Breaking News:

Pilkada 2020

Gibran dan Bobby Unggul di Pilkada 2020, Yunarto: Jokowi Sudah Posisikan Diri Jadi Politisi Biasa

Jika anak dan menantunya resmi dinyatakan menang, jelas ada peluang besar bahwa Joko Widodo akan mendapat kritikan keras soal politik dinasti.

Editor: Rohmana Kurniandari
Tribunnews.com/Reza Deni Saputra
Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya saat melakukan sesi wawancara di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. 

Sebab, Gibran menyetel target perolehan suara 92 persen.

Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya, diminta untuk menganalisis Pilkada Solo 2020 saat menjadi narasumber di acara Mata Najwa.
Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya, diminta untuk menganalisis Pilkada Solo 2020 saat menjadi narasumber di acara Mata Najwa. (Tangkap Layar YouTube/Najwa Shihab)

Yunarto Wijaya juga mengatakan catatan yang paling penting adalah bagaimana perspektif masyarakat dari konteks nasional.

Yunarto menyebut, dengan putra sulung dan menantu yang terjun ke Pilkada 2020, Joko Widodo telah memposisikan diri sebagai politisi biasa yang mengulang pola yang dilakukan para politisi sebelumnya.

Selain itu, jika anak dan menantunya resmi dinyatakan menang, jelas ada peluang besar bahwa Joko Widodo akan mendapat kritikan keras soal politik dinasti.

"Mas Toto, analisa Anda, yang jelas tadi Pak Bagyo mendapat 13 persen, itu lumayan kan?" tanya Najwa Shihab.

"Lumayan sekali. Tapi yang harus jadi catatan, ini bukan tentang Solo dan Medan saja. Catatan paling penting adalah orang melihatnya dari konteks nasional," kata Yunarto Wijaya.

"Jokowi harus menerima risiko bahwa kejadian di Solo dengan Medan, menang dan kalah, Jokowi sudah memposisikan diri menjadi politisi biasa yang mengulang pola yang dibuat oleh para politisi yang dikritik juga."

"Politik dinasti yang paling mudah dikritik, itu pertama. Yang kedua kalau kita bicara Solo dan Medan, kalau Solo sudah bisa ditebak, tidak ada keanehan, walaupun Pak Bagyo berhasil lho meruntuhkan ambisi Gibran mengalahkan ayahnya. Itu jelas tidak mencapai 90 persen," sambung Yunarto Wijaya.

Kemudian, Yunarto Wijaya menyebutkan tantangan terbesar Gibran Rakabuming adalah ketika ia menjadi wali kota dan ayahnya tak lagi menjabat presiden.

"Tantangan Gibran sebenarnya bukan pada kampanye. Tantangan Gibran ketika jadi wali kota, sorotan itu akan lebih besar lagi. Belum lagi ketika ayahnya tidak jadi seorang presiden," kata Yunarto Wijaya.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Palu
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved