Kasus Penembakan Brigadir J di Rumah Irjen Ferdy Sambo, 3 Kali Jokowi Berkomentar: Harus Transparan
Hampir dua pekan berlalu, Jokowi terhitung telah tiga kali melontarkan komentar mengenai insiden polisi tembak polisi tersebut.
TRIBUNTERNATE.COM - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menaruh perhatian khusus terhadap kasus penembakan sesama anggota polisi yang terjadi di rumah dinas Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Irjen Ferdy Sambo.
Diketahui, insiden polisi tembak polisi antara Bharada E dan Brigadir J terjadi di rumah dinas Kadiv Propam Irjen Pol Ferdy Sambo di kompleks Polri Duren Tiga, Pancoran Mas, Jakarta Selatan.
Kasus ini terjadi pada Jumat (8/7/2022) lalu, sekitar pukul 17.00 WIB.
Dalam kasus tersebut, Brigadir Nopryansah Yosua Hutabarat alias Brigadir J tewas setelah terjadi baku tembak dengan Bharada E.
Kejadian penembakan dipicu akibat pelecehan yang dilakukan Brigadir J kepada istri Irjen Ferdy Sambo, yakni Putri Candrawathi.
Brigadir J diduga melecehkan istri Irjen Ferdy Sambo di dalam kamar dengan menodongkan senjata ke kepalanya.
Diketahui, Brigadir J dan Bharada E merupakan pengawal Irjen Ferdy Sambo.
Kematian Brigadir J dalam insiden penembakan tersebut juga dinilai penuh kejanggalan.
Adapun pasca-kasus penembakan, Irjen Ferdy Sambo telah dinonaktifkan dari jabatan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) per Senin (18/7/2022).
Hampir dua pekan berlalu, Jokowi terhitung telah tiga kali melontarkan komentar mengenai insiden polisi tembak polisi tersebut.
Pertama, saat berada di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Subang, Jawa Barat, Selasa (12/7/2022) lalu, Jokowi menanggapi kasus ini.
Saat itu, Jokowi mendesak Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo agar mengusut kasus penembakan yang menyebabkan satu anggota polisi tewas tersebut.
“Proses hukum harus dilakukan,” kata Jokowi.
Kedua, saat Jokowi bertemu dengan pimpinan redaksi media nasional di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (13/7/2022).
Jokowi meminta, kasus itu dituntaskan dengan cara yang terbuka sehingga masyarakat tidak ragu.
“Tuntaskan. Jangan ditutupi, terbuka. Jangan sampai ada keraguan dari masyarakat,” ujar Presiden saat itu.
Ketiga, saat Jokowi berada di NTT pada Kamis (21/7/2022) hari ini dalam rangka kunjungan kerja.
Dalam kesempatan ini, Jokowi meminta kasus penembakan di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo diusut tuntas dan transparan.
“Saya kan sudah sampaikan, usut tuntas. buka apa adanya. Jangan ada yang ditutup-tutupi, transparan, sudah,” kata Jokowi di Pulau Rinca, Nusa Tenggara Timur, Kamis (21/7/2022).
Pengusutan kasus yang terbuka dan transparan, kata presiden, sangat penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian.
“Itu penting untuk agar masyarakat tidak ada keragu-raguan terhadap peristiwa yang ada. Ini yang harus dijaga, kepercayaan publik terhadap Polri harus dijaga,” ujar Jokowi.
Baca juga: Irjen Ferdy Sambo Dinonaktifkan dari Jabatan Kadiv Propam Polri, Ini Pertimbangan Kapolri
Baca juga: Gedung Sekretariat di Universitas Khairun Ternate Terbakar, Pemicu Kompor Meledak
Baca juga: 14 Platform Digital Sudah Daftar PSE ke Kominfo: Ada Tinder, Twitter, hingga Michat
Apa hasilnya sejauh ini?
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sejauh ini sudah menonaktifkan dua jenderal dan seorang kombes dari jabatannya terkait kasus kematian Brigadir J.
Perwira tinggi Polri yang dinonaktifkan pertama kali oleh Kapolri terkait kasus tersebut adalah Irjen Ferdy Sambo.
Ia dinonaktifkan dari jabatannya sebagai Kadiv Propam Polri.
Penonaktifkan Irjen Ferdy Sambo dilakukan setelah muncul desakan publik terkait kematian Brigadir J.
''Saya putuskan mulai malam ini jabatan Irjen Pol Ferdy Sambo sebagai Kadiv Propam Polri kita nonaktifkan,'' ujar Kapolri dalam keterangan pers di Jakarta, Senin (18/7/2022) malam.
Polisi juga telah mendapatkan CCTV di sekitar rumah Irjen Ferdy Sambo.
CCTV itu diklaim akan membuka tabir pembunuhan yang mendapatkan atensi dari masyarakat.
Baca juga: Lagi, Penembakan oleh KKB di Nduga, Papua: 10 Orang Tewas, Pelaku Masih Diburu Polisi
Baca juga: Tersangka Penembakan Shinzo Abe Mengaku Sengaja Ingin Membunuh karena Tidak Puas dengan Abe
Bagaimana dengan hasil yang didapatkan Komnas HAM?
Komisioner Bidang Pemantauan dan Penyelidikan M Choirul Anam mengatakan timnya telah mendapatkan beberapa rentetan kronologi yang sangat penting dalam kasus tewasnya Brigadir J di rumah Kadiv Propam Polri nonaktif Irjen Pol Ferdy Sambo.
Ia mengatakan saat ini tim Komnas HAM tengah mendalami rentetan yang sangat penting tersebut beserta bukti sandingannya.
Hal tersebut disampaikannya di kanal Youtube Humas Komnas HAM RI pada Rabu (20/7/2022) malam.
"Kami mendapatkan beberapa sekuen (rentetan) kronologi yang sangat sangat penting, itu juga sedang kami dalami dengan berbagai bukti, sandingan bukti dan lain sebagainya," kata Anam.
Anam mengatakan timnya juga telah mengkonsolidasi semua kronologi yang telah didapatkan.
Proses tersebut, kata Anam, penting bagi tim dalam permintaan keterangan dengan kepolisian pekan depan.
Anam mengatakan saat ini tim terus menerus melakukan diskusi secara mendalam di internal dengan berbagai informasi yang baru masuk.
Ia menjelaskan dalam proses tersebut setiap informasi yang didapatkan tim akan langsung dicek datanya, rentetan logika peristiwanya, juga rentetan konstruksi peristiwanya.
"Yang paling penting juga minggu ini, kami akan rampungkan soal kronologi. Karena dengan kronologilah kita bisa melihat dengan lebih jernih sebenarnya apa yang terjadi," kata Anam.
"Kepada para pihak yang sudah memberikan berbagai informasi kepada kami, kami ucapkan terima kasih. Dukung Komnas HAM untuk bekerja secara independen dan imparsial," kata dia.
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Sudah 3 Kali Jokowi Komentari Kasus Penembakan Brigadir J di Rumah Irjen Ferdy Sambo, Ada Apa?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/Baku-tembak-terjadi-antara-Brigadir-J-dan-Bharada-E-di-rumah-Irjen-Ferdy-Sambo-Jumat-872022.jpg)