Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Virus Corona

Apakah Orang yang Sudah Terpapar Covid-19 Omicron Masih Perlu Vaksinasi Booster?

Laju penularan Omicron di Tanah Air terjadi sangat cepat, lantas masihkah vaksinasi booster diperlukan bagi pasien yang telah sembuh dari Covid-19?

TRIBUNNEWS/JEPRIMA
ILUSTRASI Vaksinasi booster Covid-19. 

TRIBUNTERNATE.COM - Apakah orang yang sudah pernah terpapar Covid-19, masih perlu vaksinasi booster?

Saat ini, laju penularan varian Omicron di seluruh dunia sedang tinggi.

Sehingga, tak sedikit orang yang terpapar varian baru Covid-19 dan belum mendapatkan vaksinasi booster.

Lantas, masihkah vaksinasi booster diperlukan bagi penyintas Covid-19, terutama mereka yang terpapar Omicron?

Dilansir Al-Jazeera, vaksinasi booster telah terbukti memberikan tingkat perlindungan yang baik terhadap Covid-19, termasuk varian Omicron.

Dengan demikian, pasien Covid-19 yang telah sembuh dari Omicron masih membutuhkan vaksinasi booster untuk memberikan perlindungan yang lebih besar.

Menurut Layanan Kesehatan Nasional Inggris, orang yang pernah terpapar Covid-19 harus menunggu selama 28 hari setelah dites positif Covid-19 untuk bisa mendapatkan suntikan vaksin booster.

Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa gejala infeksi Covid-19 tidak dikacaukan oleh potensi efek samping vaksinasi booster.

Baca juga: Positif Covid-19 Gejala Ringan? Ini Tata Cara Isoman Agar Tak Berkembang jadi Kluster Keluarga

Baca juga: Pakar Epidemiologi Sebut Omicron Bukan Varian Covid-19 yang Terakhir, Minta Jangan Dianggap Remeh

Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS) menyarankan agar pasien Covid-19 menunggu sampai benar-benar pulih dari gejala apa pun sebelum melakukan vaksinasi booster.

Selain itu, pasien Covid-19 juga harus memastikan bahwa masa isolasinya telah berakhir sebelum mendapatkan vaksinasi booster.

Penelitian menunjukkan bahwa mendapatkan vaksin setelah Anda pulih dari Covid-19 bisa memberikan perlindungan tambahan pada sistem kekebalan Anda.

Sengan demikian, jawabannya adalah penyintas Covid-19 masih perlu mendapatkan vaksinasi booster meskipun sudah sembuh dari Covid-19.

Pasien Covid-19 yang Divaksinasi Setelah Sembuh Miliki Super-Immunity

Respons kekebalan penyintas Covid-19 atau pasien Covid-19 yang sudah sembuh akan bertambah lebih kuat setelah divaksinasi.

Sebagai perbandingan, setelah penyintas Covid-19 mendapat dosis pertama vaksin, antibodinya setara dengan orang yang mendapat vaksin lengkap dan tidak pernah terinfeksi.

Respons kekebalan yang dimiliki penyintas Covid-19 ini disebut super-immunity (kekebalan super) atau oleh para ilmuwan disebut hybrid immunity (kekebalan hibrida).

Ilustrasi vaksinasi pada anak.
Ilustrasi vaksinasi pada anak. (Jeff Kowalsky | AFP | Getty Images)

Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) pun telah mengeluarkan ringkasan tentang Covid super-immunity dari hybrid antibodi.

Melansir Kompas.com, Rabu (24/11/2021), Kemenkes menjelaskan, super-immunity adalah kekebalan terbentuk dari kombinasi antibodi yang didapat seseorang dari infeksi alami dan vaksinasi.

Dalam laporannya, infeksi virus corona SARS-CoV-2 dapat meningkatkan respons imun.

Ada 4 kombinasi dominan respons imun yang terdeteksi, yakni:

  1. IgG
  2. Memory B cells
  3. T celss
  4. IgA

Menariknya, keempat respons imun itu masih terdeteksi hingga enam bulan pasca infeksi.

Mengutip Nature, para peneliti juga telah memperhatikan sifat unik respons vaksin terhadap penyintas Covid-19.

"Kami melihat, kadar antibodi penyintas Covid-19 lebih tinggi dari orang yang divaksin lengkap," kata Rishi Goel, ahli imunologi dari Universitas Pennsylvania di Philadelphia yang mempelajari super-immunity atau hybrid immunity.

Dalam studi awal hybrid immunity pada penyintas Covid-19 ditemukan, bagian darah mereka yang mengandung antibodi lebih mampu menetralkan varian virus corona yang bisa menghindari respons imun.

Tim ilmuwan membandingkannya dengan individu yang belum pernah terinfeksi tapi sudah vaksin.

Misalnya seperti varian Beta dan virus corona lain yang disebut lebih kebal dan mampu menghindari antibodi.

Namun tidak jelas, apa itu karena tingginya tingkat antibodi penetralisir atau sifat lain.

Sementara itu studi terbaru menunjukkan, hybrid immunity disebabkan oleh salah satu antibodi yang disebut sel B memori.

Studi ini menyebut, sebagian besar antibodi yang terbentuk setelah infeksi atau vaksinasi berasal dari sel berumur pendek yang disebut plasmablas.

Kemudian tingkatan antibodi menurun seiring dengan matinya sel-sel plasmablas tersebut.

Baca juga: Pasien Covid-19 RS Naik, Luhut: Pasien Gejala Ringan Jangan Masuk RS, Masuk Saja di Isolasi Terpusat

Baca juga: Ledakan Kasus Covid-19, Sopir Mobil Jenazah Sebut Order Kembali Naik, Wisma Atlet Lebih Ramai

Setelah plasmablas hilang, sumber utama antibodi menjadi sel B memori yang jauh lebih jarang, yang dipicu oleh infeksi atau vaksinasi.

"Beberapa sel berumur panjang, membuat antibodi berkualitas lebih tinggi daripada plasmablas," kata Michel Nussenzweig, ahli imunologi di Rockefeller.

Itu karena mereka berevolusi di organ yang disebut kelenjar getah bening, mendapatkan mutasi yang membantu mereka mengikat lebih erat ke protein spike dari waktu ke waktu.

Ketika penyintas Covid-19 terpapar virus corona kembali, sel-sel ini berkembang biak dan menghasilkan lebih banyak antibodi yang sangat kuat.

"Inilah kenapa orang yang sudah pernah terinfeksi, kadar antibodi ketika diberikan dosis vaksin pertama, tingkatannya sama dengan orang yang belum pernah terinfeksi Covid-19 dan divaksin lengkap," terang Goel.

Hal tersebut juga yang disampaikan oleh Kemenkes, super immunity pada penyintas Covid-19 dapat terbentuk hanya dengan tambahan satu dosis vaksinasi.

"Individu dengan super-immunity menunjukkan level antibodi dan Sel B yang lebih tinggi, lebih stabil dan lebih lama. Individu dengan super-immunity menunjukkan kemampuan netralisasi lebih dari 10 kali lebih tinggi," kata Kemenkes.

Kemenkes menjelaskan, individu dengan super immunity memiliki kekebalan yang lebih baik karena individu tersebut sudah terekspose dengan antigen yang lebih beragam dari virus corona SARS-CoV-2, tidak hanya dari antigen spike protein, yang berasal dari vaksinasi.

Sehingga, proses diferensiasi sel B lebih beragam dan antibodi yang dibentuk juga lebih beragam, sehingga mampu untuk menetralisasi lebih banyak macam varian virus SARS-CoV-2.

(TribunTernate.com/Ron)(Kompas.com)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved