Breaking News:

Covid-19 Indonesia Membaik, dr Tirta Beberkan 4 Hal yang jadi Faktor Utama Penurunan Angka Kasus

Covid-19 Indonesia membaik, dokter Tirta beberkan 4 hal yang jadi faktor utama penurunan angka kasus, mulai dari vaksinasi massal hingga PPKM level.

Instagram/dr.tirta
Dokter dan influencer, Tirta Mandira Hudhi. 

TRIBUNTERNATE.COM - Dokter sekaligus influencer Tirta Mandira Hudhi mengakui adanya perbaikan kasus Covid-19 di Indonesia.

Menurutnya, membaiknya kasus Covid-19 di Indonesia benar-benar terjadi dan sebagai tenaga kesehatan, ia telah membuktikannya sendiri.

Hal tersebut disampaikan oleh dokter Tirta melalui sebuah video di kanal YouTube Tirta Peng Peng Peng pada Rabu (8/9/2021).

Diketahui, kasus Covid-19 di Indonesia menunjukkan perbaikan dengan terus menurunnya angka positif, kasus aktif, hingga tingkat keterisian rumah sakit (BOR) karena Covid-19.

Sebelumnya pada bulan Juli-Agustus lalu, dokter Tirta pernah mengatakan bahwa dalam sehari dirinya bisa melayani konsultasi hingga 1.000 pasien di telemedisin.

Namun kini, Tirta mengatakan bahwa angka tersebut telah menurun begitu pula dengan tren kasusnya.

"(Sebelumnya) saya melayani telemedisin setiap hari 600 sampai 1000-an (pasien) per hari, dan memang trennya itu menurun," tutur dokter Tirta dikutip dari kanal YouTube-nya, Rabu (8/9/2021).

Alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) ini juga membenarkan data yang mengatakan bahwa BOR rumah sakit menurun dan stabil di angka 20 persen.

"Kalau kita lihat dari bed occupation rate (BOR) yang ada di rumah sakit itu stabil di angka 20 sampai 30 persen, jauh berbanding terbalik di bulan Juli," katanya.

Influencer sekaligus tenaga kesehatan, dr. Tirta Mandira Hudhi.
Influencer sekaligus tenaga kesehatan, dr. Tirta Mandira Hudhi. (Instagram/dr.tirta)

Lebih lanjut, Tirta pun menyampaikan analisisnya tentang hal-hal yang membuat kasus Covid-19 di Indonesia membaik.

1. Program vaksinasi Covid-19 massal

Menurut Tirta, hal utama yang membuat kasus Covid-19 di Indonesia membaik adalah adanya program vaksinasi massal yang digelar oleh pemerintah dan masyarakat,

"Ada beberapa hal yang menyebabkan perbaikan (kasus Covid-19 di Indonesia), yang pertama adalah kebijakan vaksinasi yang sangat sangat ngebut, kita harus apresiasi kebijakan vaksinasi yang menyediakan vaksinasi massal," ungkapnya.

Sehingga ketika masyarakat sudah divaksin, lanjut Tirta, mereka tidak akan mengalami gejala yang terlalu berat dan tidak perlu dirawat di rumah sakit saat terpapar Covid-19.

Tirta juga menyebut bahwa naiknya kasus positif Covid-19 adalah hal biasa, asalkan tidak membuat seseorang sampai harus menjalani perawatan di rumah sakit.

"Ngebutnya vaksinasi itulah yang membuat akhirnya banyak masyarakat yang sudah divaksinasi. Sehingga kalau terpapar Covid-19 masih bisa ketularan, cuma gejalanya jadi ringan."

"Ini pentingnya, jadi angka positif naik itu nggak apa-apa, tapi dari angka yang positif naik itu tidak menyebabkan penuhnya rumah sakit," ucap Tirta.

Namun demikian, progres vaksinasi Covid-19 masih belum begitu baik di daerah luar pulau Jawa, terlihat dari membludaknya antrean vaksin.

"Tapi ini belum selesai, karena di luar Jawa saya lihat masih banyak teman-teman yang masih antre banyak untuk mendapatkan vaksin, contoh antrean massal di Lampung," katanya.

2. Turunnya harga tes RT PCR dan tes swab antigen

Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo telah menurunkan harga tes swab PCR menjadi maksimal Rp450 ribu sejak pertengahan Agustus.

Lalu, menyusul kebijakan tersebut, harga tes swab antigen juga diturunkan menjadi maksimal Rp99 ribu pada awal September.

Menurut Tirta, penurunan harga testing Covid-19 ini berpengaruh besar terhadap penurunan angka Covid-19 di Indonesia.

Karena dengan begitu, tingkat testing di Indonesia semakin meningkat, karena masyarakat semakin dimudahkan dengan harga tes yang cukup murah.

"Poin kedua adalah semakin murahnya PCR dan semakin murahnya swab antigen yang ada di Indonesia."

"Semenjak kebijakan pak presiden yang membuat murah swab antigen dan lainnya semakin murah, itu membuat tracingnya jadi meningkat, terutama mereka yang ingin mengecek dirinya secara mandiri," ucap Tirta.

Namun, lagi-lagi penurunan harga testing Covid-19 ini belum merata di luar pulau Jawa.

"Tapi, jujur saja di luar Jawa masih ada beberapa yang mahal, lalu ini perlu dievaluasi," kata dokter kelahiran Solo itu.

ILUSTRASI TES PCR COVID-19 - Dalam foto: Petugas medis melakukan tes swab PCR kepada warga tiga RT di RW 03, yaitu RT 01, RT 02 dan RT 08 Sumur Batu, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (14/6/2021).
ILUSTRASI TES PCR COVID-19 - Dalam foto: Petugas medis melakukan tes swab PCR kepada warga tiga RT di RW 03, yaitu RT 01, RT 02 dan RT 08 Sumur Batu, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (14/6/2021). (TRIBUNNEWS/HERUDIN)

3. Kebijakan PPKM Level 0-4

Poin selanjutnya menurut dokter Tirta yang mampu membuat kasus Covid-19 di Indonesia membaik adalah adanya kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang dibagi dalam level-level.

Tirta mengatakan, meskipun di awal mendapat banyak kritikan, PPKM level adalah solusi yang tepat untuk mengendalikan kasus Covid-19.

Kebijakan ini pun telah diterapkan oleh sejumlah negara lain di dunia, salah satunya Inggris.

"Kita mau nggak mau harus mengakui bahwa PPKM level-level yang sempat kita ejek kaya bon cabe ini ternyata adalah solusi untuk perbaikan."

"Sebenarnya ini terlambat, karena PPKM yang berdasarkan level ini sebenarnya sudah diterapkan di Inggris sejak tahun lalu," ucap Tirta.

Seperti diketahui, Indonesia adalah negara kepulauan di mana setiap daerahnya memiliki demografi yang berbeda antara satu dengan lainnya.

Sehingga, cara penanganan Covid-19 nya pun tidak bisa disamaratakan dalam satu negara dan harus disesuaikan dengan daerah masing-masing.

Untuk itu, Tirta menyebut, PPKM level adalah kebijakan yang tepat untuk mengendalikan dan membuat kasus Covid-19 di Indonesia membaik.

"PPKM yang benar itu adalah ketika PPKM level ini tidak dipukul rata, tapi dibuat disesuaikan dengan daerah masing-masing."

"Itulah yang menyebabkan angka Covid-19 di negara kita semakin terkontrol," imbuhnya.

4. Turunnya jumlah berita palsu/hoaks

Hal terakhir, menurut Tirta, yang membuat kasus Covid-19 di Indonesia turun signifikan adalah menurunnya berita palsu atau hoaks.

Seperti diketahui, sejak awal Covid-19 ada di Indonesia tak sedikit berita hoaks yang bertebaran, khususnya di dunia maya.

Bahkan, sejumlah tokoh publik pun ikut andil dalam penyebaran berita hoaks tersebut.

Sehingga, masyarakat yang mempercayai tokoh publik tersebut ikut percaya dengan hoaks yang disebarkan.

Namun, saat ini berita hoaks sudah jauh lebih kecil frekuensinya dan berita-berita yang benar sudah jauh lebih dipercaya.

Hal ini, menurut Tirta, adalah hal penting yang juga berperan besar dalam membaiknya kasus Covid-19 di Indonesia.

"Yang terakhir adalah turunnya penyebaran berita hoaks."

"Jadi, semenjak berita hoaks ini diklarifikasi terus-menerus, kita tahu berita palsu itu selalu beredar lebih cepat daripada berita asli."

"Semenjak berita benar ini lebih bagus dan lebih viral dan semenjak berita hoaks ini turun, kita lihat Covid-19 lebih mudah dikontrol," terangnya.

Lebih jauh, Tirta mengatakan bahwa Covid-19 dan hoaks sama-sama berbahaya, sehingga bukan hanya Covid-19 saja, tetapi hoaks juga harus ditangani secara serius.

"Jadi, sebenarnya yang berbahaya itu bukan hanya Covidnya, tetapi berita palsu yang beredar di belakang Covid," tandas dokter yang akrab disapa Cipeng itu.

Video selengkapnya:

(TribunTernate.com)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved