Pemkab Halmahera Selatan
Ali Dano Hasan: Keterbatasan Anggaran Hambat Promosi Pariwisata Halmahera Selatan
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Halmahera Selatan menunda sejumlah kegiatan promosi wisata akibat keterbatasan anggaran tahun 2026
Penulis: Nurhidayat Hi Gani | Editor: Sitti Muthmainnah
Ringkasan Berita:
- Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Halmahera Selatan menunda sejumlah kegiatan promosi wisata akibat keterbatasan anggaran tahun 2026.
- Kepala Disparbud, Ali Dano Hasan, menyebut pagu anggaran turun dari Rp9 miliar lebih menjadi sekitar Rp6 miliar.
- Salah satu dampak pengurangan anggaran adalah absennya Halmahera Selatan dalam ajang Deep and Extreme Indonesia (DXI) di Jakarta, yang selama ini menjadi pintu masuk penting wisatawan asing.
TRIBUNTERNATE.COM, BACAN - Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Halmahera Selatan, Maluku Utara, Ali Dano Hasan, mengaku anggaran pada OPD yang dipimpinnya mengalami pengurangan signifikan pada tahun anggaran 2026.
Ia menyebut, total pagu anggaran yang dikelola tahun ini hanya di angka Rp6 miliar atau turun Rp3 miliar jika dibandingkan tahun 2025 sebanyak Rp9 miliar lebih.
Ali menyebut, pengurangan anggaran turut berdampak pada sejumlah agenda promosi pariwisata. Meski begitu, ia menyatakan tetap berupaya mendatangkan wisatawan asing.
Baca juga: 249 Desa di Halsel Belum Cairkan DD 2026, Zaki : Dokumen Belum Lengkap
“Promosi itu seharusnya dilakukan setiap tahun karena kami mengejar target kunjungan wisata,” kata Ali dalam keterangannya, Kamis (9/4/2026).
Ia menegaskan, promosi menjadi faktor kunci dalam menarik wisatawan, terutama dari mancanegara.
Namun dengan adanya keterbatasan anggaran membuat Disparbud harus menunda sejumlah kegiatan penting, termasuk partisipasi dalam ajang promosi berskala nasional.
Salah satu kegiatan yang tidak diikuti tahun ini adalah Deep and Extreme Indonesia (DXI) di Jakarta.
Menurut Ali, ajang tersebut selama ini menjadi pintu masuk penting bagi wisatawan asing, terutama dari jaringan wisata Eropa dan komunitas kapal yacht.
“Tahun 2026 kami tidak ikut karena tidak dianggarkan, padahal DXI sangat signifikan dalam menarik wisatawan luar negeri,” tuturnya.
Di sisi lain, pasar wisata domestik dinilai belum mampu menjadi penopang utama. Ali mengungkapkan bajwa jumlah kunjungan wisatawan lokal masih jauh tertinggal dibandingkan wisatawan Eropa.
Menurutnya, wisatawan domestik cenderung berkunjung pada momen tertentu saja, sementara tingginya biaya perjalanan menjadi kendala utama.
“Kami pernah koordinasi dengan agen perjalanan di Jakarta, bahkan dengan harga Rp6 juta, wisatawan sudah bisa mendapatkan tiket pulang-pergi VIP ke Bali,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat destinasi wisata di Halmahera Selatan kalah bersaing dari sisi biaya dan aksesibilitas jika dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia.
Baca juga: Gufran Mahmud : Anggota DPRD Halsel Disiplin, Belum Ada Sanksi Etik
Tetapi daerah berjukuk 'Bumi Saruma' ini memiliki daya tarik unggulan yang kuat, terutama pada sektor wisata bawah laut.
Potensi ini bahkan disebut sebagai yang terbaik di Maluku Utara dan menjadi magnet utama bagi wisatawan Eropa.
“Underwater terbaik di Maluku Utara itu ada di Halmahera Selatan. Tapi kami hanya mengelola retribusi, sementara sektor lain sudah masuk dalam pajak dan pengelolaan lainnya,” tandas Ali. (*)
| Pemkab Halsel Fokus Selesaikan Utang Proyek Lama dan Gaji Pegawai: Kegiatan 2026 Tunggu DBH |
|
|---|
| Raih Penghargaan dari Kemendagri, Pemkab Halmahera Selatan Diberi Bonus Rp1 Miliar |
|
|---|
| Masuki Tahap Akhir, Pembangunan RSP Pulau Makian Halmahera Selatan Ditargetkan Rampung Tahun Ini |
|
|---|
| Minim Inovasi, Disparbud Halmahera Selatan Dinilai Abai Kembangkan Potensi Wisata |
|
|---|
| Hanya Usulkan 3 Lokasi WPR, Pemkab Halmahera Selatan Diminta Adil Terhadap Penambang Lokal |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/Ali-Dano-dinilai-tak-inovatif.jpg)