Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

6 Fakta Guru Pesantren Perkosa 12 Santri hingga Lahirkan 8 Bayi, Pakai Uang Bantuan untuk Sewa Hotel

Seperti yang diketahui, Herry Wirawan alias HW merudapaksa belasan santriwati di pesantren yang ia kelola.

KOMPAS.COM/HANDOUT
Ilustrasi Perkosaan 

TRIBUNTERNATE.COM - Sejumlah fakta baru kasus guru di pondok pesantren di Kota Bandung yang tega merudapaksa belasan santriwati, terungkap. 

Seperti yang diketahui, Herry Wirawan alias HW merudapaksa 12 santriwati di pesantren yang ia kelola.

Bahkan, terdapat delapan orang yang telah melahirkan anak, sementara dua orang lainnya tengah mengandung.

Belasan santriwati ini dirudapaksa Herry Wirawan sejak tahun 2016 hingga 2021.

Berikut fakta-fakta yang terungkap terkait kasus guru agama rudapaksa 12 santriwati di Bandung:

1. Kejanggalan Pesantren

Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TPA) Garut mengungkapkan sejumlah kejanggalan pesantren yang disebut dikelola oleh Herry Wirawan.

Dikutip dari Kompas.com, menurut P2TPA Garut, para santri yang menjadi korban perkosaan, diiming-imingi biaya pesantren hingga sekolah gratis.

"Mereka di sana karena gratis, mereka banyak bertalian saudara dan tetangga juga," jelas Ketua P2TP2A Garut, Diah Kurniasari Gunawan, kepada wartawan, Kamis (9/12/2021) malam.

Diah mengaku bingung soal pesantren yang dikelolah oleh Herry Wirawan.

Disebutkan Diah, ada korban yang disebut telah lulus SMP di pesantren tersebut, namun tidak ada ijazahnya.

"Ijazahnya ini bener apa enggak, ternyata ada yang sekolah di sana dari SD, ijazah SD enggak ada, ijazah SMP enggak ada, jadi itu harus ikut persamaan," katanya.

Baca juga: Bos Kuliner di Solo Perkosa Karyawati 17 Tahun dalam Mobil BMW, Korban Dicekoki Miras

Baca juga: Seorang Wanita Dirudapaksa di Gerbong Kereta, Tak Ada yang Menolong Meski Penumpang Lain Melihat

Kejanggalan pesantren milik Herry Wirawan tak hanya sampai di situ, guru yang ada di pesantren itu hanya satu, yaitu Herry Wirawan sendiri.

Jika pun ada guru lain yang datang, tidak tentu waktunya dan hanya bersifat guru panggilan, tidak seperti halnya sekolah atau pesantren pada umumnya.

"Sisanya (waktu), mereka masak sendiri, gantian memasak, tidak ada orang lain lagi yang masuk pesantren itu," katanya.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved