Pesawat Sriwijaya Air Jatuh
Tanggapan Pengamat tentang Laporan Awal Pesawat Sriwijaya Air dari KNKT: Masih Ada Laporan Lagi
Pengamat penerbangan, Budhi Muliawan Suyitno menanggapi laporan awal tentang jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182 itu.
Menurutnya, KNKT berhati-hati membuat laporan karena keterbatasan data.
"Mereka berhati-hati, jadi ini adalah laporan awal."
"Karena berdasarkan keterbatasan data-data yang mampu dikumpulkan," imbuh mantan Menteri Perhubungan di zaman Gus Dur itu.
Kronologi Jatuh
Diberitakan Tribunnews.com sebelumnya, berdasarkan rekaman Flight Data Recorder (FDR), sistem autopilot pesawat aktif di ketinggian 1.980 kaki.
Kepala Sub Komite Penerbangan KNKT, Kapten Nur Cahyo Utomo mengatakan, pesawat SJ 182 setelah lepas landas dan melewati ketinggian 8.150 kaki, tuas pengatur tenaga mesin atau Throttle sebelah kiri bergerak mundur sehingga tenaga berkurang.
"Sementara itu tuas pengatur tenaga mesin sebelah kanan tetap."
"Kemudian saat melewati ketinggian 10.600 kaki, pesawat berada di posisi 46 derajat lalu mulai berbelok ke arah kiri," ujar Nur Cahyo dalam konferensi pers virtual, Rabu (10/2/2021).

Ia menjelaskan, sebelumnya pilot pesawat SJ 182 meminta kepada petugas Air Traffic Controller (ATC) untuk berbelok ke 75 derajat dan diizinkan.
ATC pun memprediksi perubahan arah ini akan membuat SJ 182 bertemu dengan pesawat lain dengan tujuan yang sama.
Maka pesawat ini pun diminta untuk mempertahankan ketinggian di 11.000 kaki.
"Pada ketinggian 10.900 kaki, menurut data FDR sistem autopilot tidak aktif dan tuas Throttle sebelah kiri kembali turun dan tenaga semakin berkurang sedangkan tuas Throttle sebelah kanan tidak bergerak," lanjutnya.
Kemudian pada ketinggian tersebut, pesawat kemudian mulai turun dan sistem autopilot tidak aktif atau disengage.
Sikap pesawat pun menurut data FDR pada posisi naik atau pitch up, dan pesawat miring ke kiri.
Kemudian tuas mesin Throttle sebelah kiri kembali berkurang.