Breaking News:

Kemenkes RI Imbau Masyarakat untuk Tidak Gunakan Vaksin Dosis Pertama dan Kedua dengan Merek Berbeda

Hingga kini belum ada uji klinis yang menunjukkan keamanan maupun efektivitas vaksin saat digunakan dengan merek berbeda.

Editor: Rizki A
Daily Mail UK
Ilustrasi suntikan vaksin. Juru bicara vaksinasi Covid-19 Kemenkes RI menjelaskan, hingga kini belum ada uji klinis yang menunjukkan keamanan maupun efektivitas vaksin saat digunakan dengan merek berbeda. 

"Jadi tidak boleh kalau kemudian dosis satunya dapet Sinovac atau Coronavac, dan dosis keduanya dilanjutkan dengan AstraZeneca ya. Jadi tetap, kalau yang pertama Coronavac (Sinovac), yang kedua juga tetap akan Coronavac," tegas Siti Nadia.

Siti Nadia pun kembali menekankan bahwa masyarakat yang telah mendapatkan dosis pertama vaksinasi, tidak perlu khawatir akan 'kehabisan' merek vaksin yang sama untuk dosis kedua.

Karena pemerintah telah memperhitungkan hal ini dan peserta vaksinasi yang telah melakukan registrasi vaksin tentunya datanya terdaftar dalam sistem pedulilindungi.

Ilustrasi Suntikan Vaksin.
Ilustrasi Suntikan Vaksin. (South China Morning Post)

"Dan ini sudah kita atur untuk bisa semua mendapatkan dosis vaksin yang sama," pungkas Siti Nadia.

Imbauan yang sama juga sempat disampaikan Kepala Ilmuwan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Dr. Soumya Swaminathan telah memperingatkan warga dunia untuk tidak menggabungkan vaksin virus corona (Covid-19) yang berbeda.

Hal ini disampaikannya untuk menanggapi adanya pernyataan dari perusahaan farmasi yang menggembar-gemborkan kemungkinan bahwa suntikan tambahan (booster) dapat efektif melawan varian baru Covid-19, yakni B.1.617.2 (Delta).

Ia memperingatkan untuk tidak mencampur vaksin yang berbeda dalam upaya meningkatkan kekebalan.

Karena saat ini tidak ada bukti maupun data yang menguatkan spekulasi itu.

Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam konferensi pers WHO pada hari Senin kemarin waktu setempat.

"Saya benar-benar ingin memperingatkan orang-orang, karena ada orang yang berpikir untuk mencampur dan mencocokkan vaksin yang berbeda, jadi ini menjadi tren yang berbahaya. Kita saat ini berada di zona bebas data dan bebas bukti, ada data terbatas yang kita miliki tentang mix and match ini," tegas Dr. Swaminathan.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved