Mudik Dilarang tapi Wisata Dibolehkan, Sudjiwo Tedjo: Pemerintah Nggak Fokus, Kalah Sama John Wick
Budayawan Tanah Air, Sudjiwo Tedjo menyoroti soal adanya larangan mudik, tetapi wisata masih diperbolehkan.
TRIBUNTERNATE.COM - Dalam menghadapi pandemi virus corona Covid-19, pemerintah telah menetapkan larangan mudik Lebaran 2021.
Larangan mudik berlaku pada tanggal 6-17 Mei 2021.
Namun, selama masa larangan mudik, kegiatan pariwisata masih diperbolehkan.
Hal ini pun mendapat sorotan dari budayawan Tanah Air, Sudjiwo Tedjo.
Dalam tayangan Catatan Demokrasi yang diunggah di kanal YouTube TVOne pada Rabu (4/5/2021), Sudjiwo Tedjo memberikan pendapatnya.
Mulanya, budayawan kelahiran Jember, 31 Agustus 1962 itu menyinggung soal demokrasi, di mana jika seseorang masih sebatas berpendapat, itu masih sah-sah saja.
Namun, yang menjadi masalah adalah ketika seseorang berpendapat, itu sudah di-bully.
"Ya ini kan demokrasi ya... Jadi, melihat kalau orang bisa ketawa kalau ngeliat babi ngepet, kita juga ketawa aja ngeliat begini... Ngeliat boleh, nggak boleh, kayak kita ngeliat babi ngepet aja gitu lho."
"Jadi, anggap aja sama dan lagian ini demokrasi... Yang saya sayangkan, kalau ada orang beda pendapat, langsung di-bully. Padahal, di dalam demokrasi, beda pendapat itu boleh, sah."
Ia mengingatkan kalimat dari seorang filsuf Prancis, Voltaire.
Yakni, hak seseorang untuk berpendapat harus dibela dan dihargai.
Namun, menurutnya pendapat seseorang akan menimbulkan masalah apabila diterapkan, terlebih dengan cara dipaksakan.
"Jadi, Voltaire filsuf Prancis itu bilang bahwa 'kita boleh berbeda pendapat, tapi aku hargai aku bela sampai mati hak kamu untuk berpendapat.'
"Pendapat itu baru berproblem di negeri demokrasi kalau diterapkan. Misalkan, seorang imam melarang orang pakai masker seperti yang terjadi di Bekasi atau di mana itu... Kalau itu masih pendapat, saya kira nggak usah di-bully. Wajar, dong."
"Ketika banyak orang sekarang berpendapat bahwa apa sih, salahnya problem pemerintah sama orangtuaku, aku nggak boleh mudik? Gitu kan? Ya udah, nggak apa-apa. Nah, kalau dia maksa mudik, baru ada problem."
Baca juga: ICW: Tak Lolosnya Sejumlah Pegawai KPK dalam Tes ASN Sudah Direncanakan Sejak Awal untuk Bunuh KPK
Baca juga: Seorang Pria Viral karena Ejek Pemakai Masker di Mal, Ujung-ujungnya Cuma Mengaku Hanya Iseng
Baca juga: Pegawai KPK yang Terancam Dipecat karena Tak Lolos Tes ASN Sedang Tangani Kasus Besar
Kemudian, Sudjiwo Tedjo melanjutkan tentang perkara mudik.
Menurutnya, jika seseorang masih sekadar berpendapat mudik tidak dilarang karena untuk bertemu orangtua, itu masih diperbolehkan.
Namun, jika pendapat mudik tidak dilarang itu betul-betul dilakukan, akan timbul masalah mengingat masih tingginya risiko penularan virus corona penyebab penyakit Covid-19.
"Terus orang boleh berpendapat, obat paling mujarab adalah sungkem kepada orangtua. Oke, jangan diketawain. Masalahnya di medsos itu diketawain. Tapi, kalau dia bertindak dengan mudik, baru jadi problem, karena takut menularkan (virus, red.) orang lain."
Lalu, Sudjiwo Tedjo menyinggung tentang pendekatannya yang dilakukan pemerintah.
Menurutnya, sekarang ini pendekatan pemerintah bukan lagi berupa imbauan, tetapi semacam pengertian bersyarat.
Yakni, dengan menerangkan bahwa seseorang harus tahu apa makna mengapa dirinya harus tetap hidup dengan menjaga diri dari penularan Covid-19.
"Dan untuk soal orang bilang sudah bosen, orang tetep mudik, tetep ngotot... Mungkin, pendekatannya bukan imbauan lagi sekarang. Tapi, kalau kamu nggak mati, nilaimu ini lho. Kalau kamu nanti nggak mati karena Covid-19, kamu bernilai ini. Kalau kamu hidup, gunanya ini."
"Jangan-jangan kita malas hidup, karena kalau kita mati pemerintah kurang pembayar pajak, kurang pembayar BPJS."
Ia menjelaskan contoh kasus kewajiban pakai helm
"Sama kayak kasus kita pakai helm. Waktu awal-awal pakai helm, ini kepala-kepalaku sendiri. Mati karena nggak pakai helm, terus apa urusannya sama negara? Kecuali kalau negara bilang gini, negara sudah investasi sekian miliar tiap penduduk untuk pendidikan. Kalau kamu mati karena nggak pakai helm, kamu rugi."
"Nggak gitu, kita hidup juga kerjaan nyari sendiri. Aku gedebukan, nglukis kemarin, dan aku banyak nganggur sekarang."
Sudjiwo Tedjo pun menjelaskan bahwa pemerintah saat ini kalah dengan tokoh John Wick yang diperankan oleh Keanu Reeves.
Menurut Sudjiwo Tedjo, pemerintah tidak fokus dalam memilih kesehatan atau ekonomi.
Hal ini masih terkait dengan kebijakan larangan mudik, tetapi wisata masih diperbolehkan.
"Tapi untungnya aku banyak nganggur sekarang, aku jadi sering nonton film. Terakhir aku nonton film John Wick 2... Jadi gini, government nggak fokus, mau milih kesehatan apa ekonomi."
"Nah, kenapa John Wick kok disukai banyak perempuan dan dia bisa membunuh orang pakai pensil...? Karena dia fokus. Nah, pemerintah kalah sama John Wick."
Baca juga: Budayawan Prie GS Meninggal Dunia, Sudjiwo Tedjo: Sugeng Tindak, Pinanggihan Malih Mangke
Baca juga: DPRD DKI Minta Gaji Naik saat Pandemi, Sudjiwo Tejo: Pasti Kenaikan Itu Bukan Buat Mereka Sendiri
Baca juga: Sudjiwo Tedjo Minta Warganet Tak Olok-olok Edhy Prabowo: Kena OTT Sudah Berat, Jangan Ditambah Lagi
Kemudian, sang pembawa acara menanyakan apakah pesan pemerintah dalam mencegah penularan Covid-19 sudah tersampaikan kepada masyarakat.
"Nah sekarang Mbah, apakah pesan pemerintah sampai tidak kepada masyarakat? Soal Satgas, pelarangan mudik, dilarang berada di kerumunan?" tanya sang pembawa acara Catatan Demokrasi, Andromeda Mercury.
Sudjiwo Tedjo pun menjawab, pesan tersebut tidak tersampaikan.
"Nggak. Nggak nyampai. Karena tadi, liat ini boleh, itu nggak boleh... Pesawat dari luar boleh, India sebagian sudah masuk walaupun akhirnya dicek lagi...
"Masak sudah satu tahun lebih corona ada di Indonesia, kok masih nggak fokus, Mbah? Ada 1,6 juta yang positif..." tanya Andromeda lagi.
Sudjiwo Tedjo menjelaskan sebaiknya masyarakat diberi pengertian lagi, mengapa harus tetap menjaga diri agar tidak tertular Covid-19 dan menghindari risiko kematian.
Ia mengibaratkan, masyarakat akan tetap tidak menjaga diri apabila negara tidak memberikan jaminan.
Terlebih, masih banyak masyarakat yang harus tetap berjuang mendapatkan pekerjaan di tengah keterbatasan akibat pandemi Covid-19.
"Saya menjawab dari Bu Sri Mulyani, dengan segala hormat. Masyarakat harus belanja, beli baju baru... Terus, saya isengin aja karena kenal beliau, 'Buat apa belanja Bu, kalau nggak boleh mudik?'"
"Tapi mungkin ini bentuk bagus, belanja baju baru tapi tinggal sendirian di rumah di Jakarta. Itu jadi tingkat spiritual paling tinggi sebagai bangsa, berhias tanpa ditonton, iya kan?"
"Jadi paling penting filosofinya, kalau kamu hidup, bukan karena kita pengen kamu tetap hidup, bukan karena kami takut kekurangan pembayar pajak, pembayar BPJS... Tetapi, memang karena kamu harus tetap hidup. Karena aku memang mau men-support kamu kalau tetap hidup. Kalau pemerintah nggak janji begitu, aku juga males jaga nyawaku. Aku nyari kerja sendiri, kok.. Dia enak, dapat gaji. Aku gedebukan sendiri. Berapa juta orang kayak aku, orang kayak aku mati pun nggak masalah, kalian enak dapat gaji. Berapa juta orang kayak aku yang beruntung lukisan kadang-kadang laku, bisa nonton film."
"Maksudku begini, 'lu kalau hidup, itu eksistensimu untuk keluarga, untuk negara akan begini, akan dibayar kalau kamu hidup. Sekarang malas hidup karena dikejar-kejar untuk bayar pajak atau BPJS,'"
Selengkapnya, simak video berikut:
(TribunTernate.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/budayawan-sujiwo-tejo.jpg)