Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Virus Corona

Subvarian Omicron BA.2 Sudah Terdeteksi di Indonesia, Kemenkes RI: Ada 252 Kasus

Kata Sekretaris Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI Siti Nadia Tarmizi, subvarian BA.2 lebih cepat menular dan meningkatkan tingkat keparahan.

Kompas.com/Akbar Bhayu Tamtomo
Ilustrasi Covid-19 varian Omicron. Kata Sekretaris Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI Siti Nadia Tarmizi, subvarian BA.2 lebih cepat menular dan meningkatkan tingkat keparahan. 

Jadi satu dari lima Omicron di dunia sekarang ini adalah jenis BA.2.

Bahkan, ada beberapa negara yang BA.2 dominan, lebih dari 50 persen, seperti Brunei Darussalam, Filipina, Bangladesh, China, India, Nepal, dan Pakistan.

WHO memang menyebutkan, prevalensi tertinggi BA.2 di antara keseluruhan kasus terjadi di daerah WHO Asia Tenggara, yaitu 44,7 persen.

Baca juga: Pakar Kesehatan AS Beri Peringatan: Turunnya Kasus Omicron Bukan Akhir Pandemi Covid-19

Lantas, apa dampaknya jika subvarian ini terus meluas?

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Prof Tjandra Yoga Aditama menyampaikan penjelasannya.

Ia mengatakan, sampai saat ini dampak BA.2 masih terus dipelajari, tetapi kesimpulan sementara subvarian ini tampaknya memang lebih mudah menular daripada BA.1 yang sekarang ada.

Menurut WHO sampai 22 Februari 2022 maka belum ada bukti, BA.2 menimbulkan dampak kasus menjadi lebih berat.

"Ini juga sesuai dengan data dari Afrika Selatan, Inggris dan Denmark yang menunjukkan beratnya penyakit sama saja pada BA.1 dan BA.2," katanya dalam pesan tertulisnya, Senin (28/2/2022).

Mantan DirJen Pengendalian Penyakit Kemenkes ini menyebut, dalam publikasi pra-cetak 16 Februari 2022 dari Jepang yang berjudul Virological characteristics of SARS-CoV-2 BA.2 variant  disampaikan,  sepertinya BA.2 dapat lebih berat.

Uji coba pada binatang menunjukkan BA.2 dapat menimbulkan dampak klinik lebih berat

"Tapi ini pada binatang percobaan, belum tentu terjadi terjadi pada manusia," imbuhnya.

WHO juga masih menyatakan, efikasi vaksin masih sama antara BA.2 dan BA.1.

Sementara, penelitian di Jepang menduga efektifitas vaksin menurun, walau dapat meningkat kembali sampai 74 persen dengan booster.

Penelitian di Jepang juga menyajikan, infeksi dengan BA.2 menyebabkan penurunan efektifitas obat antibodi monoklonal seperti sotrovimab.

Subvarian Omicron BA.2 tidak memiliki fenomena SGTF (S gene target failure), sehingga penggunaan PCR SGTF jadi terbatas.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved