Gempa Bumi
Hari Ini dalam Sejarah - Gempa Bumi 7.6 SR di Sumatera Barat, Lebih dari 1.000 Orang Tewas
Kamis (30/9/2021) hari ini merupakan tanggal terjadinya salah satu peristiwa gempa bumi besar di Indonesia. Yakni, Gempa Bumi Sumatera Barat.
TRIBUNTERNATE.COM - Indonesia merupakan negara yang rawan terjadi gempa bumi dan gunung meletus, mengingat wilayahnya yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Pacific Ring of Fire.
Kamis (30/9/2021) hari ini merupakan tanggal terjadinya salah satu peristiwa gempa bumi besar di Indonesia, yakni Gempa Bumi Sumatera Barat.
Mengutip laporan harian Pusdalops Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dirilis pada 13 Oktober 2009, gempa bumi yang terjadi di Provinsi Sumatera Barat merupakan jenis gempa bumi tektonik.
Kejadian gempa 12 tahun yang lalu itu terjadi pada Rabu, 30 September 2009 sore, tepatnya pukul 17:16:09 WIB.
Gempa bumi tersebut berkekuatan 7,6 SR dengan pusat gempa berada di 57 kilometer sebelah barat daya Pariaman, Sumatera Barat.
Pusat gempa berada di kedalaman 71 kilometer, pada titik koordinat 0,84 Lintang Selatan (LS) - 99.65 Bujur Timur (BT).
Informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.
Guncangan gempa bumi terjadi dengan skala MMI di berbagai daerah, di antaranya:
1. Jakarta II MMI
2. Pekan Baru II-III MMI
3. Bukit Tinggi IIIIV MMI
4. Bengkulu III-IV MMI
5. Tapanuli Selatan III-IV MMI
6. Muko-Muko III-IV MMI
7. Sibolga IV MMI
8. Gunung Sitoli IV MMI
9. Padang VI-VII MMI
10. Liwa III-IV MMI
11. Duri-Riau II-III MMI
12. Singapura II-III MMI
13. Malaysia II-III MMI

Provinsi Sumatera Barat merupakan wilayah yang rawan terjadi gempa bumi karena berada di antara pertemuan dua lempeng benua besar (lempeng Eurasia dan lempeng Indo-Australia) dan patahan (sesar) Semangko.
Di dekat pertemuan lempeng itu juga terdapat patahan Mentawai.
Ketiganya merupakan daerah seismik aktif.
Menurut catatan ahli gempa, wilayah Sumatra Barat memiliki siklus 200 tahunan gempa besar yang pada awal abad ke-21 telah memasuki masa berulangnya siklus.
Baca juga: Hari Ini, 56 Pegawai KPK Tak Lolos TWK Resmi Dipecat Tanpa Pesangon, Direkrut Jadi ASN Polri
Baca juga: Viral Foto Ibu Temani Anak Tes CPNS, Tempuh Jarak 200 Km Naik Motor, Tetap Tersenyum Meski Tak Lulus
Baca juga: Sesar Lembang di Jawa Barat Masih Aktif, Daryono BMKG: Tak Seorang pun Tahu Kapan Gempa Kuat Terjadi
Baca juga: Penjelasan BMKG tentang Fenomena Awan Arcus yang Mirip Gelombang Tsunami dan Muncul di Nagan Raya
Pada Oktober 2009, Kompas.com mewartakan, kerugian akibat gempa bumi berkekuatan 7,6 skala Richter yang melanda Provinsi Sumatera Barat pada 30 September 2009 mencapai Rp 4.815.477.418.268.
"Kerugian tersebut disebabkan rumah penduduk, sarana pendidikan, sarana kesehatan, kantor, jalan, irigasi, dan fasilitas lain mengalami kerusakan," kata Sekretaris Satuan Koordinasi Pelaksanaan Penanggulangan Bencana Sumbar Sudirman Gani di Padang, Rabu (28/10).
Menurut dia, kerugian materi paling banyak dialami Kabupaten Agam, Rp 3.069.230.508.700, disusul Kota Pariaman sebesar Rp 1.125.000.000.000.
Jumlah korban tewas akibat gempa tersebut mencapai 1.195 orang, dengan perincian:
Kota Padang 383 orang, Kabupaten Padang Pariaman (666), Kota Pariaman (48), Kabupaten Pesisir Selatan (11), dan Kabupaten Agam (81).
"Sementara itu, di Kabupaten Pasaman Barat korban tewas sebanyak 5 orang, korban luka berat 619 orang, dan korban luka ringan 1.179 orang," ujarnya.
Dia menambahkan, rumah yang rusak berat sebanyak 119.005 unit, rusak sedang (73.733), dan rusak (78.802 unit).
BMKG Keluarkan Peringatan tentang Megathrust
Sejarah mencatat, Kota Padang dan sekitarnya telah beberapa kali dilanda gempa bumi merusak.
Diwartakan TribunPadang.com, ada 16 gempa bumi dengan dampak kerusakan yang cukup fatal di daerah tersebut yang terjadi dalam periode 26 Agustus 1835 hingga 12 September 2009.
Secara garis besar gempa-gempa merusak tersebut telah banyak menimbulkan kerugian dari segi jiwa dan materi.
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Padang Panjang, Irwan Slamet mengatakan terjadinya gempa bumi di Sumatera Barat terjadi, karena beberapa sebab.
Seperti Mentawai megathrust, Mentawai subsistem yang antara Mentawai dan Pulau Sumatera, dan ada lagi sesar Sumatera serta sesar-sesar kecil lainnya.
"Kalau untuk gempa tanggal 30 September 2009 disebabkan oleh subduksi, karena kedalaman gempa di atas 80 kilometer. Sedangkan, berat gempanya berada di antara Mentawai-Sumatera," kata Irwan Slamet, Rabu (30/9/2020).
Namun, sesar Mentawai megatrusht itu menghunjam dari Barat ke Timur, artinya dari sebelah barat Mentawai menuju arah Sumatera.
"Gempanya itu kalau diukur, itu sekitar 87 kilometer. Potensi-potensi energi di sekitar itu sampai sekarang masih kita hitung terus, saya masih menghitung berapa pelepasan energinya itu," katanya.
Ia mengatakan semakin sering lepas energinya secara perlahan, maka potensi terjadinya gempa bermagnitudo 8.8 dapat berkurang.
Hal itu dikarenakan, kekuatannya terlepaskan secara perlahan dan membuat energinya mengendor.
Namun, jika terkunci sehingga tidak lepas secara perlahan akan membuat patahan sehingga berpotensi terjadinya gempa berkekuatan besar.
"Pada tahun ini energinya itu sudah sering keluar bermagnitudo 6 dan 5. Harapan kami bahwa energi itu terlepas secara pelan-pelan begitu dan tidak dibayar kontan dengan bermagnitudo 8.8," sebutnya.
(TribunTernate.com/Rizki A.) (TribunPadang.com/Rezi Azwar) (Kompas.com) (Wikipedia) (BNPB)