Tragedi Kanjuruhan

Muncul Desakan untuk Autopsi Jenazah Korban Tragedi Kanjuruhan demi Hindari Spekulasi Baru

Desakan dari TPF Aremania tersebut juga sejalan dengan permintaan pihak keluarga yang menuntut keadilan untuk korban.

Editor: Rizki A
Surya Malang/Purwanto
Para suporter Arema FC turun ke lapangan setelah kekalahan Arema FC dalam pertandingan Liga 1 melawan Persebaya Surabaya dengan skor 2-3 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022) malam. Akibat penembakan gas air mata yang diarahkan ke lapangan dan tribun, banyak penonton yang berdesak-desakan hingga menimbulkan korban jiwa. 

TRIBUNTERNATE.COM - Investigasi dan penyelidikan terhadap Tragedi Kanjuruhan masih terus dilakukan.

Salah satu hal yang dinilai perlu dilakukan untuk mengusut tuntas tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur itu adalah autopsi jenazah korban tewasnya.

Diketahui, sebanyak 132 orang meninggal dunia dan 622 orang luka-luka dalam insiden desak-desakan setelah polisi menembakkan gas air mata ke arah lapangan dan tribun pasca-laga Arema FC vs Persebaya, Sabtu (1/10/2022) silam.

Desakan untuk autopsi terhadap korban Tragedi Kanjuruhan disuarakan TPF Aremania agar penyebab pasti kematian ratusan orang tersebut terungkap.

Desakan dari TPF Aremania tersebut juga sejalan dengan permintaan pihak keluarga yang menuntut keadilan untuk korban.

“Aremania terutama di gerakan usut tuntas itu ingin menggali dan mencari fakta yang autentik. Kita akan berdebat ke mana-mana penyebab kematian kalau kita tidak punya hasil autopsi,” tutur Sekjen Komisi Kontras, Andi Irfan, yang mendampingi TPF Aremania, dilansir Kompas.com.

“Sejumlah keluarga korban telah setuju melakukan autopsi dan tapi lebih dari itu saya berharap itu bukan Aremania yang bergerak, tapi negara yang bergerak,” katanya menambahkan.

Sejauh ini, diketahui penyebab para korban meninggal adalah tembakan gas air mata yang memicu kepanikan, sehingga desak-desakan menjadi tak terhindarkan.

Namun, hasil investigasi yang tidak rinci menciptakan berbagai spekulasi baru.

Dengan dilakukan autopsi, diharapkan akan diketahui secara pasti alasan korban meninggal.

Sehingga, nantinya bisa ditarik benang merah tentang siapa yang harus bertanggung jawab pada tragedi Kanjuruhan ini.

Baca juga: Hasil Pertemuan Jokowi dan FIFA: Stadion Kanjuruhan Dibangun Ulang, Rencana Kantor FIFA di Indonesia

Baca juga: Rekaman CCTV Durasi 3,5 Jam Hilang, TGIPF Tragedi Kanjuruhan Berupaya Memintanya ke Mabes Polri

Baca juga: 17 Hari Pasca-Tragedi Stadion Kanjuruhan, Jumlah Korban Tewas Kembali Bertambah Jadi 133 Jiwa

TPF Aremania
Andi Irfan (tengah) yang tergabung dalam Tim Pencari Fakta (TPF) Aremania menyampaikan hasil investigasinya terkait Tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022 lalu di Gedung KNPI Malang, Jumat (14/10/2022) malam.

Desakan otopsi juga didukung oleh Anjar Nawan Yuski selaku pendamping hukum TPF Aremania.

Ia menerangkan bahwa kematian seluruh korban merupakan kematian tidak wajar yang disebabkan karena suatu hal.

Sehingga, berdasarkan hukum harus ada proses investigasi menyeluruh untuk menggali alasan di balik kematian korban.

“Kesamaan ciri-ciri umum pada jenazah korban jiwa, membiru, menghitam, mata bengkak. Nah, ini kita harus sepakat dulu bahwa kematiannya tidak wajar,” ujar Anjar Nawan Yuski.

“Ketika ada kematian yang tidak wajar maka sudah semestinya pihak kepolisian melakukan KUHAP (Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana), untuk melakukan pemeriksaan otopsi. Tujuannya untuk memastikan apa penyebab kematian ini,” ujarnya. (*)

Sumber: Tribunnews
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved