Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan
Kisah Arif Junaedi, Putranya Jadi Korban Tewas di Tragedi Kanjuruhan: Sebelumnya Sudah Saya Larang
M Arif Junaedi (48), ayah korban tak kuasa menahan kesedihannya saat melihat jenazah putra pertamanya itu diturunkan ke liang lahat.
"Sebelumnya sudah saya larang, tapi ya begitu, mau gimana lagi," ujarnya, Minggu, dikutip dari Kompas.com.
Arif menuturkan, Irsyad berangkat ke Malang bersama adiknya dengan mengendarai sepeda motor pada Sabtu (1/10/2022) pagi.
Sebelum berangkat, kakak beradik itu berpamitan kepada ayah dan ibunya.
Keduanya juga sempat minta tambahan uang saku untuk bekal selama di Malang.
Saat di Malang, Irsyad mampir ke rumah pamannya.

Baca juga: Dilarang FIFA, Polisi Tetap Pakai Gas Air Mata di Kanjuruhan: Anggaran Nyaris Rp 1 T dalam 5 Tahun
Baca juga: Valentino Jebret Simanjuntak Mundur dari Komentator Liga 1: Bentuk Empati Korban Kanjuruhan
Selepas magrib, Irsyad berangkat ke Stadion Kanjuruhan bersama dua kakak sepupunya.
Sementara sang adik, tetap tinggal di rumah pamannya.
Dikatakan Arif, ia kemudian mendapat kabar bahwa anaknya belum pulang setelah menonton pertandingan sepak bola di Kanjuruhan.
Saat mendapat kabar itu, ia sedang bekerja di Kabupaten Tulungagung.
"Saya posisinya kerja di Tulungagung ditelepon ada musibah di Kanjuruhan saat itu (korban) belum ketemu itu sekitar pukul 03.00 WIB," terangnya.
Keluarga dibantu relawan mahasiswa lantas berupaya mencari hingga mendapati korban ditemukan di Rumah Sakit Wava Husada, Kabupaten Malang.
"Kondisinya kritis dan meninggal di rumah sakit Wava Husada, Kepanjen karena meluber banyak korbannya sehingga tidak terkontrol," bebernya.
Arif mengungkapkan, melihat kondisi tubuh anaknya, Irsyad kemungkinan terkena dampak gas air mata yang ditembakkan petugas.
Lalu, Irsyad terinjak-injak penonton lain saat terjadi kepanikan di dalam Stadion Kanjuruhan.
Dugaan itu berangkat dari kondisi luka pada tubuh korban yang mengalami memar di wajah serta terdapat luka di dada dan tangan.
