Pulaunya Sangat Indah dan Bersejarah, Morotai Harus Perkuat Identitas Budaya dan Wisata
Kekurangan Morotai saat ini Tidak Punya Identitas Budaya dan Wisata, Ini Sebabnya
Penulis: Fizri Nurdin |
TRIBUNTERNATE.COM - Morotai merupakan daerah pulau yang indah, bersejarah dengan budaya masyarakatnya yang khas.
Selain punya Spot Wisata yang indah, Morotai juga salah satu pulau bersejarah sepanjang masa
Selain dihuni oleh Suku Tobelo Galela, Morotai juga dihuni beragam suku lain.
Reporter Tribunternate.com, Rabu (18/5/2022) mencoba menanyakan beberapa pecinta pariwisata di Kabupaten Pulau Morotai.
Sejumlah pecinta budaya dan wisata mengungkapkan tanggapan beragam terhadap pembangunan wisata maupun pembangunan kultur budaya yang ada di Morotai.
Mulkan Hi Sudin, Ketua Desa Wisata di Desa Galo-galo ini mengatakan, Masyarakat Morotai tidak punya identitas untuk kultural budaya bahkan pada tingkat ciri khas bagi Mulkan Morotai belum punya itu.
"Hari ini torang (kita) mengklaim identitas sementara kita tidak punya bukti, kalau bilang kita orang Tobelo Galela dimana torang (kita) punya identitas? sehingga kalau kita bicara tentang kultural, bicara tentang kebudayaan, bicara tentang ciri khas kebudayaan nyaris torang (kita) tidak punya referensi soal itu,"katanya.
Menurut Mulkan, menggunakan bahasa Tobelo Galela sebagai bahasa mayoritas di Morotai, tapi kultur dan identitas tidak bisa ditunjukan, juga dari sisi pembangunan juga Baginya harus bersamaan dengan kultur budaya.
"Saya bilang bahwa pembangunan harus melihat kultur, pembangunan harus melihat kebudayaan, masyarakat disini, jadi pembangunan tidak bisa melupakan ataukah meninggalkan nilai identitas dan kultural masyarakat di Morotai,"cetus Mulkan.
Bagi Mulkan, Bicara pariwisata kita tentu bicara kultural, bicara kebudayaan itu sebagai nilai tawar pariwisata, Bali maju selain dari faktor pembangunan di sektor jasa, dan juga di sektor kebudayaan.
Di Morotai ini untung punya pulau indah, punya pasir putih dan punya pantai yang bagus, punya terumbu karang yang bagus andaikan kalau itu tidak ada tidak ada apa-apa
Nah sehingga dibutuhkan inovasi anak-anak mudah juga, bahwa pemerintah harus mengajak, pemerintah harus memfasilitasi terutama anak-anak mudah yang kreatif untuk menumbuhkan inovasi di Morotai untuk menumbuhkan inovasi di Morotai dalam rangka mendorong pariwisata di Morotai.
"kalau misalkan pemerintah membangun lalu tidak ada keterlibatan anak-anak mudah terutama di Morotai, yah pembangunan yang ada pasti dalam benak pemerintah bangun Mall, karena dorang (mereka) berfikir pendapat cepat dapa doi (uang) PAD cepat banyak begitu,"
"Tapi dorang tidak pikir bahwa pembangunan yang berbasis pada pemberdayaan, pembangunan yang mengutamakan masyarakat agar punya peluang kerja agar bisa berinovasi dan itu menjadi nilai ekonomi untuk kehidupan hari-hari di Morotai,"ujarnya.
Hal yang sama juga diutarakan Aslan Pecinta Budaya, wisata, dan sejarahnya Morotai, mengungkapkan Morotai memiliki banyak cerita historisnya.
Morotai itu banyak cerita, mulai dari Carita orang mangael (mancing) sampai pada orang berperang di negeri ini.
Karena itu Morotai terbentuk dari canga dalam bahasa Galela itu orang pigi mangael (Mancing) pigi menelusuri laut sampai peperangan, (perang dunia II)
Karena sebelumnya harus ada identitas yang menjadi identik sebagai simbol menjadi simbol sebuah daerah
"Saya ingin katakan bahwa soal panorama alam itu di daerah lain juga ada, tapi cerita yang tertanam tidak semua ada karena itu Morotai harus ada cerita, soal etnis misalkan suku Tobelo Galela (Togale) masuk di Morotai itu harus dipajang di museum atau di tempat-tempat publik,"
"Karena itu saya menawarkan ada meseum terbuka, ada yang prasastinya, replikanya tentang perang dunia II, dan tentang pemekaran, Kalau ada patung Bung Karno, kenapa tidak ada Patong Imam Lastori, atau Kiyai Hi Ahmad Syukur,"pintahnya.
Selain itu Aslan mengaku, Dengan sejuta budaya, tarian yang ada kenapa tidak ada yang memajang soal sejarah itu sehingga memudahkan pengunjung untuk ke mOrotai bahwa ini lah Morotai.
"Kalau ada tarian-tarian hari ini dilakukan di Festival, Tokuwela, tide-tide, cakalele dan lainnya kenapa tidak ada prasasti tentang itu, yang menjelaskan makna terselubung itu harus ada museum terbuka di titik kota biar menjadi magnet bagi bagi tamu yang datang,"ujarnya.
Selain itu Aslan berujar, Jika Wisata di Morotai dikenal oleh orang diluar sana kenapa tidak ada pajangan-pajangan kuliner dan pakaian adat untuk di perlihatkan bahwa ini morotai.
"Sebetulnya di tempat-tempat toko itu harus dititipkan kerajinan kuliner, orang Belanja itu ada pajangan kuliner di dalam setiap toko, dan setiap hotel itu harus ada pakaian adat biar Togalenya muncul disitu,"ujarnya.
Menurut Aslan harusnya pemerintah Daerah melalui DPRD buatlah satu perda mengatur soal itu.
"Jadi pemerintah daerah dalam hal ini DPRD membentuk Perda, setiap hotel yang membuka disini harus menggunakan kostum budaya, sehingga orang melihat Oh ini baju Tobelo Galelanya. baik di Hotel di Bandara di pelabuhan Feri pelabuhan besar, jadi harus ada identitas Baju yang dipajang untuk promosi wisata,"
Jadi Morotai lahir sama dengan Cina, Cina itu hanya tembok yang mati, tapi dibalik dinding tembok itu banyak catatan-catatan dari Yen, Yan, young, jacis Pau dan lainnya
"Cina mahal di permukaan mahal di dunia karena dengan cerita maka Morotai banyak cerita itu harus diangkat, Selaku anak muda di Morotai yang kami tawarkan harus ada identitas untuk menarik wisatawan yang berkunjung di Morotai,"pungkasnya.
Sementara Haikal Samlan Aktivis Pecinta lingkungan dan Wisata Morotai mengaku, mempromosikan lebih jauh wisata di Morotai, harus ada kreatif atau Cinderamata bagi pengunjung yang datang di Morotai.
Dodola salah satu pulau ikon wisata di Morotai itu harusnya ada punya tanda mata bagi pengunjung
"Misalnya dibuat semacam kreatif begitu supaya para pengunjung ada punya oleh-oleh bagi wisatawan, jadi terkesan bukan hanya datang begitu,"
"Maksimal ada Cendera mata, jadi mereka para pengunjung ini seperti datang hanya tempat persinggahan biasa saja, karena selama ini belum ada seperti itu."singkat Haikal mengakhiri.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/dodola-1.jpg)