Rabu, 15 April 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Pemprov Malut

Sherly Laos: Kelapa Adalah Emas Hijau Maluku Utara, Hilirisasi Adalah Kuncinya

Sherly Laos menyampaikan sejumlah kebutuhan mendasar Maluku Utara untuk mendukung hilirisasi pertanian, khususnya kelapa, cengkeh dan pala

Penulis: Sansul Sardi | Editor: Munawir Taoeda
Istimewa
KERJA SAMA: Gubernur Maluku Utara Sherly Laos foto bersama Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan RI Agus Harimurti Yudhoyono usai pertemuan. 

TRIBUNTERNATE.COM, SOFIFI - Gubernur Maluku Utara Sherly Laos menegaskan bahwa kelapa adalah 'emas hijau' bagi provinsi tersebut.

Menurutnya, nilai tukar petani hanya akan meningkat jika jalur distribusi hasil kebun terhubung dengan industri melalui pembangunan infrastruktur yang memadai.

"Kelapa adalah emas hijau Maluku Utara. Hilirisasi adalah kuncinya. Nilai tukar petani hanya bisa tercapai bila jalan tani dibangun dan terhubung dengan industri, "ujar Sherly Laos pada keterangan yang diterima redaksi Tribunternate.com.

Pernyataan itu disampaikan usai pertemuan bersama Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan RI Agus Harimurti Yudhoyono serta Menteri Transmigrasi RI Cifti T. Sulaiman, pada Kamis (2/10/2025). Pertemuan tersebut juga dihadiri para bupati dari Halmahera Selatan, Halmahera Utara, dan Pulau Morotai.

Baca juga: 330 Siswa Madrasah Unjuk Inovasi dan Prestasi di Olimpiade Madrasah Indonesia 2025 Maluku Utara

Dalam pertemuan itu, Sherly Laos menyampaikan sejumlah kebutuhan mendasar Maluku Utara untuk mendukung hilirisasi pertanian, khususnya kelapa, cengkeh dan pala.

Pembangunan jalan tani dan jembatan desa agar hasil kebun tidak berhenti di lahan, tetapi dapat dibawa langsung ke pusat pengolahan secara efisien.

Infrastruktur ini diyakini mampu menopang industri turunan kelapa, mulai dari coconut milk, desiccated coconut, arang kelapa, hingga coco peat.

Pengembangan pelabuhan internasional untuk memperkuat konektivitas antar-pulau dan membuka akses pasar global.

Dengan begitu, petani kecil di desa dapat masuk ke rantai ekonomi besar dan merasakan langsung nilai tambah produknya.

Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pihak swasta untuk membangun ekosistem hilirisasi kelapa, terutama di kawasan transmigrasi yang memiliki potensi pasar bernilai triliunan rupiah.

Sherly Laos menyampaikan apresiasi atas dukungan, arahan, dan masukan dari pemerintah pusat (Pempus).

Baca juga: Sarbin Sehe: Benar Maluku Utara Alami Pertumbuhan Ekonomi, Apakah Merata?

Lanjutnya, energi positif yang diberikan Menko dan Menteri Transmigrasi semakin memacu semangat Pemprov Maluku Utara untuk bekerja lebih kreatif, adaptif dan kolaboratif.

"Setiap jalan yang terbangun adalah janji bahwa tidak ada desa yang tertinggal, dan setiap tetes keringat petani punya akses menuju nilai tukar yang lebih adil."

"Dengan strategi hilirisasi dan dukungan infrastruktur, saya optimistis Maluku Utara dapat menjadi salah satu pusat industri turunan kelapa terbesar di Indonesia, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di daerah, "tandas Sherly Laos. (*)

Sumber: Tribun Ternate
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved