Breaking News:

Diterjang Pandemi dan Cuaca Tak Menentu, Sejumlah Petani Ini Justru Raup Untung Puluhan Juta

Ketika sejumlah sektor perekonomian mengalami penurunan pertumbuhan di masa pandemi, hal sebaliknya justru dirasakan oleh sektor pertanian.

Surya/Rahadian BP
Mujiono (56), seorang petani asal Desa Durenan, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun sukses membudidayakan porang. 

Menurut dia, paling banyak petani cabai yang memborong motor berada di Dusun Pucuk yang wilayahnya lebih luas dan mayoritas penduduknya adalah petani cabai.

Foto ilustrasi cabai.
Foto ilustrasi cabai. (TRIBUNNEWS/JEPRIMA)

Baca juga: Kurangnya Skill Petani Lokal Jadi Alasan Indonesia Masih Impor Garam meski Punya Lautan Luas

Baca juga: Hebohkan Warga, Uang Puluhan Juta Berceceran di Saluran Irigasi, Seorang Petani Dapat Rp 10 Juta

Di Desa Pucuk terdapat lima dusun yaitu Dusun Wotgaru, Dusun Pucuk paling besar, Dusun Brejel Lor, Dusun Brejel Kidul, dan Dusun Kwarigan.

Dari penduduk Desa Pucuk yang berjumlah 1.100 KK (Kepala Keluarga), sekitar 95 persen bekerja sebagai petani yang rata-rata mempunyai lahan cabai.

Mereka menanam cabai di lahan persawahan pribadi dan sebagian manfaatkan lahan tanaman kayu putih milik Perhutani.

"Paling banyak ya di Dusun Pucuk itu petani cabai yang beli kendaraan, ada yang merenovasi atau membangun rumahnya dari hasil panen cabai," jelasnya.

Nanang menyebut harga cabai dalam masa panen di Dawarblandong tahun 2021 ini memang relatif bagus dan bertahan lama hampir 1,5 bulan.

Harga cabai rawit di tingkat petani dari Rp 50.000 saat awal panen dan pada Februari terus merangkak naik hingga puncaknya mencapai Rp 90.000 hingga Rp 95.000 per kilogram.

Apalagi, saat itu di luar daerah minim ketersediaan cabai sehingga petani di Dawarblandong beruntung mempunyai banyak pasokan.

"Sekali panen memperoleh 2 sampai 3 kwintal, itu setiap seminggu sekali kalau dikalikan sekitar Rp 24 juta dan bisa sampai 10-12 kali panen," bebernya.

3. Petani di Cisarua Lembang Raup Untung Jutaan Rupiah

Di tengah pandemi Covid-19 yang memukul mundur perekonomian di Indonesia, sejumlah petani sayuran di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) justru tuai untung berlimpah.

Salah seorang petani asal Kampung Jambudipa, Ani mengatakan, dirinya kewalahan menerima permintaan pasar yang kian hari kian meningkat.

"Alhamdulillah, dengan bertani saya untung, karena tiap hari permintaan terhadap pasar terhadap sayuran saya terus meningkat," ujarnya saat diwawancarai Tribun Jabar, Minggu (4/4/2021).

Di perkebunan seluas kurang lebih 50 meter persegi miliknya itu, Ani menanam berbagai macam sayuran, mulai dari tomat, brokoli hingga cabai rawit.

Baca juga: Waspada! Cabai Rawit Dicat Merah Ditemukan di Sejumlah Pasar Banyumas, Tak Bisa Larut dalam Air

Baca juga: Mengenal Porang, Umbi yang Dulu Dianggap Makanan Ular Kini Jadi Emas Petani, Segini Harganya

Wanita yang dulunya pekerja pabrik itu mengatakan, dengan bertani pendapatnnya bisa mencapai Rp 5 Juta dalam satu bulan.

"Modal yang saya keluarkan itu kira-kira Rp 10 Juta, jika lancar seperti sekarang saya bisa mendapatkan keuntungan hingga dua kali lipat dari modal, sekitar Rp 5 Juta bahkan lebih," katanya.

Di tengah cuaca ekstrim, sebagai petani, Ani mengatakan harus senantiasa merawat perkebunannya agar hasilnya maksimal dengan harapan.

"Banyak petani yang merawat kebun mereka asal-asalan terus nyalahin cuaca deh, padahal kita sebagai petani bisa mengakali hal itu dengan maksimal merawatnya," pungkas Ani.

4. Petani Cabai di Sidodadi Ramunia Panen 25 Ton Per Hektar meski Cuaca Tak Menentu

Meskipun cuaca panas dan curah hujan rendah terlebih di masa pandemi Covid-19, petani cabai di Dusun Cilacap, Desa Sidodadi Ramunia, Kecamatan Beringin, Deli Serdang justru panen cabai hingga 25 ton per hektar.

Ketua Kelompok Tani Sadar Dusun Cilacap, Muhammad Sofyan mengatakan, tanaman cabai bisa sangat menjajikan jika harganya stabil.

Dia sendiri baru menanam cabai sekitar 6 hingga 7 tahun terakhir. Sebelumnya, dia menanam padi dan kedelai.

Cabai, menurutnya, menjadi harapan baru bagi petani, di luar padi dan kedelai yang kini ditinggalkan.

"Cabai ini menjanjikan kalau harganya stabil dan hasilnya memuaskan. Walaupun juga pernah mengalami kerugian ketika harganya jatuh," kata Sofyan, seperti diberitakan Kompas.com pada Kamis (25/2/2021).

Menurutnya, pandemi Covid-19 berpengaruh ke hampir semua sektor, tak terkecuali petani di Dusun Cilacap ini.

"Perekonomiannya agak berat. Bekerja pun katanya ini itu. Jadi kita kan pening juga. Jadi kita inilah usaha nanam cabai," ujarnya. 

Namun, tanaman cabai bisa menyelamatkan para petani di dusun tersebut.

Dijelaskannya, saat ini di lahan seluas 4 hektar baru dua kali panen. Masih ada sekitar 13 kali panen lagi. Perhitungannya, dari 1 batang bisa menghasilkan 1 - 1,2 kg.

Dalam 1 hektar, dia menanam sekitar 17.000 batang. Jika dikalikan, maka hasil panen cabai mencapai 20 hingga 25 ton.

"Hasil panen per hektar 25 ton dan untuk dijual di lokal saja. Agen datang sendiri kemari," katanya.

(TribunTernate.com/Kompas.com/Surya.co.id/TribunJabar.id)

Penulis: Ronna Qurrata Ayun
Editor: Rizki A
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved