Breaking News:

Dilarang Soeharto dan Dijadikan Hari Libur oleh Megawati, Ini Sejarah Imlek di Indonesia

Di Indonesia, perayaan Imlek secara meriah baru bisa dilakukan pada masa pemerintahan Presiden Gus Dur. 

Editor: Rohmana Kurniandari
Tribunnews/Jeprima
Warga keturunan Tionghoa saat melakukan sembahyang di Kim Tek Le atau Vihara Dharma Bakti, Petak Sembilan Glodok, Jakarta Barat, Kamis (11/2/2021). Perayaan Imlek tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya dimana pada masa pandemi peribadatan di malam imlek ditiadakan. Namun pihak vihara tetap membuka bagi masyarakat yang ingin beribadah mulai pukul 06.00 WIB hingga 16.00 WIB. Pihak penyelenggara juga membatasi jumlah umat yang berdoa pada hari imlek, maksimal 50 orang dengan metode nomor antrean untuk menghindari kerumunan saat melakukan ibadah. 

TRIBUNTERNATE.COM - Tahun Baru Imlek 2572 Kongzili jatuh pada hari ini, Jumat (12/2/2021).

Beberapa negara turut merayakan Imlek, seperti China, Vietnam, Singapura, Thailand, Kamboja, dan Malaysia.

Harapan baik dan salam keberuntungan pun berlimpah di seluruh China maupun bagi warga keturunan Tionghoa.

Di Indonesia, perayaan Imlek secara meriah baru bisa dilakukan pada masa pemerintahan Presiden Gus Dur. 

Lantas, seperti apa sejarah Imlek di Indonesia? 

Imlek di masa Orde Baru

Jika menilik sejarah Imlek di Indonesia, pada masa Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, perayaan Imlek dan berbagai tradisi Cina dibatasi di Indonesia. 

Dirangkum dari Harian Kompas (5/2/2000), pemerintah melarang dilakukannya secara terbuka segala bentuk kegiatan agama, kepercayaan dan adat istiadat Cina melalui Instruksi Presiden (Inpres) No 14 Tahun 1967. 

Inpres No 14 Tahun 1967 itu membuat warga masyarakat keturunan Tionghoa tak lagi bisa merayakan ritual-ritual Konghucu, kepercayaan asli mereka. 

Baca juga: Harapan Jokowi pada Perayaan Imlek 2021 di Tengah Pandemi: Semoga Dijauhkan dari Penyakit & Bencana

Baca juga: Gong Xi Fa Cai! Intip 5 Potret Selebriti yang Rayakan Tahun Baru Imlek 2021

Termasuk merayakan Imlek dengan menggelar pertunjukkan barongsai dan mengarak patung dewa-dewa alias toapekong di tempat-tempat umum. Huruf-huruf atau lagu Mandarin tidak boleh diputar di radio. 

Halaman
123
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved