Jumat, 17 April 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Pemkot Tidore

Ritual Lufu Kie Warnai HUT ke-918 Tidore, Ahmad Laiman Ikut Berlayar

Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan, Ahmad Laiman, bersama jajaran pemerintah mengikuti ritual Lufu Kie dalam rangka HUT ke-918 Tidore

Dok: Prokopim Tidore
HARI JADI TIDORE - Ritual Lufu Kie berawal dari tradisi armada perang Sultan Saifuddin untuk menghadapi kolonial Belanda. Kini, tradisi tersebut dilestarikan sebagai bagian dari budaya, dengan pelayaran Kagunga yang dikawal 12 juanga serta diiringi doa di sejumlah titik, Kamis (9/4/2026). 
Ringkasan Berita:
  1. Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan, Ahmad Laiman, bersama jajaran pemerintah mengikuti ritual Lufu Kie dalam rangka HUT ke-918 Tidore.
  2. Kegiatan ini merupakan tradisi keliling Pulau Tidore menggunakan armada juanga yang sarat nilai sejarah.
  3. Ritual Lufu Kie berawal dari tradisi armada perang Sultan Saifuddin untuk menghadapi kolonial Belanda.

TRIBUNTERNATE.COM, TIDORE — Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan, Ahmad Laiman, bersama jajaran pemerintah daerah mengikuti ritual Lufu Kie sebagai bagian dari rangkaian Hari Jadi Tidore (HJT) ke-918 tahun 2026, yang berlangsung di Pelabuhan Kesultanan Tidore, Kamis (9/4/2026).

Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua I Tim Penggerak PKK Kota Tidore, Ny. Sumiyati Ahmad Laiman, serta Sekretaris Daerah Kota Tidore Kepulauan, Ismail Dukomalamo, bersama unsur Forkopimda dan para bobato Kesultanan Tidore.

Ritual Lufu Kie diawali dengan keberangkatan Jou Sultan Tidore bersama Jou Boki, didampingi Wakil Wali Kota dan rombongan dari kediaman menuju Dermaga Kesultanan. Selanjutnya, rombongan memulai pelayaran mengelilingi Pulau Tidore menggunakan armada tradisional.

Baca juga: Ali Dano Hasan: Keterbatasan Anggaran Hambat Promosi Pariwisata Halsel

Baca juga: Kolaborasi Pemkab Haltim–Antam Dinilai Tepat Tingkatkan Kualitas Layanan Kesehatan

Lufu Kie merupakan tradisi bersejarah yang dahulu digelar sebagai formasi armada perang oleh Sultan Saifuddin “Jou Kota” untuk menghadapi kolonial Belanda. Kini, ritual tersebut dikemas sebagai bagian dari pelestarian budaya dan peringatan hari jadi Tidore.

Dalam pelaksanaannya, armada utama berupa Kagunga (perahu Kesultanan Tidore) dikawal oleh 12 juanga atau perahu kora-kora dari para Sangaji dan Gimalaha, yang melambangkan kekuatan dan persatuan wilayah adat.

Sepanjang pelayaran, dilakukan pembacaan doa oleh para imam dan syara bobato Kesultanan Tidore di sejumlah titik, termasuk di perairan keramat Hiri, Ternate, sebelum kembali melanjutkan perjalanan mengelilingi Pulau Tidore.

Ritual ini juga mendapat sambutan antusias dari masyarakat di setiap kelurahan yang dilintasi. Selain armada tradisional, kegiatan turut diikuti simpatisan dari organisasi perangkat daerah (OPD) dan para camat menggunakan armada speedboat. (*)

Sumber: Tribun Ternate
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved