Liputan Khusus
Rupiah Melemah Terhadap Dollar AS, Harga Cabai dan Bawang di Maluku Utara Melonjak
Kenaikan harga bawang merah di Maluku Utara dipicu oleh menurunnya hasil panen di daerah sentra produksi seperti Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Penulis: Sansul Sardi | Editor: Munawir Taoeda
"Kalau sebelumnya distributor meminta 20 kontainer dan bisa langsung dipenuhi, sekarang dengan permintaan yang sama hanya mendapat satu kontainer."
"Bahkan untuk merek Filma, sudah dua bulan terakhir tidak lagi masuk ke Ternate, "ungkapnya.
Sementara itu, harga telur dan ayam ras masih tergolong stabil. Harga telur saat ini berada di kisaran Rp 2.100 hingga Rp 2.200 per butir dan masih dalam kategori normal.
Di sisi lain, kenaikan biaya transportasi juga turut memengaruhi harga sejumlah komoditas pangan.
Abdu menjelaskan, tarif pengiriman kontainer mengalami kenaikan sehingga berdampak pada biaya distribusi barang ke Maluku Utara.
"Biaya transportasi memang naik dan itu ikut memengaruhi harga beberapa komoditas pangan, "ujarnya.
Terkait kelangkaan minyak goreng dan tingginya harga bahan pokok, pihaknya berencana mendorong pelaksanaan operasi pasar bersama Bank Indonesia (BI) dan instansi terkait.
Akan tetapi keterbatasan anggaran masih menjadi kendala utama.
"Kami berharap bisa bekerja sama dengan BI untuk menggelar operasi pasar sebagai langkah mengendalikan harga dan menjaga ketersediaan stok di pasaran, "katanya.
Abdu juga mengakui harga LPG mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir.
Kondisi tersebut dipengaruhi perubahan jalur distribusi karena pasokan LPG untuk Maluku Utara kini didatangkan melalui Ambon.
"Pengadaan LPG sekarang melalui Ambon. Karena membutuhkan tambahan biaya transportasi, tentu berdampak pada harga di tingkat distributor maupun konsumen, "jelasnya.
Untuk jangka panjang, Disperindag menilai solusi utama mengendalikan harga cabai, bawang, dan tomat adalah meningkatkan produksi lokal di Maluku Utara.
Baca juga: Dampak Rupiah Melemah, Harga Roti Bakar di Ternate Naik Jadi Rp 23 Ribu per Porsi
Selain itu, pemerintah juga perlu mempertimbangkan pemberian subsidi transportasi agar biaya distribusi dari daerah produsen tidak membebani harga di tingkat konsumen.
"Jika produksi lokal meningkat, ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah bisa berkurang."
"Alternatif lainnya adalah subsidi transportasi agar harga yang sampai ke masyarakat tidak terlalu tinggi, "tandas Abdu. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/Dampak-melemahnya-rupiah-terhadap-harga-penjualan-di-Maluku-Utara.jpg)