Begini Cara Kesultanan Ternate Tetapkan Idul Adha, Terbitkan Surat Maklumat Berbahasa

Untuk menetapkan Salat Idul Adha 2022, Kesultanan Ternate membuat sebuah surat maklumat berbahasa Ternate yang dinamakan Idin Kolano

Penulis: Randi Basri | Editor: Munawir Taoeda
TribunTernate.com/Istimewa
KEPUTUSAN: Sebuah maklumat berbahasa Ternate dikeluarkan oleh Kesultanan Ternate, yang dinamakan Idin Kolano. Dalam maklumat bersebut, Kesultanan Ternate menetapkan Idul Adha jaruh pada 9 Juli 2022, Jumat (8/7/2022). 

TRIBUNTERNATE.COM - Kesultanan Ternate resmi menetapkan pelaksanaan Salat Idul Adha 2022, pada Sabtu 9 Juli 2022. Penetapan itu dituangkan dalam "idin kolano", yang ditandatangani Kolano Moloku Kie Raha, Buldan Ternate, Hidayatullah Sjah.

Jo Hukum Soa-Sio Kesultanan Ternate, Gunawan Yusuf Radjim menjelaskan, dalam hisab dan rukyat kali ini, 1 Dzulhijjah jatuh pada Kamis (30/6), maka 10 Dzulhijjah jatuh pada Sabtu (9/8) masehi.

Menurutnya, penetapan ini juga tertuang dalam "idin kolano", di mana Idin Kolano sebelum ditetapkan, terlebih dahulu dilaksanakan rapat adat oleh Bobato Akhirat (perangkat adat urusan keagamaan).

"Kemudian berdasarkan kebiasaan-kebiasaan menghitung penanggalan lewat rukyat dan hisab tadi kemudian menetapkan tanggal 10 Dzulhijah jatuh di hari Sabtu, "katanya.

Baca juga: Polres Ternate Akan Benahi Pelayanan yang Bersentuhan Dengan Publik

Lanjut dia, rapat para imam yang dipimpin oleh Jo Kalem itu kemudian dibawa ke dalam rapat antara Bobato Dunia dan Bobato Akhirat.

"Hasil rapat itu baru dibawa ke Jo Ou (Sultan) dan Jo Ou menetapkan Idin jatu pada Sabtu, tanggal 9 Juli 2022, "ucapnya.

Dia juga menjelaskan, dalam konteks Idul Adha, Kesultanan Ternate berpatokan pada kalender hisabiyah rukyat yang sudah disusun berabad-abad lamanya.

Jo Hukum Soa-Sio Kesultanan Ternate, Gunawan Yusuf Radjim, Rabu (13/4/2022)
Jo Hukum Soa-Sio Kesultanan Ternate, Gunawan Yusuf Radjim.

Terakhir, skema hisabiyah rukyat ditulis 300 tahun lalu oleh Mufti Besar Kesultanan Ternate, Habib Muhammad Bin Abdurrahman Albaar bersama Joguru Tuljuddah.

"Itu di zaman Sultan Haji Muhammad Usman pada 1902. Lalu dilanjutkan oleh Mufti Habib Hasyim bin Muhammad Albaar, "jelasnya.

Menurutnya, hampir rata-rata 4 kesultanan yakni Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan, punya asas yang sama. Mengacu pada wukuf di arafah.

Dia mengaku, baru kali ini terjadi perbedaan keputusan pemerintah antara wukuf di arafah dengan hisab secara umum.

Kendati demikian, dia menegaskan bahwa pihaknya tidak menyalahkannya. "Kami sangat menghargai keputusan pemerintah, "tegasnya.

Dia menilai, mungkin ada tim hisabiyah yang dipercayakan pemerintah dengan metode baru, sehingga menghasilkan rukyat yang berbeda secara umum.

Baca juga: Perkuat Organisasi, DPD IMM Maluku Utara Buka Komisariat di Universitas Bumi Hijrah Tidore

"Sebagai Qadhi Kesultanan, saya imbau seluruh masyarakat adat Ternate agar tidak menjadikan perbedaan ini sebagai perpecahan, "pesannya.

Bagi dia, perbedaan adalah sunnatullah yang harus diterima, sebagai wujud moderasi beragama.

"Kita tidak mengklaim paling benar. Dan perbedaan waktu salat Idul Adha ini tidak mengurangi loyalitas Kesultanan Ternate terhadap NKRI, "pungkasnya (*)

Sumber: Tribun Ternate
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved