar bagi induknya itu.
Bahkan, laba Telkomsel masih lebih besar dibandingkan untung dari bank BUMN.
Dikutip dari Annual Report Telkomsel 2018, Telkomsel membukukan laba sebesar Rp 25,53 triliun dari total pendapatan Rp 89,24 triliun.
Di tahun 2017, Telkomsel bisa mencatatkan laba sebesar Rp 30,39 triliun.
Lalu berturut laba pada tahun 2016 sebesar Rp 28,19 triliun, tahun 2015 sebesar Rp 22,36 triliun, dan tahun 2014 sebesar Rp 19,39 triliun.
Bandingkan dengan kinerja laba bank-bank BUMN yang selama ini jadi barometer BUMN yang selalu mencetak laba besar.
Bank-bank pelat merah selama ini jadi deretan penyumbang dividen terbesar bagi pemerintah.
• Erick Tertawa saat Sujiwo Tejo Minta Menteri BUMN Agar Keluar dari Kabinet, Jadi Menteri Keteteran
• Erick Thohir Tunjuk Polisi Penangkap Tommy Soeharto Jadi Anak Buahnya, Urusi Cekcok di 20 BUMN
Selain itu, kinerja bank BUMN juga terus mengalami pertumbuhan pesat, baik dari sisi aset maupun laba.
Sebagai contoh Bank BNI, pada tahun 2018 BNI mampu membukukan laba sebesar Rp 15,09 triliun.
Lalu berturut-turut laba BNI pada tahun 2017 sebesar Rp 13,77 triliun, tahun 2016 sebesar Rp 11,41 triliun, dan laba tahun 2015 sebesar Rp 9,14 triliun.