Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan

Tragedi Stadion Kanjuruhan, Komnas HAM Ungkap Kondisi Chaos Saat Gas Air Mata Ditembakkan

Choirul Anam mengatakan hasil investigasi Kanjuruhan termasuk ditemukannya penyebab utama ratusan korban tewas, yakni karena gas air mata.

Editor: Rizki A
SURYA/PURWANTO
Sejumlah suporter berdoa di depan pintu masuk tribun 12 Stadion Kanjuruhan pascakerusuhan yang menelan banyak korban jiwa, di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Selasa (4/10/2022). Sejumlah saksi mata mengatakan, pintu tribun ini menjadi saksi bisu banyaknya korban suporter Aremania yang meninggal dunia usai laga sepak bola Liga 1 antara Arema FC kontra Persebaya Surabaya, Sabtu (1/10/2022) malam. 

TRIBUNTERNATE.COM - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menjadi salah satu pihak yang turut menyelidiki kerusuhan berdarah di Stadion Kanjuruhan.

Diketahui, insiden desak-desakan terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur setelah digelarnya laga Derby Jawa Timur, Arema FC vs Persebaya dalam pekan 11 Liga 1 musim 2022-2023, Sabtu (1/10/2022).

Dalam laga tersebut, tim tuan rumah, Arema FC, menelan kekalahan 2-3 dari Persebaya Surabaya.

Kemudian, pendukung Arema FC turun ke lapangan untuk menemui ofisial dan pemain tim idola mereka

Namun, turunnya para pendukung Arema FC di area lapangan Stadion Kanjuruhan malah direspon oleh polisi dengan penembakan gas air mata.

Akibat gas air mata yang ditembakkan ke arah lapangan dan tribun, para penonton mulai panik, merasa sesak napas dan mata pedih, serta berebutan mencari pintu keluar.

Insiden berdarah dalam berdesak-desakan ini pun menjadi sorotan internasional dan disebut-sebut peristiwa sepak bola terkelam nomor dua di dunia.

Hingga 10 hari pasca-kejadian, jumlah korban tewas dalam tragedi maut di Stadion Kanjuruhan telah mencapai 132 orang.

Terkini, Komnas HAM telah mengungkapkan hasil investigasinya soal tragedi di Stadion Kanjuruhan.

Komisioner Komnas HAM Choirul Anam mengatakan hasil investigasi Kanjuruhan termasuk ditemukannya penyebab utama ratusan korban tewas, yakni karena gas air mata.

Choirul Anam juga mengatakan soal adanya kepanikan sebelum jatuhnya korban tewas, yakni di tribun juga di pintu 13 stadion.

Choirul Anam menemukan bahwa, begitu gas air mata ditembakkan polisi ke arah tribun penonton, maka kepanikan langsung terjadi.

Para penonton yang panik tidak hanya merangsek dan berdesak-desakkan berusaha keluar stadion, tetapi juga melemparkan sepatu-sepatu mereka.

Baca juga: Komnas HAM Sudah Kantongi Video Tragedi Stadion Kanjuruhan yang Sempat Direkam Korban Tewas

Baca juga: Sujud Massal Polresta Malang: Keluarga Korban Kanjuruhan Tanggapi Biasa, Pengamat Sebut Tak Perlu

Baca juga: Ada Gas Air Mata Expired di Tragedi Kanjuruhan, Polisi: Justru Kemampuannya Menurun

“Begini kalau teman-teman melihat dengan jelas di video, yang dilempar-lempar itu adalah sepatu, jadi kami menemukan banyak sepatu di lapangan dan itu dilempar-lempar itu karena panik gas air mata,” terangnya, dikutip dari tayangan YouTube Kompas TV, Rabu (12/10/2022).

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved