Breaking News:

Virus Corona

Gubernur Maluku Sebut Obat Corona dari China Terbukti Sembuhkan Pasien di Wuhan: Saya Pernah Pakai

Gubernur Maluku menyerahkan 1.200 dus bantuan obat pecegahan virus corona kepada Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Maluku.

Editor: Sri Handayani1
KOMPAS.com/RAHMAT RAHMAN PATTY
Gubernur Maluku, Murad Ismail 

Zullies mengungkapkan Indonesia sangat kaya akan tanaman obat yang berpotensi untuk mengatasi Covid-19.

Namun demikian, aturan dalam pengembangan obat baru dari herbal tetap harus mengikuti kaidah ilmiah yang berlaku.

Sumber obat herbal sedikit berbeda dengan obat sintetik yaitu berasal dari pengalaman empiris bertahun-tahun.

Jamu-jamu atau ramuan tradisional Indonesia dari berbagai daerah umumnya telah memiliki pengalaman bertahun-tahun untuk suatu penyakit tertentu.

Selain pengalaman empirik, ada juga sumber obat herbal yang berupa suatu inovasi baru.

Misalnya, kulit manggis atau kulit jeruk yang dulunya tidak digunakan masyarakat, tetapi berdasarkan penelitian ternyata memiliki manfaat obat.

Obat-obat herbal ini ada yang diolah oleh masyarakat untuk dikonsumsi sendiri seperti jamu.

Ada pula yang diolah lebih modern, diformulasi dengan bahan-bahan lain dan disajikan secara modern seperti dalam bentuk kapsul, kaplet atau sediaan lainnya, untuk dipasarkan lebih luas.

Sebagian dikemas menjadi Obat Herbal Terstandar dan diujikan secara preklinik pada hewan uji untuk dipastikan keamanan dan kemanjurannya.

Jika lolos uji, obat-obat herbal ini bisa digunakan pada manusia.

“Jika sudah diujikan secara klinis pada manusia, dan terbukti kemanjuran serta keamanannya maka obat herbal dapat didaftarkan sebagai Fitofarmaka,”terangnya.

Tips Pilih Obat

Lantas bagaimana tips memilih obat herbal atau alternatif untuk Covid-19? Prof. Zullies menyampaikan beberapa tips memilih obat-obat untuk mencegah atau mengatasi Covid-19.

Salah satunya, menggunakan obat-obat herbal yang telah terdaftar di BPOM.

Untuk memastikan produk-produk yang telah terdaftar di BPOM dan mendapat nomor izin edar bisa melalui aplikasi BPOM yang tersedia, https://cekbpom.pom.go.id/, atau Halo BPOM.

“Kalau produk yang didaftar sebagai pangan maka produk tersebut tidak bisa memiliki izin edar sebagai suplemen kesehatan atau bahkan obat pada saat yang sama.

Jadi, jika ada produk pangan yang diklaim memiliki efek pengobatan maka itu perlu dipertanyakan,” tutur Prof. Jullies.

Berikutnya, jangan langsung percaya pada produk dengan klaim bombastis dan mekanisme yang tidak jelas.

Tanyakan terlebih dahulu kepada ahli-ahli obat, misalnya kepada apoteker di apotek, rumah sakit, atau institusi pendidikan farmasi.

Demikian pula ketika menjumpai promosi obat atau produk herbal yang tidak jelas kandungannya, sebaiknya berhati-hati.

Sebab, dimungkinkan ada kandungan dalam produk tersebut yang harus dihindarkan pada penyakit tertentu yang diidap seseorang.

Untuk memastikan keamanan dapat berkonsultasi pada apoteker dan meminta saran produk yang lebih terjamin keamanannya.

“Pastikan bahwa produk obat yang Anda konsumsi itu jelas kandungannya dan aman.

Dan semoga kita semua terhindar dari penggunaan obat-obat alternatif yang tidak tepat selama masa pandemi dan juga terhindar dari penyakit Covid-19,” pungkasnya. (Kompas.com/Wahyu Adityo Prodjo)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Dapat Obat Corona dari China, Gubernur Maluku: Ini Terbukti Sembuhkan Pasien di Wuhan" dan "Guru Besar UGM: Masyarakat Perlu Lebih Cermat Pilih Obat Corona Alternatif"

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved