Breaking News:

Anda Termasuk Orangtua yang Terlalu Protektif? Awas, Ini Dampaknya Terhadap Perkembangan Anak

Kecenderungan untuk melindungi, menyangga, dan memanipulasi ini dapat terwujud dalam banyak cara.

Editor: Sri Handayani1
http://www.smartmama.com
Foto ilustrasi orang tua sedang mengajari anak 

TRIBUNTERNATE.COM - Menjadi orangtua memang mempunyai banyak tugas dan tanggung jawab yang diemban.

Namun saking ingin melindungi keluarganya, banyak orangtua yang terlalu protektif atau overprotective sebenarnya memiliki tujuan baik.

Hanya saja caranya kerap kali kontraproduktif terhadap perkembangan anak.

Mereka akan berusaha melindungi anak dari rasa sakit fisik, mental, atau emosional. Mereka ingin memastikan bahwa anak-anak mereka sukses, sehingga mereka dapat meminimalkan hambatan-hambatan yang mungkin terjadi ke depannya.

Masalahnya adalah mereka sering kali terlalu mendominasi pengambilan keputusan atas nama anak mereka. Mereka juga percaya bahwa merekalah yang paling tahu yang terbaik buat anak.

Sering Dianggap Tabu, Ternyata Kentut Miliki Banyak Manfaat Kesehatan Lho!

Kronologi Orangtua Aniaya Anak hingga Tewas Lalu Dikubur dengan Pakaian Lengkap di Banten

Kecenderungan untuk melindungi, menyangga, dan memanipulasi ini dapat terwujud dalam banyak cara.

Berikut ini beberapa contoh pola asuh yang terlalu protektif:

1. Mengontrol pilihan

Orangtua terlalu mendominasi keputusan anak. Misalnya dalam memilih baju atau memilih mainan yang mereka suka.

Anak-anak tidak diberikan kebebasan untuk memilih, sementara orangtua yakin bahwa pilihannya lah yang paling baik.

Ini secara tidak langsung mendorong rasa ketidakpercayaan dan berasumsi bahwa Anda lebih tahu.

Penting untuk memberi anak ruang untuk mempertimbangkan pilihan mereka sendiri.

Tentu saja orangtua dapat menasihati mereka, tetapi pada akhirnya orangtua sebaiknya melakukan perannya untuk mendorong anak-anak untuk menjadi pemikir mandiri dengan pendapat keperpercayaan diri mereka sendiri.

2. Berlindung dari kegagalan

Adakalanya orangtua terlalu membela kegagalan yang dilakukan anak dengan maksud untuk 'menyelamatkannya'.

Padahal, ini merupakan kesempatan bagi anak untuk belajar dari kesalahan dan berusaha bangkit kembali.

Sukses itu hebat, tetapi anak-anak tidak akan benar-benar berkembang sampai mereka belajar mengatasi kegagalan sehari-hari.

3. Bereaksi berlebihan terhadap kegagalan

Jika Anda marah atas nilai buruk di sekolahan anak atau kecewa saat anak Anda ditolak dari suatu kesempatan, Anda perlu menarik napas dalam-dalam dan membiarkannya barang sejenak saja.

Bereaksi berlebihan terhadap kegagalan sesekali tidak membantu Anda atau anak Anda beradaptasi dan tumbuh.

4. Takut akan cedera

Orangtua bisa sangat protektif kepada anak-anaknya saat bermain. Semisal takut anak terluka, terjauh atau cedera lainnya.

Padahal ini merupakan kesempatan bagi anak untuk mengeksplorasi dunianya.

Berikan kebebasan tapi tentu masih dengan pengawasan.

Pengawasan berbeda dengan membatasi gerakan anak.

Selama anak tidak dalam kondisi bahaya yang sangat mengancam, maka ada baiknya untuk memberikan anak kebebasan.

8 Manfaat Olahraga Lari untuk Kesehatan Fisik dan Mental: Turunkan Berat Badan hingga Atasi Depresi

5. Fokus pencapaian

Adakalanya orangtua terlalu fokus pada pencapaian-pencapaian besar, padahal banyak hal kecil yang bisa dinikmati dan dirayakan.

Anda dapat menjadwalkan les dan mendaftarkan anak Anda untuk semua aktivitas pengayaan, tetapi berfokus secara eksklusif pada akademisi dan pencapaian terukur dapat merusak mental dan emosional anak Anda.

Kita perlu membiarkan anak-anak kita menjadi anak-anak.

6. Imbalan ekstrim dan aturan ketat

Menggunakan hadiah aneh untuk memotivasi anak-anak dan hukuman keras untuk menghalangi mereka adalah tanda umum lain dari pola asuh yang terlalu protektif.

Ada baiknya bentuklan anak sehingga mereka termotivasi oleh dorongan internal mereka sendiri dan bersemangat dengan pengalaman baru - tidak bergantung pada suap dan takut akan ancaman.

Apa efek dari orang tua yang terlalu protektif?

Mengidentifikasi kecenderungan overprotektif sejak dini dapat membantu menyesuaikan hasilnya untuk Anda dan anak-anak Anda, karena gaya pengasuhan ini dapat memiliki konsekuensi negatif yang bertahan lama. Berikut sejumlah efek negatif pola pengasuhan yang terlalu protektif ;

1. Anak tidak siap menghadapi kesulitan

Mungkin yang paling signifikan, orang tua yang terlalu protektif dapat menciptakan anak yang tidak siap menghadapi kesulitan hidup.

Mereka begitu terbiasa dengan orang tua yang membuat rencana dan membereskan kekacauan sehingga mereka mungkin tidak berdaya menghadapi tantangan kecil dan rintangan besar.

2. Pintar berbohong

Anak-anak bisa mulai belajar berbohong jika mereka sudah merasa tertekan.

Jika mereka merasa tidak mampu menghadapi tekanan ekspektasi yang tidak realistis atau aturan yang ketat, mereka mungkin memutarbalikkan kebenaran untuk memanipulasi hasil dan mengubah respons yang Anda antisipasi.

3. Anak-anak yang tidak mandiri dan tidak percaya diri

Jika anak Anda selalu mengharapkan intervensi Anda, maka mereka mungkin tidak mengembangkan harga diri yang dibutuhkan untuk menjadi pembela bagi dirinya sendiri.

Jika Anda melakukan segalanya untuk mereka (mulai dari tugas dasar hingga menyelesaikan PR sekolah), mereka mungkin mulai mengharapkan Anda untuk melakukan hal-hal sederhana lainnya yang dapat dan harus mereka lakukan sendiri. Alih-alih menerima tantangan baru, mereka puas menunggu orang lain menangani masalah.

Selain itu, sebuah studi tahun 2013 dari University of Mary Washington di Virginia menemukan bahwa anak-anak dari orang tua overprotective lebih rentan terhadap kecemasan dan depresi di akhir masa remaja dan kuliah.

4. Anak-anak yang ketakutan

Jika Anda menghentikan seorang anak kecil dari melakukan hal-hal yang mungkin berdampak negatif tetapi relatif tidak berbahaya, mereka mungkin menjadi terlalu takut untuk mencoba hal-hal baru.

Mereka mungkin khawatir akan disakiti atau ditolak dan akhirnya menghindar dari pengalaman.

5. Sulit menerima kenyatan hidup

Anak-anak yang terbiasa menjalani segala sesuatunya sesuai dengan keinginan orang tua mereka mungkin akan mengalami kesulitan di masa depan ketika mereka menyadari bahwa hidup tidak selalu berjalan seperti itu.

Mereka bahkan mungkin merasa pantas mendapatkan hal-hal yang belum mereka dapatkan.

Selain itu, masalah ini menjadi kacau jika mereka terus-menerus dimotivasi oleh penghargaan daripada kepuasan diri. (*/HealthLine)

Artikel ini telah tayang di Tribunjogja.com dengan judul Ciri Orangtua yang Terlalu Protektif dan Dampaknya Terhadap Perkembangan Anak
Penulis: Mona Kriesdinar
Editor: Mona Kriesdinar

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved