Breaking News:

Sederet Kontroversi Ferdinand Hutahaean, Kerap Kritik Jokowi Kini Mundur dari Partai Demokrat

Ferdinand menjelaskan, sejumlah alasan hingga memutuskan untuk hengkang dari partai berlambang mirip logo mercy itu.

Editor: Sri Handayani1
KOMPAS.com/ABBA GABRILLIN
Ferdinand Hutahaean di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2/2019) 

TRIBUNTERNATE.COM - Sosok Ferdinand Hutahaean mendadak disoroti publik.

Sebab Ferdinand mendadak mengundurkan diri dari Partai Demokrat karena merasa tak lagi sepemikiran dengan partai yang dipimpin Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) tersebut.

"Ya betul, saya memang telah resmi umumkan mengundurkan diri lewat akun Twitter saya," terang Ferdinand Hutahaean dilansir dari Kompas.com.

Ferdinand menjelaskan, sejumlah alasan hingga memutuskan untuk hengkang dari partai berlambang mirip logo mercy itu.

Baca juga: Ferdinand Hutahaean Mundur dari Partai Demokrat, Perbedaan Prinsip Jadi Alasan Utama

Baca juga: Ferdinand Hutahaean Naik Pitam saat Ditanya Geisz Chalifah Bersekolah SMA Dimana: Saya Nggak Sekolah

Perbedaan prinsip dan cara pandang terkait isu nasional menjadi alasan utama.

TONTON JUGA:

Ferdinand Hutahaean menyatakan, tak lagi memiliki kesamaan cara pandang dengan para pengurus partainya.

"Terakhir kemarin cara pandang terhadap UU Cipta Kerja yang sangat mendasar bagi saya semakin menguatkan pilihan saya untuk mundur," imbuh Ferdinand Hutahaean.

Bahkan, lanjut Ferdinand, dirinya pun memiliki perbedaan prinsip dengan cara untuk pengelolaan partai yang membuatnya merasa tak nyaman lagi.

Hal ini pula yang memutuskannya untuk segera pergi dari Demokrat meski dirinya menjabat sebagai Kepala Biro ESDM Departemen VII Energi Sumber Daya Mineral di partai tersebut.

"Daripada jadi konflik di internal, lebih baik saya pergi dengan keyakinan prinsip politik saya bahwa kepentingan bangsa jauh di atas segalanya, termasuk di atas kepentingan politik kelompok. Maka saya bersikap untuk pergi dan mundur," papar Ferdinand Hutahaean.

Dituding Penjilat

Sebelum menyatakan mundur, Ferdinand menulis beberapa unggahan mengenai tudingan yang diterimanya. Ferdinand dituding sebagai penjilat.

Tudingan tersebut dijawabnya dalam unggahan pertama.

"Penjilat..? Hahaha sy harus tertawakan tuduhan itu kpd sy. Apa yg mau sy jilat? Siapa yg mau sy jilat? Jokowi? Ahhh dr dulu kalau sy punya mental penjilat, tak akan sy tinggalkan Jokowi krn beda prinsip ttg Subsidi dan Pembangunan. Kalau sy penjilat sdh jd pejabat saya dr dulu," tulis Ferdinand.

Menurut Ferdinand, sejak 2012 lalu kemunculan Joko Widodo, dirinya sudah aktif mendorong PDI Perjuangan menyalonkan wali kota Solo itu sebagai presiden. Hingga akhirnya Joko Widodo atau Jokowi menjadi Presiden RI pada 2014.

Tapi, kata Ferdinand, dia pernah tidak sejalan dengan kebijakan Presiden Jokowi. Salah satunya soal subsidi dan pembangunan infrastruktur. Menurutnya, secara prinsip dia berseberangan, dan Ferdinand memilih pergi.

"Kenapa pergi? Karena ini soal prinsip dan yang berani pergi bukan penjilat," tulis Ferdinand.

Jadi menurutnya, kalau ada yang menuduhnya penjilat dan menjilat untuk dapat jabatan sekarang, Ferdinand hanya tertawa saja.

"Saya harus tertawakan dia, karena dia tak kenal dengan Ferdinand Hutahaean. Kalau saya punya mental penjilat, harusnya 2014 Jokowi saya jilat dan puja puji, sudah pasti saya jadi pejabat. Tapi tidak kan? Saya pergi untuk sebuah prinsip," beber Ferdinand.

tribunnews
Politikus Demokrat, Ferdinand Hutahaean, sedang membonceng seorang pengendara bermotor menerobos jalan persawahan di Desa Pancawati, Kabupaten Bogor. (Tangkapan layar Twitter @Ferdinand_Haean)

Ditegaskan Ferdinand, sekarang sikapnya adalah mendukung pemerintah, bukan Presiden Jokowi sebagai pribadi. Karena menurutnya keberpihakannya kepada pemerintah adalah keberpihakan kepada negara.

"Saya selalu berpolitik untuk bangsa. Pemerintah sedang bekerja keras, tapi di sisi lain ada sekelompok orang berpolitik untuk kelompok bahkan tega rusak NKRI, saya akan lawan," tegasnya.

Baca juga: Ferdinand Hutahaean Geram Banjir Jakarta Nyaris Rendam Mobilnya, Fadli Zon: Bukan Salah Anies

Hingga sejauh ini Ferdinand tidak menyebutkan siapa pihak yang menudingnya sebagai penjilat, dan kepada siapa unggahannya di Twitter ditujukan.

Kabar Ferdinand Hutahaean mengundurkan diri ini menuai perhatian publik, padahal sebelumnya ia dikenal sebagai sosok yang kerap mengkritik Jokowi.

Jejak Ferdinand Hutahaean

Untuk diketahui, Ferdinand bergabung dengan Partai Demokrat pada Mei 2017. Jauh sebelum itu, dia merupakan pengurus Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP).

Berdasarkan penelusuran TribunJakarta, Ferdinand sempat ikut dalam aksi membentangkan 1.161 spanduk dukungan untuk Jokowi pada Minggu (4/5/2014)

Spanduk-spanduk itu dibentangkan dari Balai Kota DKI Jakarta menuju Istana Presiden, Jakarta.

Ferdinand Hutahaean merupakan Ketua DPP Bara JP saat aksi tersebut. Ferdinand juga pernah bertemu langsung dengan Jokowi.

"Nah, itu dulu saya terlibat," ujar Ferdinand.

Setelah Jokowi dilantik menjadi Presiden RI, Ferdinand kerap menyampaikan kritik.

Dia mengatasnamakan diri sebagai Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia dalam sebuah diskusi tentang 100 hari pemerintahan Jokowi-JK pada 28 Januari 2015.

Berikut daftar pernyataan kontroversi Ferdinand Hutahaean dirangkum TribunJakarta:

1. Kecewa pada Jokowi soal Pilkada Serentak 2020

Ferdinand Hutahaean sempat mengungkapkan rasa kecewanya terhadap keputusan Presiden Jokowi yang tetap akan melaksanakan pilkada serentak 2020.

“Pak Presiden katanya tetap ingin melaksanakan Pilkada pada tanggal 9 Desember dan menolak penundaan,” cuit Ferdinand dalam akun Twitternya, Senin (21/9/2020).

Saat itu Ferdinand menganggap keputusan tersebut bukanlah hal yang mudah, terlebih kasus penularan Covid-19 di Tanah Air masih tinggi.

Ferdinand lantas meminta aturan Pilkada utamanya kampanye terbuka harus dipertegas lagi. Termasuk sanksi bagi mereka yang melanggar.

“Keputusan ini bukan hal mudah mengingat kita harus utamakan menekan angka Covid. Semoga ada aturan baru terutama metodologi kampanye terbuka pengerahan massa. Ini yang bahaya..!!,” tegasnya.

Selain itu, Ferdinand juga mengkritisi pengumuman resmi istana soal pilkada 2020 yang hanya disampaikan oleh Jubir Presiden, Fadjroel Rachman.

“Saya tentu sangat kecewa ketika pemerintah memutuskan akan tetap melaksanakan Pilkada pada tanggal 9 Desember nanti," kata Ferdinand.

"Tapi apakah ini sudah pernyataan resmi pemerintah saya belum tahu mengingat baru disampaikan oleh @JubirPresidenRI yang saya ragukan kredibilitasnya sejak pernah diluruskan oleh Setneg,” ungkapnya.

tribunnews
Ferdinand Hutahaean (Tribunnews.com/Randa Rinaldi)

2. Kritik Pelonggaran PSBB

Ferdinand Hutahaean sempat mengkritik pedas Presiden Jokowi terkait pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pada Mei 2020 lalu.

Saat itu Ferdinand merasa heran ketika Jokowi menegaskan, belum ada kebijakan pelonggaran.

Ferdinand merasa, meskipun belum ada kebijakan yang dikeluarkan oleh Jokowi terkait pelonggaran PSBB. Tapi pada kenyataannya di lapangan sudah terjadi relaksasi.

Kritik ini disampaikan Ferdinand melalui akun Twitter pribadinya, @FerdinandHaean2, yang diunggah pada Senin (18/5/2020).

"Belum ada kebijakan resmi pelonggaran PSBB, tapi prakteknya sudah berjalan..!!" cuit Ferdinand yang menunjukkan tautan artikel dari situs resmi Sekretariat Kabinet.

Dalam cuitan sebelumnya, Ferdinand juga mempertanyakan hal yang sama kepada Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto

Sebelumnya, Achmad Yurianto pun menegaskan, pemerintah tidak melakukan pelonggaran atau relaksasi terhadap penerapan PSBB.

Ferdinand berkomentar, "Terus yang terjadi sekarang ini apa pak? Pura-pura pembatasan?"

3. Cuitan Infrastruktur Langit

Ferdinand Hutahaean sempat membuat heboh dengan kicauannya terkait infrastruktur langit melalui akun Twitter @Ferdinand_Haean pada 2019 lalu.

Ia kemudian membantah anggapan dirinya telah menghina calon wakil presiden Maruf Amin terkait cuitan tersebut.

Ferdinand bahkan meminta maaf atas kicauannya.

"Kalau merasa tweet saya itu menghina Ma'ruf Amin, saya minta maaf. Tapi tidak ada hubungannya sama sekali dengan Ma'ruf amin. Sama sekali tidak terkait," ujar Ferdinand saat dihubungi, Selasa (19/3/2019).

Istilah infrastruktur langit dilontarkan oleh Ma'ruf Amin pada saat debat ketiga pilpres, Minggu (17/3/2019).

Istilah itu digunakan Ma'ruf untuk merujuk pada proyek telekomunikasi Palapa Ring yang telah dibangun pemerintah untuk mendukung bisnis digital.

Kemudian melalui akun Twitternya @Ferdinand_Haean, Ferdinand menulis "Infrastruktur langit untuk orang tua menuju akhirat."

Ferdinand beralasan, tweet itu terinspirasi dari pernyataan Ma'ruf Amin. Namun, ia mengaku pernyataan itu ditujukan untuk dirinya sendiri.

Ferdinand mengklaim tidak memiliki niat untuk menghina Ma'ruf Amin.

Oleh sebab itu, ia berharap pihak-pihak tertentu tidak menyebarkan fitnah seolah dirinya menghina Ketua Umum non-aktif Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu

"Jadi kalau mereka merasa itu menghina Ma'ruf Amin, ya mohon dimaafkan. Tidak ada niat untuk itu," kata Ferdinand.

4. Walkout di Rapimnas PD

Ferdinand Hutahaean walkout alias ke luar ruangan saat Presiden Jokowi berpidato dalam pembukaan rapimnas Partai Demokrat pada Sabtu (10/3/2018).

"Saya melakukan itu sebagai wujud tanggung jawab saya yang dulu mendukung Pak Jokowi, bahwa saya melakukan itu sebagai wujud ekspresi kekecewaan saya karena janji politik Pak Jokowi tidak ditepati, terutama tiga hal, yaitu menolak utang luar negeri, mempersulit asing, dan masalah subsidi," aku Ferdinand pada Selasa (13/3/2018).

Ferdinand mengaku melakukan hal itu secara diam-diam dan tak mengajak rekannya yang lain. Menurut dia, ini adalah haknya dalam berdemokrasi.

"Adalah hak saya sebagai warga negara dan sebagai pribadi untuk protes dengan cara yang saya anggap tepat dan baik. Daripada saya mengeluarkan kartu seperti di UI, kan tidak elok. Jadi saya memilih keluar dengan diam," ujar Ferdinand. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunjakarta.com dengan judul Daftar Kontroversi Ferdinand Hutahaean yang Kerap Kritik Jokowi, Kini Mundur dari Partai Demokrat
Penulis: Kurniawati Hasjanah
Editor: Siti Nawiroh

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved