Ahli Sarankan Tes GeNose Tidak Dipakai Secara Luas Dulu Meski Sudah Kantongi Izin Edar
Kendati inovasi sangat menarik, Ahmad mengatakan ada yang perlu disoroti dalam penelitian GeNose, baik oleh publik maupun kalangan peneliti.
Orang sehat berapa banyak, yang bergejala ringan berapa, gejala sedang, dan berat berapa, hingga adakah orang yang mengidap penyakit pernapasan tapi negatif Covid-19 ikut dalam penelitian.
Hal lain yang dinilainya perlu disampaikan kepada publik adalah tingkat kegagalan alat melakukan deteksi, jendela optimal testing, dan kemampuan alat untuk membedakan pasien Covid-19 dengan pasien penyakit pernapasan lain.
Namun karena saat ini GeNose sudah mengantongi izin edar dari Kemenkes, dengan kata lain sudah dikomersialkan, Ahmad menyarankan agar semua pihak yang terkait dengan pembelian GeNose untuk menahan diri.
"Jangan langsung diterapkan secara luas. Terapkan dulu terbatas, terutama untuk academic center, di mana mereka nantinya dapat mengevaluasinya," kata Ahmad kepada Kompas.com melalui sambungan telepon, Minggu (27/12/2020).
"Rumah sakit akademik kan memiliki pasien juga. Sebagai contoh di rumah sakit kanker paru," ujar dia.
Ketika ada pasien kanker paru yang datang untuk berobat, pasien ini tidak semuanya terinfeksi Covid-19.
Nah, pasien kanker paru ini, baik yang juga terinfeksi Covid-19 atau tidak, dapat dicek dengan GeNose, apakah molekul gas pernapasan mereka sama atau berbeda.
Jika ada perbedaannya, hal ini juga bisa saja menjadi terobosan baru, yakni membedakan orang sehat dengan yang memiliki kanker paru.
"Enggak salah jika GeNose dijual atau dikomersialkan, itu enggak melanggar hukum, karena sudah memiliki izin edar," kata Ahmad.
"Yang saya khawatir, jika penggunaannya terlalu buru-buru sementara kita tidak tahu persis perangai kapan munculnya gas-gas (pendeteksi) Covid-19, itu takutnya bisa sangat memengaruhi penghentian pandemi. Itu yang harus hati-hati sekali," tutupnya.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kantongi Izin Edar, Ahli Sarankan Tes GeNose Tak Dipakai Luas Dulu"
Penulis : Gloria Setyvani Putri