Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Ramadhan 2021

Cerita Islami Pengisi Waktu Ngabuburit: Sebuah Penghargaan untuk Pakaian Mewah

Berikut cerita islami pengisi waktu ngabuburit: Sebuah penghargaan untuk pakaian mewah.

Grid.id
Ilustrasi Gurun dan Unta. (ThoughtCo) 

TRIBUNTERNATE.COM- Mengisi waktu ngabuburit dengan membaca cerita islami dapat menjadi pilihan yang menyenangkan.

Selain menghibur, kita juga dapat mengambil hikmah dari kisah yang kita baca.

Berikut cerita islami pengisi waktu ngabuburit yang dilansir oleh TribunTernate.com dari Islam Can.

Sebuah Penghargaan untuk Pakaian Mewah

Dahulu kala di kota Shiraz di Iran, hiduplah penyair terkenal bernama Syekh Saadi.

Seperti kebanyakan penyair dan filsuf lainnya, Syekh Saadi bukanlah orang kaya.

Dia menjalani hidup yang sangat sederhana.

Seorang pedagang kaya Syiraz mengundang Syekh Saadi bersama dengan banyak pengusaha besar lainnya di kota itu untuk datang ke acara pernikahan putrinya.

Syekh Saadi menerima undangan tersebut dan memutuskan untuk hadir.

Pada hari pernikahan putri pedagang kaya itu, tuan rumah dan keluarganya menerima tamu di pintu gerbang.

Mereka mengantar semua tamu menuju ruang makan.

Semua orang kaya di kota menghadiri pernikahan itu.

Mereka tampil dengan pakaian terbaik mereka.

Baca juga: Cerita Islami Pengisi Waktu Ngabuburit: Maafkanlah Keburukan, Ingatlah Kebaikan  

Baca juga: Cerita Islami Pengisi Waktu Ngabuburit: Kekayaan Luar Biasa yang Diberikan Allah kepada Kita

Syekh Saadi mengenakan pakaian sederhana yang tidak mewah dan tidak mahal.

Dia menunggu seseorang di pojok untuk mendekatinya, tetapi tidak ada yang memberinya pandangan meski hanya sekilas.

Bahkan tuan rumah tidak mengakuinya dan membuang muka.

Melihat semua ini, Syekh Saadi diam-diam meninggalkan pesta dan pergi ke toko tempat persewaan pakaian.

Di sana dia memilih gaun brokat mewah yang disulam dengan emas di pinggirannya.

Dia memilih turban mewah dan ikat pinggang sebagai pelengkap.

Saat dia mengenakan gaun sewaan dan melihat ke cermin, dia melihat dirinya seperti orang yang berbeda.

Setelah itu, ia kembali ke tempat di mana pernikahan anak pedagang kaya itu digelar.

Dia memasuki ruang makan dan kali ini disambut dengan tangan terbuka.

Tuan rumah memeluknya seperti yang akan dia lakukan kepada seorang teman lama dan memujinya atas pakaian yang dia kenakan.

Saat melihatnya, sang pedagang kaya berkata, "Dan inilah penyair favorit kami. Apa yang membuatmu begitu lama, teman? Kami telah lama menunggumu! Baik sekali kamu mau datang. Pertemuan ini pasti tidak akan lengkap tanpa kebaikan kehadiranmu!"

Namun, Saadi tidak mengucapkan sepatah kata pun dan membiarkan tuan rumah membawanya ke ruang makan tempat para tamu lain berkumpul.

Hidangan lezat telah ditata di atas karpet besar.

Saadi ditawari tempat duduk dengan bantal empuk.

Makanan disajikan dengan peralatan makan yang bagus yang terbuat dari perak.

Tuan rumah menyuguhkan makaan kepada Syekh Saadi sendiri.

Ia menyajikan sup ayam dan nasi harum kepadanya. Setelah itu, sesuatu yang aneh terjadi.

Baca juga: Cerita Islami Pengisi Waktu Ngabuburit: Berlomba-lombalah untuk Berbuat Kebaikan

Baca juga: Cerita Islami Pengisi Waktu Ngabuburit: Kisah Salman Al Farisi, Sahabat Nabi yang Rendah Hati

Syekh Saadi mencelupkan ujung mantel pinggangnya ke dalam sup dan menaburkan nasi di atasnya.

Kemudian ia berkata kepada pakaiannya: "Ini pesta untukmu, kamu harus menikmatinya."

Semua tamu menatapnya dengan heran.

Dengan heran, tuan rumah pun ikut bertanya kepada Syekh Saadi, "Tuan, apa yang Anda lakukan? Bagaimana pakaian Anda bisa makan? Dan mengapa mereka harus makan?"

Mendengar pertanyaan ini, Syekh Saadi dengan sangat tenang menjawab:" Teman, saya sungguh terkejut dengan pertanyaanmu "

"Bukankah kamu orang yang sama yang bahkan tidak melihatku ketika aku datang dengan pakaian sederhana. Aku bisa menebak bahwa pakaian dan penampilanku yang penting bagimu, bukan harga diriku. Sekarang aku telah menggunakan pakaian yang mewah, aku melihat perbedaan dalam penerimaan di sini. Semua yang sekarang dapat aku katakan adalah bahwa pesta ini dimaksudkan untuk pakaianku, bukan untukku," ujar Syekh Saadi.

Dari kisah ini, kita dapat menyimpulkan bahwa, tak seharusnya kita menilai seseorang hanya dari penampilannya saja.

Kita harus menghargai semua orang, baik ia kaya, miskin, maupun sederhana.

(TribunTernate.com/Qonitah)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved