Kamis, 28 Mei 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Pasca Gempa

Kisah Rahman, Rumah yang Baru Tiga Bulan Ditinggali Rata Tanah, di Desa Ngidiho Halmahera Utara

Gempa magnitudo 5,2 guncang Halmahera Utara, Maluku Utara, Selasa (18/4/2022) lalu, menyisakan cerita pilu.

Tayang:
Editor: Mufrid Tawary
Tribunternate.com/Arafik Hamid
Guncangan gempa mengubah rumah Rahman menjadi reruntuhan di Desa Ngidiho, Galela Barat, Selasa (19/4/2022). rumahnya berukuran 7x12 itu dibangun dari hasil kerja bersama istri. Uang tersebut diperoleh dari mengupas kulit kelapa dan memisahkan isi kelapa dari batoknya (lewang). 

TRIBUNTERNATE.COM- GEMPA magnitudo 5,2 guncang Halmahera Utara, Maluku Utara, Senin (18/4/2022) lalu, menyisakan cerita pilu.

Salah satu dari sekian adalah Rahman Budiman (31) warga Desa Ngidiho, kecamatan Galela Barat

Dia bersama istrinya Hani Muksin (33) hanya bisa pasrah karena rumah yang baru mereka tinggali rata tanah.

Guncangan gempa mengubah rumahnya menjadi reruntuhan.

Atas kejadian itu Rahman dan sekeluarga kini tinggal di rumah mertua. 

Rahman dan istrinya dikaruniai tiga anak yaitu Jiran (12), serta Habil dan Habul (Kembaran) yang masih berusia 8 bulan.

Rahman bercerita, rumahnya berukuran 7x12 itu dibangun dari hasil kerja bersama istri.

Selama ini mereka berdua mengambil sewa mengupas kulit kelapa dan memisahkan isi kelapa dari batoknya (lewang).

Dari kerja itulah uang mereka simpan dan niatkan bangun rumah.

Ahirnya di tahun 2022 Rahman dan istrinya dapat menikmati rumah baru.

Namun, baru tiga bulan ditempati datang musibah sehingga roboh.

Rahman dibantu beberapa warga membersihkan puing puing rumahnya yang roboh akibat gempa di Desa Ngidiho, kecamatan Galela Barat, Selasa (19/4/2022)
Rahman dibantu beberapa warga membersihkan puing puing rumahnya yang roboh akibat gempa di Desa Ngidiho, kecamatan Galela Barat, Selasa (19/4/2022) (Tribunternate.com/Arafik Hamid)

"Rumah ini kami bangun dari hasil kupas kelapa dan lewang,"ceritanya sambil meneteskan air mata.

Beruntung, saat gempa Rahman dan keluarga tak berada di rumah.

Kebetulan saat itu mereka sedang kerja, sekitar 30 meter dari rumah.

"Saya liat satu persatu tembok rumah saya rubu (Roboh) waktu gempa,"ucap Rahman.

Bahkan waktu itu Kata Rahman istrinya  Hani seketika berteriak

"Man (sapaan akrab Hani pada suaminya) tong (kita) tong pe rumah Man," tutur hani diceritakan rahman.

Istrinya itu gemetar lalu memeluk ketiga anaknya.

Rahman saat itu tak bisa menahan lagi rasa sedihnya.

Dia pun meneteskan air mata. 

Tapi, istrinya terus memanggil Rahman.

"Man, kita (saya) Tako Man,"kenang Rahman waktu itu.

Baca juga: Warga Desa Ngidiho Halmahera Utara Gotong Royong Bangun Masjid Darurat Pasca Gempa

Baca juga: BPBD Halmahera Utara Salurkan Bantuan Bahan Bangunan Masjid di Desa Ngidiho Galela Barat

Rahman kemudian coba ikhlas dan lapang dada lalu menenangkan istrinya.

"Sabar saja, mungkin ini cobaan,"kata Rahman.  

Meski demikian Hani terus menyinggung hasil usaha bersama suaminya membangun rumah. 

"Man, tong cari doi (Uang)sengsara begini kong rumah so ancor. Cari doi sengara kong,"cerita Rahman dikeluhkan istrinya.

"Sabar saja, nanti cari uang lagi, baru torang  bangun rumah lagi,"ujar Rahman menguatkan istrinya.

Sampai sekarang istri  Rahman tak kuat melihat kondisi rumahnya. 

"Saya ajak istri saya bersih-bersih, tapi dia tidak mau. Alasannya tara (tidak) sanggup,"tutupnya.  (*)

Sumber: Tribun Ternate
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved