Kemenag Malut
Waduh! Menag RI Nasaruddin Umar Sebut Ulama Bukan Pemadam Kebakaran dan Mobil Mogok
"Ulama harus dilibatkan dalam berbagai persoalan, seperti rancangan membangun daerah/wilayah, "kata Kemenag RI Nasaruddin Umar
Penulis: M Julfikram Suhadi | Editor: Munawir Taoeda
TRIBUNTERNATE.COM, TERNATE - Menteri Agama (Menag) RI Nasaruddin Umar meminta kepada pemerintah, agar jangan jadikan ulama sebagai alat menyelesaikan masalah.
Melainkan ulama atau tokoh agama perlu dilibatkan dalam merumuskan rencana pembangunan ideal di masa mendatang.
Hal Ini disampaikannya saatmembuka Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Kemenag Maluku Utara di Aula Asrama Haji Transit Ternate, Sabtu (1/2/2025).
"Kita harus buktikan bahwa tanpa Kementerian Agama, tidak mungkin jualan-jualan ke luar negeri itu bisa laku, "ujarnya.
Baca juga: Hadiri Raker Kemenag Maluku Utara, Menag RI Tekankan Kerukunan Antar Umat Beragama
Menurutnya, negara atau daerah bukan hanya bermodalkan keindahan alam, potensi sumber daya alam (SDA), peradaban yang manusiawi dan kearifan lokal yang bijaksana.
Karena semua potensi yang dimiliki harus sejalan dengan kerukunan, kenyamanan dan keamanan.
"Kita punya banyak potensi, tapi kalau tanpa kerukunan, apakah kita bisa menikmati itu semua ?."
"Saya mau bilang bahwa tidak ada turis yang mau datang ke Indonesia kalau negara ini kacau."
"Untuk itu, saya ingin menegaskan bahwa jangan pernah melibatkan para tokoh agama hanya untuk membicarakan persoalan akibat yang muncul, yang disebabkan oleh suatu sebab. Di mana tokoh-tokoh agama tidak pernah terlintas."
"Karena mereka melibatkan para tokoh agama hanya untuk memecahkan persoalan."
"Tetapi penyebab persoalan itu muncul di OPD terkait (Bappeda), para tokoh-tokoh agama tidak pernah diajak" katanya
"Alih-alih sekarang ulama diundang ke Bapenas untukrumuskan rencana pembangunan akan datang, melainkan yang diundang adalah Kementerian Sosial, "keluh Nasaruddin.
Padahal, kata dia, banyak masalah sosial seperti kemiskinan yang tinggi, kerusakan lingkungan, kerusakan moral dan lainnya.
"Namun para tokoh agama tidak pernah diundang untuk membicarakan tentang konsep atas masalah tersebut, "sebutnya.
Sehingga, ia mengibaratkan para tokoh agama hanya seperti pemadam kebakaran dan pendorong mobil yang sedang mogok.
"Para tokoh agama ini seperti pemadam kebakaran atau pendorong mobil mogok."
"Yang ketika setelah jalan langsung lupa, atau setelah dipadamkan langsung lupa."
"Coba kita lihat, menjelang Pemilu, mereka sering panggil ulama atau tokoh-tokoh agama, tapi setelah terpilih, langsung lupa."
"Giliran ada masalah, panggil lagi, tapi ketika masalah selesai, langsung kembali lupa. Nah relasi seperti ini bagi saya tidak bagus, "tambahnya.
Harusnya, kata Nasaruddin, yang ideal itu ketika antar Ulama dan Pemerintah paralel atau selaras.
"Di mana para tokoh agama maupun pemerintah harus dijadikan figur untuk memberikan nasehat kepada para eksekutor atau pejabat."
"Sehingga jangan sampai saling melecehkan, baik tokoh agama melecehkan pemerintah begitu pun sebaliknya, "ucapnya.
Seraya menambahkan, kalau mau lihat daerah itu aman, maka lihatlah hubungan antar ulama dan pemerintahnya.
Baca juga: Kuota 2025 Bertambah, Kemenag Morotai Harap Biaya Haji Turun
"Karena jika hubungannya baik, maka negera tersebut pun baik atau aman, contohnya diMaluku Utara ini."
"Maluku Utara dengan berbagai agama, ras, budaya, namun karena hubungan pemerintah dan ulamanya baik."
"Maka masyarakatnya pun dapat hidup dengan rukun dan aman, "tandasnya Nasaruddin mengakhiri. (*)
| Kemenag Maluku Utara Salurkan 1.165 Paket Sembako Lewat Tebar Harapan Ramadan |
|
|---|
| Tunjangan Profesi Guru Madrasah Cair Bertahap, Termasuk Lulusan PPG 2025 |
|
|---|
| Dukung Mudik Aman, Kemenag Maluku Utara Hadirkan 48 Masjid Ramah Pemudik |
|
|---|
| Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada Kamis 19 Februari 2026 |
|
|---|
| Hilal 1447 H Tidak Terlihat di Langit Ternate |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/Kata-Kemenag-RI-soal-ulama.jpg)