Ganjar Cek Kesiapan New Normal di Sekolah, Yunarto: Gak Ada Alasan Terburu-buru, kecuali Ekonomi
Ganjar mengatakan, meski sarana publik tidak dibuka dalam waktu dekat, namun persiapan tetap harus dihitung secara matang.
TRIBUNTERNATE.COM - Pengamat politik Yunarto Wijaya memberikan tanggapan atas langkah yang diambil Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, dalam mempersiapkan penerapan new normal.
Sebelumnya, Ganjar mengatakan, meski sarana publik tidak dibuka dalam waktu dekat, namun persiapan tetap harus dihitung secara matang.
“Wali Kota Semarang masih memperpanjang Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM). Namun, kita harus siap seandainya grafik turun. Kan tidak bisa seperti membuka pintu air,” kata Ganjar, seperti dalam keterangan tertulisnya, dilansir dari Kompas.com.
Ganjar mengatakan, penetrasi awal harus dilakukan agar masyarakat terbiasa.
Untuk itu, setelah pada Selasa (26/5/2020) dirinya mengecek mall dan perkantoran, pada Rabu (27/5/2020) Ganjar mengecek sekolah dan tempat ibadah.
Sekolah yang dikunjungi Ganjar adalah SMP Negeri 7 Semarang.
Pada kesempatan tersebut, Ganjar meminta guru untuk mempersiapkan apabila nantinya sekolah dibuka kembali.
Persiapan yang dilakukan seperti bagaimana cara siswa masuk hingga pengaturan tempat duduk.
• Penjelasan Dokter Tirta Hudi soal New Normal: Adaptasi Gaya Baru di Tengah Pandemi COVID-19
• Soal New Normal, Menko Airlangga: Bisa Saja Dihentikan jika Ada Gelombang Kedua Covid-19
Sementara itu, melalui akun Twitter miliknya, @ganjarpranowo, ia membagikan video kunjungannya ke SMPN 7 Semarang.
Dalam video berdurasi 1 menit itu tampak Ganjar berkeliling area sekolah, mulai dari halaman, ruang guru, ruang kelas, hingga mushola.
Kendati sudah melihat langsung kondisi di lapangan untuk persiapan new normal, Ganjar tetap meminta saran dari publik.
Ia meminta pendapat publik mengenai protokol masuk sekolah, mengatur bangku, hingga naik kendaraan umum yang aman bagi siswa.
"Masuk Sekolah lagi? Kamu ada saran, Kalau masuk sekolah lagi baiknya aturan baru spt apa?
1. Protokol masuk ke sekolah
2. Mengatur bangku/meja kelas
3. Naik angkot yg aman spt apa ya?
#pakaimasker
#jagajarak
#cucitanganpakaisabun," tulis Ganjar, Kamis, 28 Mei 2020.
Unggahannya itu lantas mendapat banyak respon dari warganet.
Banyak dari mereka memberikan sarannya untuk penerapan new normal di sekolah.
Namun, tak sedikit pula yang mengaku masih khawatir memperbolehkan anak-anaknya pergi ke sekolah.
• Yunarto Wijaya Sebut 4 Sosok Ini Bakal Maju Pilpres 2024: Biasanya yang Mengejutkan Itu Menang
Di antara banyaknya komentar warganet, rupanya Yunarto Wijaya juga turut berkomentar.
Menurutnya, tidak ada alasan apapun untuk terburu-buru membuka kembali fasilitas umum, termasuk sekolah.
Karena, kata Yunarto, publik mengetahui alasan utama penerapan new normal adalah faktor ekonomi.
"Gak ada alasan utk membuka ini terburu2 ketika kita tau alasan utama new normal adalah faktor ekonomi pak...," tulis Yunarto, Jumat (29/5/2020).
Ganjar Cek Kesiapan New Normal di Tempat Ibadah
Selain mengecek sekolah, Ganjar Pranowo juga mengunjungi tempat ibadah pada Rabu (27/5/2020).
Tempat ibadah yang dikunjungi yakni Gereja Katedral Semarang dan Masjid Agung Kauman Semarang.
Ganjar melihat, di gereja tersebut belum ada persiapan khusus.
Pasalnya selama Covid-19, pelaksanaan ibadah dilakukan secara daring.
“Selama ini kami melaksanakan ibadah secara live streaming dua kali sehari, pagi dan sore,” kata Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko.
• Balas WA Ganjar Pranowo, Bupati Karanganyar Tetep Kekeh Gelar Salat Id di Alun-alun
Uskup Rubiyatmoko menerangkan, tadinya pembatasan peribadatan ditetapkan sampai Minggu (31/5/2020).
Namun karena ketidakpastian kondisi, pembatasan peribadatan diperpanjang hingga waktu yang belum ditentukan.
“Kami perpanjang lagi sambil menunggu perkembangan. Kami mengikuti kebijakan pemerintah. Kalau ada kebijakan baru, tentu akan kami mendukung,” kata Uskup Rubiyatmoko.
Uskup menambahkan, bila kelak ada kebijakan baru yang memperbolehkan umat beribadah di gereja lagi, maka standar protokol kesehatan seperti pembatasan jemaah, pengaturan jarak, penyediaan tempat cuci tangan, dan kewajiban pakai masker akan diterapkan.

Selanjutnya, Ganjar mengunjungi Masjid Agung Kauman Semarang.
Di sana, Ganjar melihat pengisolasian lantai oleh takmir masjid untuk membatasi jemaah.
Di depan masjid juga terlihat petugas keamanan yang siap dengan alat pengukur suhu tubuh.
Kemudian, setiap jemaah yang datang diwajibkan mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer yang disiapkan di pintu masuk atau tempat wudu.
“Kalau ada jemaah, kami hanya membuka satu akses masuk dan keluar dengan pengaturan jarak,” kata Ketua Takmir Masjid Agung Kauman Semarang, Hanif Ismail.
• Sujiwo Tejo: New Normal Cuma Mengkongkretkan Simbol Maut yang Bisa Sewaktu-waktu Menjemput
Penuhi Syarat?
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menyebut persiapan menuju new normal atau tatanan kehidupan baru saat ini baru diterapkan di empat provinsi dan 25 kabupaten/kota.
Kebijakan ini bisa diperluas jika dirasa efektif untuk membuat masyarakat produktif serta tetap aman dari virus corona.
"Ini akan kita lihat dalam satu minggu dampaknya seperti apa, kemudian akan kita lebarkan ke provinsi, kabupaten/kota lain apabila dirasa terdapat perbaikan yang signifikan" kata Jokowi usai meninjau kesiapan prosedur new normal di Mal Summarecon Bekasi, Selasa (26/5/2020), dilansir dari Kompas.com.
Empat provinsi yang mulai melakukan persiapan menuju new normal ini yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Sumatera Barat dan Gorontalo.
Persiapan dilakukan dengan menerjunkan personel TNI/Polri di tempat umum atau keramaian.

Salah satu aspek yang diukur bagi daerah untuk dapat menerapkan aktivitas sosial ekonomi pada era kenormalan baru adalah surveilans kesehatan masyarakat.
Salah satu indikator yang menunjukkan baiknya surveilans kesehatan masyarakat yakni jumlah pemeriksaan spesimen Covid-19 yang meningkat dan diikuti dengan berkurangnya kasus positif Covid-19.
"Giliran kenaikan pemeriksaannya naik, yang positifnya harus kecil, di bawah lima persen,” ujar Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Covid-19 Wiku Adisasmito dalam konferensi pers BNPB, Selasa (26/5/2020).
Aspek berikutnya yakni pelayanan kesehatan. Indikatornya antara lain, jumlah ketersediaan tempat tidur untuk kasus positif baru di rumah sakit, alat pelindung diri (APD) bagi tenaga medis di rumah sakit, serta ventilator.
Kemudian, gambaran epidemiologi di suatu wilayah.
Salah satu indikatornya adalah jika kasus positif Covid-19 turun 50 persen selama dua pekan berturut-turut.
Selain penurunan kasus positif, jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) dan orang dalam pemantauan (ODP) juga harus turun selama dua pekan sejak puncak terakhir.
Lalu, jumlah pasien yang sembuh dan jumlah ODP dan PDP yang telah selesai dipantau juga harus meningkat.
Sementara itu, jumlah pasien meninggal dari kasus positif juga harus menurun walaupun tidak ada target angka penurunannya.
Ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia, Pandu Riono, mengingatkan pemerintah bahwa pembukaan fasilitas menuju kenormalan baru harus dilakukan bertahap.
"Tanpa tahapan, nanti seperti dibuka bersama dari tahap pertama, ya kurang bijaksana dan lebih baik bertahap, kemudian di evaluasi lagi, bertahap dievaluasi lagi," kata Pandu, Rabu (27/5/2020).
Selain bertahap, menurut dia, pembukaan kembali suatu kota yang terdampak Covid-19 atau pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) harus memperhatikan beberapa indikator, seperti peningkatan kapasitas tes dan contact tracing serta peningkatan kesadaran menjaga kesehatan diri.
Kemudian, berkurangnya jumlah kasus suspect dan kematian yang diduga akibat Covid-19 dalam kurun waktu paling sedikit 14 hari.
Selanjutnya, peningkatan kapasitas ICU, tenaga kesehatan, dan jumlah alat pelindung diri (APD) yang memadai.
Pandu pun mengingatkan kemungkinan terjadinya gelombang kedua wabah virus corona. Ia meminta pemerintah mengantisipasi kemungkinan tersebut.
"Yang kita khawatirkan ada lonjakan. Jadi harus siaplah. Kalau mau dibuka, dibuka boleh, tapi harus ada penilaian apakah sudah memenuhi syarat belum," ujarnya.
(TribunTernate.com/Rohmana, Kompas.com/Inadha Rahma Nidya/Tsarina Maharani)