Halmahera Selatan
Kisah Ali Laode Uma, Tukang Becak di Halmahera Selatan: Saya Bisa Bangun Rumah dan Sekolahkan Anak
Kisah Ali Laode Uma, seorang yang berprofesi sebagai tukang Becak di Halmahera Selatan, yang bisa bangun rumah dan sekolahkan anaknya.
Penulis: Nurhidayat Hi Gani | Editor: Munawir Taoeda
TRIBUNTERNATE.COM, BACAN - Pagi itu, embun belum habis jatuh dari dedaunan pohon. Ali Laode Uma (53) sudah mulai bersiap ke pusat Kota Labuha, Halmahera Selatan.
Bermodalkan satu buah Becak tua miliknya, Ali memulai aktivitas. Berharap ada sedikit pundih-pundih rupiah, untuk dipulangkan ke rumah.
Inci demi inci, Ali mendayung becak yang ditungganginya. Menyusuri jalan di sudut-sudut wilayah "Bumi Saruma" itu, untuk mencari penumpang.
Kepada TribunTernate.com, Ali bercerita, 13 tahun silam ketika menginjakkan kaki di Pulau Bacan, Halmahera Selatan. Dia pernah menggeluti beberapa profesi, satu diantaranya kulih bangunan.
Baca juga: Jadwal Kapal Ternate 15 Oktober 2022: KM Sinabung rute Ternate-Bitung-Baubau-Makassar-Surabaya
"Dulu pernah jadi kulih bangunan juga. Itu sebelum bawa Becak, "kata Ali, Sabtu (15/10/2022).
Namun ketika beralih profesi jadi tukang Becak, Ali mulai menenamkan niatnya untuk merubah hidup. Ayah dua anak itu, setiap hari berpacu di bawah terik matahari demi anak-anak dan istri.
Niat memiliki rumah sendiri di Desa Amasing Kali, Kecamatan Bacan, akhirnya tercapai setelah 8 tahun mendayung Becak. Tentu, dengan rajin menabung.
"Alhamdulillah selama 8 tahun bisa bangun rumah sendiri, biar tidak terlalu besar dan sederhana. Anak satu juga sudah lulus SMA, "cerita Ali.
Pria kelahiran 15 November tahun 1969 ini mengaku, profesi sebagai tukang Becak, perlu kesbaran yang kuat.
Sebab, tidak setiap hari mendapat penumpang dengan lancar. Apalagi, sekarang sudah banyak driver ojek pangkalan dan angkutan umum.
"Karena setiap hari kita tidak bisa dapat penumpang terus. Sekarng kan ojek juga sudah banyak, "ucapnya.
Suami dari Aisah Hairudin ini, menjadikan sekitaran pinggir jalan di pasar Labuha untuk mangkal. Ia dan teman-teman seprofesinya, kerap kali berkumpul mangkal bersama.
Ali menyebut, dalam satu hari mendayung kendaraan tradisional roda tiga itu, ia bisa mendapatkan Rp 80 hingga Rp 90 ribu.
"Kalau sunyi itu palingan Rp 50 ribu. Rp 80 ribu ity sukur-sukur kalau ada penumpang bawa barang, pasti ada tambahan bayaran, "ujarnya.
Menurutnya, dia dan teman-teman seprofesi bisa mendapat hasil lumayan banyak, ketika hari-hari besar. Seperti di bulan suci Ramadan dan jelang hari lebaran.
Baca juga: Karena Tak Diakomodir Menpan RB, BKD Halmahera Utara Siasati 3 Jabatan Non-ASN dengan Jadikan PPPK
"Kalau bulan puasa dengan lebaran itu lumayan. Karena orang dari pulau di muka bacan ini, datang belanja, "jelasnya.
Dia juga berharap, kendaraan tradisional berupa Becak di Bacan Halmahera Selatan, tidak punah atau habis masa. Seperti di Sidangoli Halmahera Selata dan Sofifi.
"Muda-mudahan tara (tidak) sama kaya Sidangoli, sekarang itu Becak sudah mulai habis, "harap Ali menfakhiri. (*)