Breaking News:

Tanggapi Kerusuhan hingga Penjarahan di Amerika Serikat, SBY: Apa yang Sesungguhnya Terjadi?

Kematian George Floyd dianggap sebagai tindakan rasis aparat kepolisian kepada kelompok warga kulit hitam di Amerika Serikat.

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Presiden Keenam RI yang juga Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan pidato saat malam kontemplasi di Kediamannya di Puri Cikeas, Jakarta, Senin (9/9/2019). Malam Kontemplasi tersebut memperingati 18 tahun Partai Demokrat, 70 tahun Susilo Bambang Yudhoyono dan 100 hari wafatnya Ibu Ani Yudhoyono. 

"Satu catatan, ketika hubungan Indonesia - Amerika terus berkembang dengan baik, kita juga menjalin hubungan (termasuk kemitraan strategis) dengan negara lain. Negara-negara itu sebagian adalah 'rival' Amerika," imbuhnya.

Oleh karena itu, menurutnya, sesuai amanah para pendiri republik, 'politik bebas aktif' ditegaskannya harus tetap menjadi haluan bangsa.

Annisa Pohan Ungkap Kegiatan SBY saat Lebaran: Menciptakan Lagu hingga Siapkan Galeri Ani Yudhoyono

SBY Serukan Jaga Jarak dan Tinggal di Rumah: Penyebaran COVID-19 Bisa Kita Batasi

Politik yang diterapkannya semasa kepemimpinannya, periode 2014-2014.

Ketika itu bahkan dirinya menambahkan satu haluan politik negara, yakni 'all direction foreign policy'.

Artinya, menjalin hubungan baik ke segala penjuru dunia, apapun ideologi dan sistem politik yang dianut negara-negara tersebut.

Syaratnya, mereka menghormati kedaulatan Indonesia dan memiliki persamaan kepentingan dengan Indonesia.

"Sungguhpun saya tidak membenci dan anti Amerika, namun saya bukanlah tipe orang yang 'mendewakan' Amerika. Mengapa ini harus saya katakan?," tanya SBY.

"Banyak orang di dunia ini, saya kira di negeri kita juga ada, yang sangat mengagungkan Amerika Serikat. Seolah, negara itu selalu benar. Tidak pernah salah. Orang-orang itu juga menganggap Amerika bisa menjadi 'role model'," papar SBY.

"Menjadi panutan dan rujukan. Mungkin demokrasinya, HAM-nya, kebebasannya, pranata hukumnya, sistem politiknya, pemilunya, ekonomi pasarnya, ketokohan presidennya dan lain-lain," tambahnya.

Dalam waktu yang sangat lama, lanjutnya, Amerika Serikat juga dinilai sebagai negara yang segalanya 'paling hebat'.

Mulai dari ekonomi, militer serta dominasi politik luar negeri serta kemajuan teknologi.

Bahkan setelah berakhirnya Perang Dingin di akhir tahun 1980-an, Amerika Serikat diungkapkan SBY dianggap banyak pihak sebagai satu-satunya negara Adi Daya atau Super Power.

Melekat pula sebuah 'pengakuan' bahwa de facto Amerika adalah pemimpin dunia.

"Pertanyaannya sekarang adalah 'apakah Amerika masih seperti itu?' Inilah yang menarik untuk dijawab," ungkap SBY.

"Siapa yang bisa menjawab, di samping negara-negara lain, ya bangsa Amerika sendiri. Dengan catatan mereka harus jujur dan objektif," jelasnya.

Kejatuhan Bangsa Besar

Sebelum mengamati apa yang terjadi di Amerika saat ini, SBY mengulas sebuah buku berjudul 'The Rise and Fall of the Great Powers' yang ditulis oleh Paul Kennedy.

Buku yang menurutnya kini tidak lagi menjadi klasik dan mulai dilupakan.

Dirinya masih mengingat sebuah pesan mendalam yang tertulis dalam buku tersebut.

Pesan yang pernah didiskusikan ketika dirinya berpangkat letnan kolonel dengan sahabatnya almarhum Agus Wirahadikusumah.

"Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa Amerika tidak selalu berjaya. Atau bisa mengalami nasib yang sama dengan negara-negara yang pernah berjaya dan kemudian jatuh. Atau paling tidak menyusut pamornya," ungkap SBY.

"Ingat dulu ada Inggris dan negara-negara Eropa yang pernah berjaya pada jamannya. Menguasai dunia. Jepang pernah menjadi contoh negara yang sangat sukses. Kini Tiongkok tumbuh mengagumkan," jelasnya.

"Tapi, apakah Tiongkok akan menggantikan Amerika sebagai pemimpin dunia yang baru, tak ada yang tahu," tambah SBY.

Begitu juga dengan Amerika Serikat.

Kedigdayaan Amerika Serikat katanya akan meredup.

SBY pun menganalogikan kejatuhan negara adi kuasa laksana sebuah matahari yang terbit pada pagi hari, pasti akan tenggelam pada senja.

"Tentu, saat ini Amerika masih 'digdaya'. Tapi laksana matahari, ada masa terbit dan terbenamnya, kisah jaya dan jatuhnya sebuah negara akan selalu ada," ungkap SBY.

"Kembali ke soal Amerika, mungkin tak perlu terlalu jauh kita membicarakan nasib dan masa depannya. Sebab, menurut saya hanya Tuhan yang tahu. Kita lihat sajalah situasi Amerika saat ini. Minggu-minggu ini," jelasnya.

Artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul Keamanan Amerika Serikat Bergejolak, Susilo Bambang Yudhoyono : Are You Ok Amerika?

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved