Obat Covid-19 Buatan Pfizer Kurangi Risiko Gejala Berat dan Kematian sebesar 89 Persen
Pfizer mengatakan obat Covid-19 buatannya mengurangi risiko gejala berat/rawat inap dan kematian sebesar 89%.
TRIBUNTERNATE.COM - Pfizer mengatakan obat Covid-19 buatannya mengurangi risiko gejala berat/rawat inap dan kematian sebesar 89 persen.
Pfizer mengatakan dalam proses penelitiannya membuat obat tersebut, tidak ada kematian yang terjadi pada pasien yang menerima pil antivirus Covid-19 oral buatannya.
Dalam keseluruhan populasi penelitian hingga hari ke-28, tidak ada pasien Covid-19 yang meninggal dunia yang menerima obat buatannya.
Perusahaan yang juga membuat vaksin Covid-19 bersama BioNTech ini, memberi nama obat Covid-19 oralnya PAXLOVID.
Melasir Anadolu Agency, studi ini didasarkan pada data dari 1.219 orang dewasa yang terdaftar pada 29 September dan memiliki diagnosis terinfeksi virus corona SARS-CoV-2 yang dikonfirmasi laboratorium dalam periode lima hari.
Selain itu para pasien tersebut setidaknya memiliki satu kondisi medis yang terkait dengan peningkatan risiko mengembangkan penyakit parah dari Covid-19.
Perusahaan itu mengatakan akan menyerahkan studi tersebut ke Administrasi Obat dan Makanan (FDA) AS untuk dimintakan otorisasi penggunaan darurat sesegera mungkin.
Berita tersebut menjadikan Pfizer sebagai perusahaan kedua di dunia yang mengembangkan pil untuk melawan penyakit yang diakibatkan oleh virus corona setelah obat pengobatan antivirus oral Merck Molnupiravir diumumkan pada 1 Oktober 2021.
Baca juga: FDA Berikan Izin Penggunaan Darurat Vaksin Covid-19 Pfizer untuk Anak Usia 5-11 Tahun
Baca juga: Panel Medis AS Rekomendasikan Penggunaan Vaksin Pfizer untuk Anak Usia 5-11 Tahun
Obat Covid buatan Merck ditinjau bulan ini oleh FDA
Administrasi Makanan dan Obat-obatan AS (FDA) akan mengirimkan obat Covid-19 Merck ke komite penasihat untuk ditinjau.
FDA akan menggunakan forum publik untuk membahas masalah keamanan apa pun sebelum otorisasi potensial.
FDA mengumumkan sidang tersebut akan dilaksanakan pada 30 November.
Sidang itu akan mengumumkan tentang pertimbangan data tentang penggunaan obat Covid-19 Merck untuk mengobati kasus ringan hingga sedang pada orang dewasa berisiko tinggi.
“Kami percaya bahwa, dalam hal ini, diskusi publik tentang data ini dengan komite penasihat agensi akan membantu memastikan pemahaman yang jelas tentang data dan informasi ilmiah yang dievaluasi FDA untuk membuat keputusan tentang apakah akan mengizinkan perawatan ini untuk penggunaan darurat," kata Patrizia Cavazzoni, direktur Pusat Evaluasi dan Penelitian Obat FDA, mengatakan dalam sebuah pernyataan seperti dikutip dari The Strait Times.
FDA memilih untuk tidak melewatkan langkah komite penasihat.
Pihaknya kadang-kadang melewatkan langkah komite penasihat ketika terdesak untuk meluncurkan obat ke pasar dengan cepat.
Masalah keamanan telah dikemukakan oleh beberapa ahli dalam obat ini, dan komite akan mempertimbangkan sebelum FDA membuat keputusan.
FDA akan mempresentasikan perspektifnya tentang data perusahaan.
"Pertemuan itu dijadwalkan sesegera mungkin setelah pengajuan permintaan EUA oleh perusahaan," kata FDA dalam sebuah pernyataan.
Merck dan mitranya, Ridgeback Biotherapeutics, mencari otorisasi penggunaan darurat di AS untuk molnupiravir awal pekan ini.
Ini merupakan sebuah langkah menuju izin untuk obat jenis pil yang dimaksudkan untuk mengobati Covid-19 pada orang dewasa yang berisiko tinggi.
Baca juga: Obat Covid-19 Molnupiravir Dijadwalkan Tiba pada Desember 2021
Baca juga: Yayasan Bill Gates Sumbang Dana RRp57,5 Miliar untuk Atasi Kekurangan Jarum Suntik Vaksin Covid
Merck yang berbasis di Kenilworth, New Jersey, AS pada bulan Juni menyetujui kesepakatan pasokan senilai US$1,2 miliar untuk memberikan 1,7 juta program pengobatan kepada pemerintah AS setelah obat tersebut memperoleh otorisasi atau persetujuan FDA.
Obat molnupiravir bekerja dengan cara memasukkan kesalahan ke dalam materi genetik virus yang akhirnya membuat patogen mati.
Beberapa ahli mempertanyakan apakah dan bagaimana obat itu juga dapat berdampak pada pertumbuhan sel dalam tubuh manusia, yang misalnya seperti berpotensi meningkatkan risiko cacat lahir.
Nicholas Kartsonis, wakil presiden senior penelitian klinis untuk penyakit menular dan vaksin di Merck Research Labs, mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa dia sangat terkesan dengan profil keamanan obat tersebut.
Ia pun juga menyebutkan bahwa obat molnupiravir terlihat sangat bersih.
Kartsonis menambahkan bahwa Merck telah membagikan kepada publik sejumlah data terbatas mengenai keamanan obat tersebut.
Namun perusahaan tersebut bermaksud untuk segera melaporkannya.
“Kami mengirimkan barang-barang ini ke otoritas kesehatan, dan kami akan bekerja dengan mereka saat mereka telah memeriksanya dengan cermat,” katanya.
(TribunTernate.com/Qonitah)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/pfizer-hbvjkdnb.jpg)