Sabtu, 30 Mei 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Densus 88 Sebut Afghanistan Training Ground Teroris, Waspadai Kembalinya WNI Eks Kombatan Taliban

Kabag Bantuan Operasi Densus 88 mengingatkan, Indonesia punya pengalaman yang buruk terhadap eks kombatan Taliban usai kembali ke Tanah Air.

Tayang:
AFP/WAKIL KOHSAR
Seorang pejuang Taliban berjaga di lokasi bom bunuh diri kembar yang menewaskan ratusan orang termasuk 13 tentara AS, di bandara Kabul, Jumat (27/8/2021). AFP/WAKIL KOHSAR 

Tim Densus 88 Antiteror Polri mewaspadai pergerakan Warga Negara Indonesia (WNI) yang pulang dari negara Afghanistan.

Hal ini mencegah adanya WNI yang merupakan eks kombatan Taliban.

Kabag Bantuan Operasi Densus 88 Kombes Pol Aswin Siregar menyampaikan pihaknya telah memantau pergerakan banyaknya WNI yang pulang dari Afghanistan menuju Indonesia.

"Dengan kemenangan Taliban ini banyak orang yang kembali ke negara kita. Banyak orang Indonesia yang kembali ke negaranya. Bukan orang Indonesia saja, tapi yang lain juga ada ya," kata Aswin dalam diskusi daring, Senin (30/8/2021).

Ia menyampaikan kepulangan WNI tersebut harus dicermati secara teliti oleh pihak bandara.

Mereka harus ditanyakan terlebih dahulu ihwal keberadaanya selama di Afghanistan.

"Di sana mereka sebagai apa sebetulnya, ini perlu dicermati. Jangan-jangan yang kembali ini ada juga yang kombatan. Ada juga yang terlibat perang," ujarnya.

Baca juga: Taliban Kuasai Afghanistan, Guru Besar UI: Indonesia Jangan Buru-buru Beri Pengakuan

Seorang pejuang Taliban berjaga di lokasi bom bunuh diri kembar yang menewaskan ratusan orang termasuk 13 tentara AS, di bandara Kabul, Jumat (27/8/2021). AFP/WAKIL KOHSAR
Seorang pejuang Taliban berjaga di lokasi bom bunuh diri kembar yang menewaskan ratusan orang termasuk 13 tentara AS, di bandara Kabul, Jumat (27/8/2021). AFP/WAKIL KOHSAR (AFP/WAKIL KOHSAR)

Ia mengingatkan bahwa Taliban telah berhasil membebaskan 5.000 orang tahanan yang juga merupakan kombatan. Dia menduga, ada orang Indonesia yang turut dilepaskan Taliban.

"Seperti beberapa waktu yang lalu ada pembebasan atau dilepaskannya 5.000 orang dari penjara. Berapa orang orang Indonesia tuh di dalamnya yang dilepaskan yang oleh Taliban diputihkan lagi itu ya sekarang keluar dari penjara," ujarnya.

Lebih lanjut, Aswin menerangkan eks kombatan Taliban dinilai memiliki tingkat radikalisme yang tinggi.

Pasalnya, kata dia, mereka mengalami proses pencucian otak oleh pihak Taliban.

"Mereka yang kembali ini memiliki tingkat radikalisme yang tinggi karena ada pembelokan tujuan dari awalnya mungkin terpanggil untuk membela atau melindungi sesama umat Islam kemudian berubah menjadi mendirikan Daulah Islamiyah. Merasa bahwa jalan untuk mewujudkan kemenangan itu dengan menguasai dan mendirikan negara," ungkapnya.

Aswin mengingatkan bahwa Indonesia punya pengalaman yang buruk terhadap eks kombatan Taliban usai kembali ke Indonesia.

Rata-ratanya pernah melakukan aksi teror.

"Selesai pulang ke Indonesia dan melakukan berbagai aksi teror ya di sini sebagaimana yang tercatat di kita itu ada bom malam natal ketika konflik di Poso, Bom Bali 1, bom Bali 2, bom JW Marriott, bom Kedubes Australia, Ritz Carlton dan sebagainya," bebernya.

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved