Benny Tjokro & Heru Hidayat Siap Bayar Utang Asabri, Said Didu: Kembalikan Juga Uang di Jiwasraya!
Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu menanggapi pertanggungjawaban Benny Tjokrosaputro atau Benny Tjokro dan Heru Hidayat.
TRIBUNTERNATE.COM - Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu menanggapi pertanggungjawaban Benny Tjokrosaputro atau Benny Tjokro dan Heru Hidayat.
Sebelumnya, Direktur Utama PT Asabri (Persero) Sonny Widjaja mengungkapkan, investasi perusahaan di grup usaha Benny Tjokro dan Heru Hidayat membuat aset perusahaan turun.
Terkait hal tersebut, Sonny menyebut, Benny dan Heru mau bertanggung jawab dan bersedia mengganti investasi perusahaan sebesar Rp 10,9 Triliun.
“Akhirnya mereka komitmen, Anda (anggota DPR) saya berikan berkasnya, beliau sudah tanda tangan notariat, potensi kembali, kalau saya gabung dua orang, dua orang kurang lebih akan ketemu Rp 10,9 triliun," ujar Sonny saat rapat dengar pendapat di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (29/1/2020), dilansir Kompas.com.
Sonny mengaku telah meminta pertanggung jawaban kedua orang tersebut pada pertengahan 2019 lalu.
• Siapa yang Bakal Susul Suryo Prabowo, Sjafrie Sjamsoedin dan Said Didu Bantu Prabowo di Kemenhan?
“Tanggung jawab beliau sudah kita minta karena pertengahan 2019 ketika sahamnya semakin menurun tidak perubahan, tidak ada recovery yang bersangkutan kita panggil. Kita minta pertanggungjawaban, karena saya bilang uang prajurit dan Polri mereka bersenjata," kata Sonny.
Sonny menjelaskan, total aset Asabri pada 2018 tercatat sebesar Rp 19,4 triliun.
Lalu pada 2019, tercatat aset perseroan tersebut menurun menjadi Rp 10,6 triliun.
Namun, laporan keuangan Asabri di 2019 belum diaudit.
“Ini terjadi karena penurunan nilai saham dan reksa dana. Dan yang menonjol adalah saham dan reksa dana dua orang yang menjadi tetangga sebelah kita," ucap dia.
Menanggapi hal itu, Said Didu melalui akun Twitternya, @msaid_didu, menyinggung soal perampokan di Asabri.
Sahabat Mahfud MD itu menyebut jika perampok Asabri sudah mengaku.
Tak hanya Asabri, Said Didu menyebut jika Benny dan Heru juga melakukan 'perampokan' di Jiwasraya.
Lebih lanjut, ia memaksa publik untuk meminta Benny dan Heru agar mengembalikan uang yang dirampok di Jiwasraya.
Di akhir cuitannya, Said Didu menegaskan jika mengembalikan uang bukan berarti terbebas dari pidana.
"Nah - siapa yg katakan tdk ada perampokan di Asabri ? Ini perampoknya sdh ngaku.
Orang ini juga yg lakukan hal yg sama di Jiwasraya.
Ayo paksa juga mereka kembalikan uang rampokan di Jiwasraya.
Tapi ingat, pengembalian uang tdk menghilangkan pidana," tulis Said Didu, Kamis (30/1/2020).
• Jadi Tersangka Jiwasraya, Heru Hidayat Antisipasi Terjerat Asabri, Akan Kembalikan Kerugian Negara
Benny Tjokro Masuk Daftar Orang Terkaya RI
Skandal di PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dan PT Asabri (Persero) menyeret nama Benny Tjokrosaputro atau Benny Tjokro.
Dia merupakan Direktur Utama PT Hanson International.
Namanya beberapa kali dikaitkan dengan masalah yang saat ini membelit Jiwasraya dan Asabri.
Ini lantaran dua BUMN asuransi tersebut menempatkan dana investasi besar di perusahaan propertinya.
Majalah Forbes tahun lalu memasukkan Benny Tjokro dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia tahun 2018. Cucu dari Kasom Tjokrosaputro, sang pendiri grup usaha Batik Keris, ini berada di urutan ke-43, seperti dilansir dari Kompas.com.
Forbes menaksir kekayaan pria yang lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 15 Mei 1969, ini mencapai 670 juta dollar AS atau sekitar Rp 9,18 triliun (kurs Rp 13.707 per dollar AS).
Lulus dari Trisakti, Benny Tjokro langsung terjun langsung dalam aktivitas investasi, baik di pasar modal maupun pasar uang. Bermain di pasar saham bahkan sudah dilakukannya sebelum lulus kuliah dengan menyisihkan sebagian uang sakunya.
Dikutip dari Bloomberg, selain menjabat sebagai CEO PT Hanson International Tbk, dirinya juga menjabat sebagai direksi di PT Sinergi Megah Internusa Tbk dan PT Suba Indah Tbk. Benny Tjokro juga didapuk menjadi komisaris utama di PT Armidian Karyatama Tbk.
• Benny Tjokro dan 2 Orang Lainnya Ditahan Kejaksaan Agung dalam Kasus Jiwasraya
Gonta-ganti bisnis
Dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Hanson merupakan perusahaan properti. Bisnisnya juga masuk ke ranah pertambangan, khususnya batu bara.
Perusahaan ini berdiri pada 1971 dengan usaha tekstil. Kendati demikian, pada tahun 2008, perusahaan mengumumkan banting setir dengan fokus menggarap bisnis tambang.
Alasannya, usaha tekstil tengah lesu, sementara saat itu bersamaan dengan masa booming harga komoditas batu bara.
Untuk merealisasikannya, Hanson International melepas kepemilikan 99,99 persen saham di PT Primayudha Mandirijaya (PMJ), anak perusahaannya di bidang pertekstilan, kepada PT Bitratex Indonesia.
Saat itu, Hanson mengincar tambang batu bara di Kalimantan Timur dan Sumatera Barat lewat perusahaan afiliasinya, PT Hanson Energy.
Dari batu bara, perusahaan ini kembali mengubah bisnis utamanya menjadi perusahaan landbank properti tahun 2013 setelah mendapatkan lebih dari 4.900 hektar lahan.
Dikutip dari laman resminya, PT Hanson International Tbk saat ini memfokuskan diri untuk membangun kawasan kota di Maja dan Serpong dengan target segmen menengah dan menengah ke bawah.
PT Hanson International Tbk mengklaim sebagai salah satu perusahaan landbank properti terbesar di Indonesia yang memiliki hampir 5.000 hektar lahan untuk dikembangkan di area Jakarta dan sekitarnya, seperti Serpong, Maja, Cengkareng, dan Bekasi.
Beberapa proyek yang dikerjakannya antara lain Citra Maja Raya 1, Citra Maja Raya 2, Forest Hill, dan Millenium City.
Selain usaha properti yang dikelola lewat PT Mandiri Mega Jaya, perseroan juga merambah usaha pertambangan lewat anak usahanya, PT Binadaya Wiramaju, kemudian pengolahan limbah di bawah bendera PT De Petroleum International.
(TribunTernate.com/Rohmana Kurniandari, Kompas.com)