Breaking News:

Studi: Jumlah Kasus Corona di Wuhan Kemungkinan 10 Kali Lipat Lebih Tinggi daripada Angka Resmi

Jumlah kasus virus corona di Wuhan, tempat patogen ini pertama kali terdeteksi, mungkin 10 kali lebih tinggi dari angka resmi.

Editor: Rizki A
AFP/straitstimes.com
Ribuan warga Wuhan, China pesta di taman air setelah melewati lockdown panjang karena Covid-19. 

TRIBUNTERNATE.COM - Pandemi virus corona Covid-19 masih terus merebak di ratusan negara di seluruh dunia.

Dengan banyaknya kasus dan jumlah tes yang dilakukan, tak menutup kemungkinan jumlah kasus infeksi sebenarnya lebih tinggi daripada yang dilaporkan.

Sebuah studi oleh Otoritas Kesehatan di Wuhan menerangkan, jumlah kasus virus corona di kota tempat patogen ini pertama kali terdeteksi mungkin 10 kali lebih tinggi dari angka resmi.

Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Penyakit China (CDC), sekitar 4,4 persen dari 11 juta penduduk kota Wuhan disebut telah mengembangkan antibodi terhadap virus yang menyebabkan Covid-19 pada April 2020.

Data tersebut berkolerasi dengan sekira 480.000 infeksi di Wuhan pada April 2020 atau hampir 10 kali lipat dari penghitungan resmi hingga saat ini dari 50.000 kasus di kota.

France24 melaporkan, China telah menghadapi rentetan kritik di dalam dan luar negeri atas penanganan awal virus corona.

Baca juga: Tanggapi Cara Gisella Anastasia Hadapi Kasusnya, Melaney Ricardo: Aku sebagai Kakak Selalu Mendoakan

Baca juga: 28 Anggota Polisi di Maluku Dipecat dengan Tidak Hormat Sepanjang Tahun 2020

Ribuan warga Wuhan China pesta di taman air setelah melewati lockdown panjang karena Covid-19.
Ribuan warga Wuhan, China pesta di taman air setelah melewati lockdown panjang karena Covid-19. (AFP/straitstimes.com)

Tiongkok juga dikritik atas upaya mereka membungkam pelapor dan tidak melaporkan kasus apa pun selama berhari-hari di awal Januari 2020.

Pada Senin (28/12/2020), jurnalis Zhang Zhan dijatuhi hukuman penjara empat tahun karena melaporkan kondisi di dalam Wuhan selama puncak wabah.

Perbedaan yang diungkapkan data CDC mungkin "menunjukkan potensi kasus yang tidak dilaporkan karena kekacauan pada akhir Januari dan awal Februari, ketika sejumlah besar orang tidak diuji atau tidak diuji secara akurat untuk Covid-19," kata Huang Yanzhong, seorang rekan senior untuk kesehatan global di Council on Foreign Relations (CFR), kepada AFP.

Rabu kemarin (30/12/2020), Qin Ying, seorang ahli serologi dari CDC mengatakan kepada AFP bahwa perbedaan data tidak hanya terjadi di China.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved