Jumat, 29 Mei 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Embung Hiri Jebol

Warga Kelurahan Tafraka Ternate Was-was Banjir Susulan

"Warga sudah kemas surat-surat penting, sertifikat rumah dan barang berharga lainnya jika banjir, "kata Tokoh Pemuda Kelurahan Tafraka, Iswan Ismail

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Sansul Sardi | Editor: Munawir Taoeda
TribunTernate.com/Sansul Sardi
CUACA: Jalur air dari pegunungan ke laut yang bersebelahan dengan rumah warga di Kelurahan Tafraka, Kecamatan Pulau Hiri, Kota Ternate, Kamis (19/2/2026). Warga sekitar khawatir banjir susulan pasca insiden serupa kemarin akibat embung jebol 
Ringkasan Berita:1. Kekhawatiran warga Kelurahan Tafraka, Kecamatan Pulau Hiri, Kota Ternate masih tinggi pasca banjir yang kembali terjadi akibat embung yang jebol
2. Warga kini hidup dalam kondisi siaga, terutama saat hujan mulai turun
3. Warga yang tinggal di kawasan rawan banjir terpaksa terus bersiap untuk evakuasi kapan saja

TRIBUNTERNATE.COM, TERNATE - Kekhawatiran warga Kelurahan Tafraka, Kecamatan Pulau Hiri, Kota Ternate, Maluku Utara masih tinggi pasca banjir yang kembali terjadi akibat embung yang jebol.

Warga kini hidup dalam kondisi siaga, terutama saat hujan mulai turun.

Tokoh Pemuda Tafraka, Iswan Ismail, menegaskan bahwa warga yang tinggal di kawasan rawan banjir terpaksa terus bersiap untuk evakuasi kapan saja.

"Sekarang ini warga tetap jaga-jaga, surat-surat penting, sertifikat rumah dan barang berharga sudah mulai disiapkan untuk evakuasi karena hujan sudah mulai turun lagi,” kata Iswan saat dikonfirmasi Tribunternate.com, Kamis (19/2/2026).

Baca juga: BREAKING NEWS: Banjir Rendam Tafraka di Malam Pertama Tarawih, Embung Pulau Hiri Ternate Jebol

Menurutnya, Kelurahan Tafraka sangat rentan (bencan), bahkan hujan dengan intensitas ringan saja sudah cukup memicu banjir yang mengalir deras dari daratan menuju laut.

"Di Tafraka ini, hujan sedikit saja tetap banjir, air dari darat langsung lari ke laut."

"Warga tadi sudah cek ke atas, air di embung sudah penuh tapi tidak bisa dialirkan ke mana-mana, "ujarnya.

CUACA: Jalur air yang akan keluar jika hujan deras mulai turun di Kelurahan Tafraka, Kecamatan Pulau Hiri, Kota Ternate, Kamis (19/2/2026)
CUACA: Jalur air yang akan keluar jika hujan deras mulai turun di Kelurahan Tafraka, Kecamatan Pulau Hiri, Kota Ternate, Kamis (19/2/2026) (TribunTernate.com/Sansul Sardi)

Iswan menilai kehadiran pihak terkait, termasuk Balai Wilayah Sungai (BWS), selama ini hanya sebatas kegiatan dokumentasi tanpa langkah nyata di lapangan.

"Kami ini butuh solusi, bukan orang datang cuma foto-foto, ukur-ukur, lalu pulang. Itu bukan yang masyarakat perlukan, "tegasnya.

Ia menyebut embung yang dibangun sekitar dua tahun terakhir justru menjadi sumber masalah baru karena banjir terus terjadi sejak proyek tersebut selesai.

"Sejak embung dibangun, banjir datang terus. Jadi jangan lagi datang hanya untuk pelengkap laporan."

"Yang kami minta adalah pimpinan BWS turun langsung dan jelaskan solusi konkret, "katanya.

Iswan juga mengungkapkan kekecewaan warga karena sebelumnya pihak BWS sempat menyampaikan akan menyiapkan karung pasir sebagai langkah penanganan darurat. Namun hingga kini, masyarakat tidak pernah melihat realisasinya.

"Mereka bilang mau siapkan karung pasir untuk atasi banjir. Tapi sampai sekarang, karungnya warna apa pun masyarakat tidak pernah lihat, "ujarnya dengan nada kecewa.

Banjir yang terjadi tidak hanya merendam rumah warga, tetapi juga fasilitas ibadah seperti musala di lingkungan setempat.

"Kalau hujan turun lagi, air pasti masuk musala lagi. Jalur airnya itu-itu saja, alurnya sama, korbannya juga selalu rumah yang sama,” jelas Iswan.

Ia bahkan mengaku sempat meminta rombongan yang datang hanya untuk dokumentasi agar kembali pulang.

"Mereka datang siang tadi, saya suruh pulang. Karena dokumen banjir ini sudah lengkap dari kemarin. Tidak perlu lagi foto-foto, "katanya.

Iswan menegaskan, masyarakat tidak membutuhkan janji atau pertemuan seremonial, melainkan tindakan cepat dan nyata untuk mencegah banjir susulan.

"Kalau Kepala BWS datang, jangan lagi bicara tunggu-tunggu. Kalau hujan datang lagi, bagaimana? Kami ini tiap hujan harus lari,” ucapnya.

Baca juga: Kadis Pendidikan Taliabu Damruddin: Mengacu Aturan, PPPK Bisa Jadi Kepsek, Asalkan

Ia berharap BWS menyadari bahwa embung adalah proyek mereka, sehingga tanggung jawab penanganannya tidak bisa dilepaskan begitu saja.

"Ini proyek BWS. Tapi masyarakat Tafraka yang menanggung dampaknya. Sudah dua tahun kami hidup dalam kewaspadaan. Hujan sedikit, kami harus siap lari, "tandasnya.

Perlu diketahui proyek embung yang dikerjakan BWS Maluku Utara dua tahun lalu itu menelan anggaran APBN sebesar Rp 13,5 miliar. (*)

Sumber: Tribun Ternate
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved