Breaking News:

Terkini Internasional

Protes Anti-Kudeta Militer, Aktivis Myanmar Serukan Warga Stop Bayar Tagihan Listrik dan Pinjaman

Aktivis anti-kudeta militer Myanmar menyerukan bentuk protes non-kooperatif kepada masyarakat.

Penulis: Rizki A. Tiara | Editor: Rohmana Kurniandari
AFP/STR via Channel News Asia
Masyarakat memprotes kudeta militer Myanmar. 

"Kami tidak berpartisipasi dalam sistem mereka, kami tidak bekerja sama dengan mereka,” tegasnya.

Para pengunjuk rasa memegang tanda-tanda yang mengecam kudeta militer selama demonstrasi di Yangon pada 6 Februari 2021.
Para pengunjuk rasa memegang tanda-tanda yang mengecam kudeta militer selama demonstrasi di Yangon pada 6 Februari 2021. (STR/AFP)

Baca juga: Selama Protes Anti-Kudeta di Myanmar, Lebih dari 500 Orang Tewas di Tangan Junta Militer

Baca juga: Sosok Aktor Myanmar Paing Takhon yang Ditangkap karena Lawan Kudeta Militer, Pernah Viral Jadi Biksu

Baca juga: Pakar HAM PBB: Militer Myanmar Kemungkinan telah Lakukan Kejahatan Kemanusiaan

Baca juga: 38 Demonstran Anti-kudeta Myanmar Tewas, PBB: Bagaimana Kita Bisa Melihat Situasi Ini Lebih Lama?

Ketika dihubungi, juru bicara junta tidak menjawab telepon yang menanyakan tentang komentarnya.

Aktivis Myanmar mengkritik kesepakatan lima poin yang keluar dari pertemuan ASEAN.

Diketahui, lima poin itu meliputi mengakhiri aksi kekerasan, memulai dialog di antara semua pihak, menerima bantuan, dan menunjuk utusan khusus ASEAN yang akan diizinkan untuk mengunjungi Myanmar.

Namun, tidak disebutkan sama sekali soal tahanan politik, meskipun pertemuan tersebut digelar untuk mendengar seruan pembebasan mereka.

Aung San Suu Kyi, 75, telah didakwa dengan berbagai pelanggaran, termasuk melanggar tindakan rahasia resmi era kolonial yang bisa membuatnya dipenjara selama 14 tahun.

Dia memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1991.

Selain itu, ia telah memimpin perjuangan Myanmar melawan kekuasaan militer selama beberapa dekade terakhir.

Para pedemo memegang tameng buatan sendiri saat unjuk rasa memprotes kudeta militer di Yangon, Myanmar pada 3 Maret 2021.
Para pedemo memegang tameng buatan sendiri saat unjuk rasa memprotes kudeta militer di Yangon, Myanmar pada 3 Maret 2021. (AFP via Aljazeera.com)

Ia memenangkan masa jabatan kedua pada pemilu yang digelar November 2020 lalu.

Namun, militer Myanmar yang kalah dalam pemilu menuduh ada kecurangan dalam pemilu tersebut.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved