Lebih dari 820 Ribu Hewan Ternak Mati dan Hilang Akibat Banjir Sumatera, Ketahanan Pangan Terancam
Banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera menimbulkan dampak serius terhadap sektor peternakan dan pertanian nasional
TRIBUNTERNATE.COM – Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera menimbulkan dampak serius terhadap sektor peternakan dan pertanian nasional.
Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengungkapkan, jumlah hewan ternak yang mati dan hilang akibat bencana tersebut mencapai lebih dari 820.000 ekor.
Jenis ternak yang terdampak meliputi sapi, kerbau, kambing, domba, hingga unggas. Data tersebut disampaikan Amran saat rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (14/1/2026).
Baca juga: Pemeliharaan Dermaga, Pelabuhan Ferry Galala Tidore Ditutup Sementara
Selain kerugian pada sektor peternakan, bencana alam tersebut juga menyebabkan kerusakan infrastruktur penunjang pertanian. Kementerian Pertanian mencatat 58 unit rumah potong hewan rusak, sebanyak 2.300 unit alat dan mesin pertanian hilang, serta 74 Balai Penyuluhan Pertanian mengalami kerusakan.
Tak hanya itu, terdapat 3 bendungan rusak, 152 kilometer jaringan irigasi terdampak, dan 820 ruas jalan produksi mengalami kerusakan.
Dari sisi tanaman pangan, Amran menyebutkan bahwa lahan sawah yang terdampak bencana di tiga provinsi di Sumatera mencapai 107,4 ribu hektar. Luasan tersebut terdiri dari 56,1 ribu hektar sawah rusak ringan, 22,2 ribu hektar rusak sedang, dan 29,1 ribu hektar rusak berat.
Akibat kerusakan tersebut, areal tanam padi dan jagung yang mengalami gagal panen mencapai 44,6 ribu hektar. Sementara itu, lahan perkebunan non-sawit seperti kopi, kakao, dan kelapa dalam yang terdampak tercatat seluas 29,3 ribu hektar, serta 1.800 hektar lahan hortikultura yang mencakup sayuran, buah-buahan, dan tanaman obat.
Untuk pemulihan pascabencana, Kementerian Pertanian telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 1,49 triliun. Dana tersebut akan difokuskan pada wilayah dengan tingkat kerusakan tertinggi, terutama untuk pemulihan sawah rusak ringan dan sedang.
Baca juga: Ikut Jejak Ciro Alves, Striker Malut United David da Silva Juga Ajukan Permohonan WNI
Adapun rehabilitasi sawah dengan kerusakan berat akan dilakukan melalui kerja sama lintas kementerian, termasuk Kementerian ATR/BPN dan Kementerian Pekerjaan Umum.
“Anggaran tersebut meliputi rehabilitasi lahan sawah dan irigasi sebesar Rp 736,21 miliar, bantuan benih tanaman pangan Rp 68,6 miliar, rehabilitasi kawasan perkebunan Rp 50,46 miliar, serta penyediaan alat mesin pertanian dan pupuk sebesar Rp 641,25 miliar,” ujar Amran.
Ia menambahkan, data kerusakan masih bersifat dinamis dan akan terus diperbarui seiring koordinasi antara Kementerian Pertanian dan dinas terkait di daerah terdampak. (*)
| Pendakian Gunung Dukono Dinilai Lalai, Akademisi Unkhair Ternate Minta Mitigasi Diperketat |
|
|---|
| Pemda Halut Larang Pendakian Gunung Dukono, Pelanggar Terancam Sanksi |
|
|---|
| Bawa Wisatawan ke Gunung Dukono Halut Saat Erupsi, Anak Esa dan Rekannya Terancam Diproses Hukum |
|
|---|
| AJI Ternate dan SIEJ Malut Kecam Pembubaran Nobar Pesta Babi oleh TNI |
|
|---|
| Satu Pendaki Hilang Akibat Erupsi Gunung Dukono Halut Ditemukan Meninggal Dekat Kawah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/korban-banjir-sumatera.jpg)