HARITA NICKEL
Menakar Standar Ideal Tata Kelola Lingkungan di Industri Pertambangan
Harita Nickel di Halmahera Selatan dinilai menerapkan sistem pengelolaan lingkungan yang komprehensif, dimulai dari manajemen air yang sangat ketat
Ringkasan Berita:1. Industri pertambangan di Indonesia terus menjadi pusat perhatian terkait dampaknya terhadap ekosistem
2. Di tengah meningkatnya tantangan kelestarian alam, implementasi regulasi lingkungan yang ketat menjadi kunci
3. Hal itu agar operasional industri tetap berjalan selaras dengan daya dukung lingkungan di wilayah sekitar
TRIBUNTERNATE.COM, TERNATE - Industri pertambangan di Indonesia terus menjadi pusat perhatian terkait dampaknya terhadap ekosistem.
Di tengah meningkatnya tantangan kelestarian alam, implementasi regulasi lingkungan yang ketat menjadi kunci agar operasional industri tetap berjalan selaras dengan daya dukung lingkungan di wilayah sekitar.
Akademisi lingkungan Universitas Indonesia, Tri Edhi Budhi Soesilo, menegaskan bahwa regulasi lingkungan seperti Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) sebenarnya sudah sangat lengkap.
Namun, tantangan utama terletak pada konsistensi penerapan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) di lapangan.
Baca juga: Menembus Laut Demi Antar MBG Ribuan Siswa di Kecamatan Kepulauan Botang Lomang Halmahera Selatan
"Pengelolaan lingkungan dalam aktivitas pertambangan modern tidak bisa dipisahkan dari seluruh tahapan kegiatan, mulai dari hulu hingga hilir, "ujar Edhi di Jakarta.
Sebagai referensi dari berbagai tinjauan lapangan di seluruh Indonesia, Edhi menyoroti operasional Harita Nickel di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara.
Perusahaan ini dinilai menerapkan sistem pengelolaan lingkungan yang komprehensif, dimulai dari manajemen air yang sangat ketat.
Harita juga membangun infrastruktur berupa check dam dan kolam penampungan untuk menahan limpasan air hujan, sehingga debit air tidak melimpah ke perkampungan warga saat cuaca ekstrem.
Selain itu, pengendalian erosi dilakukan secara progresif melalui reklamasi pascatambang. Begitu proses penggalian selesai, area tersebut langsung ditanami kembali untuk memulihkan fungsi lahan.
Dalam hal inovasi limbah, Harita memanfaatkan slag nikel hasil proses pirometalurgi sebagai campuran media tanam untuk reklamasi.
Inovasi ini bahkan telah mengantongi sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI).
Efisiensi teknologi juga terlihat pada penerapan Dry Stack Tailing Facilities (DSTF). Teknologi ini bekerja dengan memisahkan air dari sisa batuan melalui proses pengepresan, sehingga menghasilkan lempengan kering yang dapat dimanfaatkan kembali sebagai material penanaman.
Sementara itu, untuk mencegah pencemaran badan air, limbah cair dari proses hidrometalurgi dikendalikan melalui kolam penampungan raksasa seluas hampir 12 hektare.
Selain aspek teknis, Edhi juga menyoroti pentingnya perhitungan daya dukung sumber air agar kebutuhan industri tidak merugikan masyarakat lokal.
Harita Nickel dinilai telah memiliki perhitungan yang seimbang antara ketersediaan sumber air dan kebutuhan operasional dalam jangka panjang.
| Permukiman Baru Kawasi Jadi Model Hunian Inklusif dan Berkelanjutan di Maluku Utara |
|
|---|
| Tokoh Muda Maluku Utara Serukan Penyelesaian Hukum atas Polemik Lahan Desa Soligi Halmahera Selatan |
|
|---|
| Melalui Program PELITA, Harita Nickel dan BPVP Ternate Tingkatkan Daya Saing SDM Lokal |
|
|---|
| Harita Nickel Iftar dengan Insan Pers se Kota Ternate: Sinergi, Kolaborasi untuk Maluku Utara Maju |
|
|---|
| Dorong Kemandirian Ekonomi Warga, Harita Nickel Hadirkan Sapa Ramadan di Permukiman Baru Kawasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/Akademisi-Lingkungan-Universitas-Indonesia-Tri-Edhi-Budhi-Soesilo.jpg)