Kebangkrutan Sri Lanka: Ekonomi Terpuruk Bermula dari Pemotongan Pajak Besar oleh Presiden Rajapaksa

Kebangkrutan Sri Langka karena negara itu telah gagal untuk membayar 78 miliar dolar AS dalam pembayaran bunga utang pada tahun 2022.

Editor: Rizki A
AFP/Ishara S. Kodikara
Masyarakat antre membeli barang kebutuhan sehari-hari di tengah kebangkrutan Sri Lanka. 

TRIBUNTERNATE.COM - Sri Lanka saat ini tengah mengalami kebangkrutan sekaligus krisis ekonomi terburuk sejak kemerdekaan.

Kebangkrutan Sri Langka karena negara itu telah gagal untuk membayar 78 miliar dolar AS dalam pembayaran bunga utang pada tahun 2022.

Akibatnya, masyarakat Sri Lanka dilanda kekurangan bahan pangan, bahan bakar, hingga listrik selama beberapa bulan terakhir.

Perdana Menteri Sri Lanka, Ranil Wickremesinghe mengatakan pada parlemen bahwa saat ini negaranya tengah menghadapi situasi yang serius.

 

Kebangkrutan dapat secara serius merusak kepercayaan investor di suatu negara.

Sehingga, hal ini membuat Sri Lanka lebih sulit untuk meminjam uang di pasar internasional dan mengancam nilai mata uangnya.

Selain itu, Sri Lanka juga kekurangan mata uang asing untuk belanja dari luar negeri.

Diberitakan sebelumnya, kekurangan uang asing tersebut terjadi selama berbulan-bulan.

Kekurangan bahan makanan dan bahan bakar menyebabkan harga melambung.

Adanya pemadaman listrik dan kurangnya obat-obatan telah membawa sistem kesehatan Sri Lanka ke ambang kehancuran.

Tagihan impor Sri Lanka juga makin bertambah.

Baca juga: Update Insiden Tewasnya Anak Buya Arrazy: Keluarga Ikhlas, Polisi Pemilik Senjata Tetap Diperiksa

Baca juga: Gempa Bumi Magnitudo 5.9 Guncang Afghanistan: 1.000 Orang Lebih Tewas, Bagaimana Respon Taliban?

Baca juga: Sri Lanka Bangkrut, Apa Penyebabnya? PM Ranil Wickremesinghe Sebut Negaranya Jatuh ke Titik Terendah

Bertambahnya tagihan impor karena pada akhir perang saudara 2009 lalu, Sri Lanka berfokus menyediakan barang untuk pasar domestik ketimbang masuk ke ekspor.

Akibatnya, pendapatan ekspor rendah, namun tagihan impor terus melambung.

Sri Lanka sekarang mengimpor 3 miliar dolar AS lebih banyak daripada ekspornya setiap tahun, dan itulah sebabnya ia kehabisan cadangan mata uang asing.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved