Ahli Sarankan Tes GeNose Tidak Dipakai Secara Luas Dulu Meski Sudah Kantongi Izin Edar
Kendati inovasi sangat menarik, Ahmad mengatakan ada yang perlu disoroti dalam penelitian GeNose, baik oleh publik maupun kalangan peneliti.
TRIBUNTERNATE.COM - Universitas Gadjah Mada (UGM) telah menciptakan inovasi baru berupa alat pendeteksi virus corona SARS-CoV-2 bernama GeNose.
Saat ini, GeNose telah mendapat izin edar Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI).
Menurut laman resmi UGM, izin edar tersebut diberikan Kemenkes pada Kamis, 24 Desember 2020.
Sementara itu, tes Genose diklaim memiliki beberapa keunggulan.
Yakni, biaya tes GeNose yang cukup murah, yakni dipatok harga Rp 15-25 ribu, dengan hasil tes yang dapat diketahui hanya dalam 2 menit, dan tidak memerlukan reagen atau bahan kimia lainnya.
Baca juga: Direktur Jenderal WHO: Covid-19 Bukanlah Pandemi Terakhir yang Dihadapi Dunia
Baca juga: Mengenal Apa Itu GeNose, Alat Deteksi Covid-19 Melalui Embusan Nafas Milik Tim Ahli UGM
Baca juga: Gubernur Khofifah Indar Parawansa Siap Jadi Orang Pertama yang Divaksin Covid-19 di Jawa Timur
GeNose telah melalui uji profiling dengan menggunakan 600 sampel data valid di Rumah Sakit Bhayangkara dan Rumah Sakit Lapangan Khusus Covid-19 Bambanglipuro, Yogyakarta.
Dari pengujian itu, diketahui tingkat akurasi GeNose mencapai 97 persen.
Seperti diberitakan sebelumnya, alat GeNose disebut para ahli menarik, karena mendeteksi metabolit gas yang keluar saat seseorang bernapas.
Ini artinya, alat tersebut tidak mendeteksi virus secara langsung.
Dikatakan ahli biologi molekuler Indonesia, Ahmad Utomo, dengan menggunakan kecerdasan buatan (AI), tim UGM membaca dan membandingkan berapa banyak presentasi metabolit gas yang dikeluarkan saat bernapas.
Pasalnya, komposisi metabolit gas pada orang sehat dan orang yang terinfeksi virus berbeda.
Alat ini juga dapat melihat penyakit apa yang tengah diderita oleh seseorang.
Kendati inovasi sangat menarik, Ahmad mengatakan ada yang perlu disoroti dalam penelitian GeNose, baik oleh publik maupun kalangan peneliti.
Menurut Ahmad perlu ada publikasi ilmiah mengenai penelitian dan pengembangan alat ini, terutama data yang dilaporkan ke Kemenkes dan kemudian menjadi dasar GeNose mendapat izin edar.
Salah satu data yang perlu dibedah adalah siapa saja relawan yang mengikuti pengujian GeNose.