Mahasiswi Asal Indonesia Nadhira Afifa Terpilih Berpidato di Wisuda Harvard, Ini yang Disampaikannya
Nadhira berhasil lulus dengan gelar Master Ilmu Kesehatan Masyarakat (Public Health) dari kampus bergengsi tersebut.
Nadhira menuturkan bahwa ketakutannya berasal dari berita-berita Islamophobia yang kerap ia baca.
"Saya sudah melihat banyak sekali berita tentang Islamophobia dan itu sangat mengkhawatirkan saya," terang dia.

Dibantu Rekan Yahudi
Tak disangka ketakutan Nadhira soal intoleransi dan Islamophobia ternyata terbantahkan di minggu kedua orientasi.
Ada dua hal yang membuat Nadhira percaya bahwa kampus yang dimasukinya itu menjunjung tinggi toleransi dan kesetaraan.
Pertama adalah momen saat dirinya mengetahui ternyata Harvard menyediakan ruang salat yang nyaman.
"Saya menemukan musala di lantai bawah," kata Nadhira.
"Sangat mengejutkan, ternyata Harvard menyediakan ruang musala yang sangat nyaman dan lengkap dengan hal-hal yang kami butuhkan," lanjutnya.
Kemudian momen dirinya bertemu rekannya yang merupakan seorang Yahudi turut menghilangkan kegugupan dan ketakutan Nadhira.
Kala itu rekannya yang Yahudi melihat Nadhira sedang salat di bawah tangga darurat.
Rekan Nadhira lalu berinisiatif menunjukkan Nadhira ruang salat yang nyaman di Harvard.
"Yang membuatnya lebih istimewa lagi adalah teman Yahudi saya yang menunjukkan ruangan tersebut," kata dia.
"Karena ia melihat saya salat di bawah tangga darurat."
"Kesetaraan, inklusivitas, dan persatuan. Tidak ada tempat lain yang lebih baik mempelajari hal-hal itu selain di sini," kata Nadhira.
Mulai dari situ Nadhira merasa Harvard Chan School of Public Health adalah rumah keduanya.