Liga Inggris
Ogah Malu, Erik ten Hag Bangga Man United Susah Payah Libas Coventry: Prestasi Besar, Ga Memalukan
Manchester United harus susah payah sampai adu penalti untuk bisa menyingkirkan klub Championship Coventry City.
Penulis: Ifa Nabila | Editor: Ifa Nabila
TRIBUNTERNATE.COM - Manchester United harus susah payah sampai adu penalti untuk bisa menyingkirkan klub Championship Coventry City.
Akhirnya setelah laga berakhir 3-3, Manchester United unggul 4-2 dari adu penalti.
Pelatih Manchester United, Erik ten Hag, ogah menganggap kemenangan di semifinal FA Cup itu sebagai hal yang memalukan.
Baca juga: Mason Mount Cedera Bareng Amrabat, Varane, dan Martinez, Fans: Man United Kena Tipu Chelsea
Baca juga: Duo Agen Chelsea Bikin Man City Kalah Lawan Madrid di UCL, Kepa dan Rudiger Diam-diam Cepu ke Lunin
Baca juga: Jack Grealish Handball, Fans: Harus Penalti tapi Chelsea Dikalahkan Man City gegara Nicolas Jackson
Diketahui, Manchester United sebenarnya sempat unggul dengan gol dari Scott McTominay (23'), Harry Maguire (45+1'), dan Bruno Fernandes (58').
Namun, Andre Onana langsung kebobolan dua gol dari Elis Simms (71') dan Callum O'Hare (79') ditambah penalti dari Haji Wright (90+5').
Akhirnya setelah extra time, laga berlanjut ke adu penalti di mana Setan Merah unggul empat gol dari Rasmus Hojlund, Bruno Fernandes, Christian Eriksen, dan Diogo Dalot.
Hanya Casemiro yang gagal mengeksekusi tendangan pertama.
Untuk Coventry City, hanya berhasil membukukan gol dari Haji Wright dan Victor Torp, sedangkan Callum O'Hare dan Ben Sheaf bisa dihalau Andre Onana.
Erik ten Hag mengaku bangga pada pencapaian anak asuhnya, terutama di tengah badai cedera.
Mantan pelatih Ajax Amsterdam itu tidak mau memandang kemenangan itu sebagai hal yang memalukan.
Erik ten Hag juga mengeluhkan soal keputusan-keputusan wasit yang dirasa selalu merugikan Manchester United.
"Saya tahu kami membuat sejumlah kesalahan, tapi itu bukan hal yang memalukan, ini adalah prestasi yang besar."
"Mengingat United menjadi tim yang besar satu dekade lalu, mereka meraih final tiga kali, dan kini dua kali dalam dua tahun, dengan segala kemunduran, termasuk hari ini, bisa 3-3 itu gila."
"Lalu kami harusnya mendapat penalti agar bisa 4-3, ada handball yang harus disorot ketimbang penalti yang membobol gawang kami."
"Itu terjadi berkali-kali, laga melawan Chelsea, dua penalti gila, melawan Liverpool, penalti juga sangat dipertanyakan. Ini seperti kutukan melawan kami."
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.