Breaking News:

EU Tambahkan Gangguan Saraf Sindrom Guillain-Barre sebagai Efek Samping Langka Vaksin AstraZeneca

EMA telah menambahkan gangguan kerusakan saraf yang sangat langka, sindrom Guillain-Barre (GBS), sebagai kemungkinan efek samping vaksin AstraZeneca.

Penulis: Qonitah Rohmadiena | Editor: Rizki A
flickr
Vaksin AstraZeneca - Regulator obat-obatan Eropa (EMA) telah menambahkan gangguan kerusakan saraf yang sangat langka, sindrom Guillain-Barre (GBS), sebagai kemungkinan efek samping dari vaksin Covid-19 AstraZeneca. 

TRIBUNTERNATE.COM - Regulator obat-obatan Eropa telah menambahkan gangguan kerusakan saraf yang sangat langka, sindrom Guillain-Barre (GBS), sebagai kemungkinan efek samping dari vaksin Covid-19 AstraZeneca.

Hal ini dinyatakan dalam pembaruan keamanan rutin dari Badan Pengawas Obat Eropa (EMA), seperti dikutip dari The Straits Times.

EMA menyatakan ada hubungan sebab akibat antara sindrom GBS dan suntikan vaksin AstraZeneca, setelah ditemukannya 833 kasus sindrom GBS yang dilaporkan dari 592 juta dosis vaksin yang diberikan di seluruh dunia mulai 31 Juli 2021.

Namun, EMA mengkategorikan efek samping sidrom GBS sebagai "sangat jarang".

Kategori "sangat jarang" berarti frekuensi terendah dari kategori efek samping yang dimilikinya, dan telah menekankan bahwa manfaat dari vaksin tersebut lebih besar daripada risikonya.

Baca juga: CDC: Orang yang Tidak Divaksin 11 Kali Lebih Mungkin Meninggal karena Covid-19

Baca juga: Soroti Dugaan Pelecehan di KPI, Ernest Prakasa Blokir Nomor Agung Suprio: Saya Sudah Tak Percaya

Baca juga: Wacana Jabatan Presiden 3 Periode: Fadjroel Rachman Tegaskan Jokowi Menolak, Ini Kata Pengamat

Sementara itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (AS) telah menambahkan peringatan tentang sindrom GBS sebagai kemungkinan efek samping dari vaksin Johnson & Johnson.

Kedua vaksin tersebut sama-sama menggunakan teknologi vektor virus.

Kemudian, keduanya juga telah dikaitkan dengan efek samping pembekuan darah yang langka.

EMA juga menandai beberapa efek samping lain yang tidak terlalu parah pada vaksin dari Johnson & Johnson, Moderna serta vaksin AstraZeneca.

Dua dosis vaksin AstraZeneca ampuh lawan varian Delta

Sebuah penelitian oleh Public Health England menyatakan bahwa dua dosis vaksin Covid-19 Pfizer-BioNTech dan AstraZeneca hampir sama efektifnya dalam melawan varian Delta.

Hasil penelitian ini diterbitkan dalam New England Journal of Medicine pada Rabu (21/7/2021).

Menurut penelitian ini, dua dosis suntikan Pfizer-BioNTech hasilnya 88 persen efektif mencegah penyakit simtomatik dari varian Delta, dan 93,7 persen efektif terhadap varian Alpha.

Secara umum, ini hampir sama seperti yang dilaporkan sebelumnya.

Selain itu, ditemukan juga bahwa dua suntikan vaksin AstraZeneca, 67 persen efektif terhadap varian Delta, naik dari pengujian sebelumnya yang hanya 60 persen.

Sementara itu, AstraZeneca juga 74,5 persen efektif terhadap varian Alpha, naik jika dibandingkan dengan perkiraan awal efektivitas yakni sebesar 66 persen.

"Hanya perbedaan kecil dalam efektivitas vaksin yang dicatat dengan varian Delta dibandingkan dengan varian Alpha setelah menerima dua dosis vaksin," tulis peneliti Public Health England dalam penelitian tersebut seperti dikutip dari Tribunnews.com.

Namun hasil studi ini menegaskan, satu dosis vaksin belum cukup untuk memberikan perlindungan maksimal.

Ilustrasi vaksin Covid-19 dari Universitas Oxford dan AstraZeneca, foto diambil pada 23 November 2020.
Ilustrasi vaksin Covid-19 dari Universitas Oxford dan AstraZeneca, foto diambil pada 23 November 2020. (JOEL SAGET / AFP)

Kesehatan Masyarakat Inggris sebelumnya mengatakan bahwa dosis pertama dari kedua vaksin itu sekitar 33 persen efektif terhadap penyakit simtomatik dari varian Delta.

Studi lengkap yang diterbitkan pada hari Rabu ini menemukan bahwa satu dosis suntikan Pfizer-BioNTech adalah 36 persen efektif, dan satu dosis vaksin AstraZeneca sekitar 30 persen efektif.

"Temuan kami tentang penurunan efektivitas setelah dosis pertama akan mendukung upaya untuk memaksimalkan penyerapan vaksin dengan dua dosis di antara kelompok rentan dalam konteks peredaran varian Delta," kata penulis penelitian.

Hasil penelitian ini mengonfirmasi temuan utama oleh Public Health England pada Mei lalu tentang kemanjuran vaksin Covid-19 yang dibuat Pfizer-BioNTech dan Oxford-Astrazeneca yang berdasarkan data riil.

Sementara, data dari Israel memperkirakan efektivitas suntikan Pfizer-BioNTech yang lebih rendah terhadap penyakit bergejala, meskipun perlindungan terhadap penyakit parah tetap tinggi.

(TribunTernate.com/Qonitah)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved