Sabtu, 30 Mei 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Murid Dilarang Bermedsos, Mahasiswa Cari Pacar Kutu Buku dan Tinggalkan Smartphone

Temuan tersebut diperoleh dalam rangkaian kegiatan Australia-Indonesia Senior Editors Program yang difasilitasi Kedutaan Besar Australia

Tayang:
Tribunnetwork.com
BELAJAR BUDAYA INDONESIA – Foto bareng murid Bertram Primary School, semacam sekolah dasar negeri, sedang belajar budaya Indonesia. Selain praktik Bahasa Indonesia, mereka mengenali wayang, becak, batik dan lainnya, Senin (18/5/2026). Sekolah ini mendidik siswa Taman Kanak-kanak hingga Kelas 6. Letaknya di pinggiran Kota Bertram, arah selatan Perth, Australia Barat. Melibatkan guru asal Indonesia, dan asli Australia. (Tribun Network/Domu D. Ambarita) 

TRIBUNTERNATE.COM - Murid-murid sekolah dasar di Australia mengaku belum mengenal media sosial dan belum pernah memiliki akun. Mereka memahami bahwa undang-undang di negara tersebut membatasi usia pengguna media sosial minimal 16 tahun.

Sementara itu, di kalangan mahasiswa dan generasi muda Australia muncul tren baru untuk menjaga kesehatan mental dengan mengurangi ketergantungan terhadap smartphone. Sebagian bahkan beralih menggunakan ponsel jadul atau dumbphone dan lebih gemar membaca buku cetak.

Temuan tersebut diperoleh dalam rangkaian kegiatan Australia-Indonesia Senior Editors Program yang difasilitasi Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia.

Baca juga: Penduduk Majemuk, Biaya Terjangkau dan Kampus Kualitas Dunia, Tempat Favorit untuk Kuliah

Foto bareng murid Bertram Primary School
BELAJAR BUDAYA INDONESIA – Foto bareng murid Bertram Primary School, semacam sekolah dasar negeri, sedang belajar budaya Indonesia. Selain praktik Bahasa Indonesia, mereka mengenali wayang, becak, batik dan lainnya, Senin (18/5/2026). Sekolah ini mendidik siswa Taman Kanak-kanak hingga Kelas 6. Letaknya di pinggiran Kota Bertram, arah selatan Perth, Australia Barat. Melibatkan guru asal Indonesia, dan asli Australia. (Tribun Network/Domu D. Ambarita)

Pada suatu pagi yang cerah dengan suhu sekitar 12 derajat Celsius di Perth, Australia Barat, delegasi wartawan Indonesia mengunjungi Bertram Primary School, sekolah dasar negeri yang mendidik siswa mulai taman kanak-kanak hingga kelas enam.

Sekolah yang terletak di pinggiran Kota Bertram, sekitar 30 menit dari Perth itu memiliki nuansa Indonesia yang cukup kuat.

Di ruang kelas terlihat berbagai atribut budaya Indonesia seperti wayang, miniatur becak, angklung, peta Indonesia, hingga berbagai tulisan sederhana dalam Bahasa Indonesia seperti "Halo Pak, Bu", "Siapa nama kamu?", hingga nama-nama hari dan unsur alam.

Sekolah tersebut juga menjalin kemitraan dengan SD Negeri 023 Pajagalan Kota Bandung, Jawa Barat, melalui program sahabat pena.

Dalam sesi perkenalan, para murid mempraktikkan percakapan menggunakan Bahasa Indonesia. Sebagian mengaku pernah berlibur ke Bali dan menggunakan Bahasa Indonesia saat berinteraksi dengan masyarakat setempat.

Austin, siswa kelas enam, mengaku sering mengucapkan "terima kasih" kepada pelayan restoran atau hotel saat berlibur di Bali. Sementara Mia, siswa kelas lima, mengatakan dirinya senang mempelajari budaya dan bahasa Indonesia serta gemar bermain sepak takraw.

Murid SD Tidak Kenal Media Sosial

BELAJAR BUDAYA INDONESIA – Murid Bertram Primary School, semacam sekolah dasar negeri, sedang belajar budaya Indonesia. Selain praktik Bahasa Indonesia, mereka mengenali wayang, becak, batik dan lainnya, Senin (18/5/2026).  Sekolah ini mendidik siswa Taman Kanak-kanak hingga Kelas 6. Letaknya di pinggiran Kota Bertram, arah selatan Perth, Australia Barat. Melibatkan guru asal Indonesia, dan asli Australia.  (Tribun Network/Domu D. Ambarita)
BELAJAR BUDAYA INDONESIA – Murid Bertram Primary School, semacam sekolah dasar negeri, sedang belajar budaya Indonesia. Selain praktik Bahasa Indonesia, mereka mengenali wayang, becak, batik dan lainnya, Senin (18/5/2026). Sekolah ini mendidik siswa Taman Kanak-kanak hingga Kelas 6. Letaknya di pinggiran Kota Bertram, arah selatan Perth, Australia Barat. Melibatkan guru asal Indonesia, dan asli Australia. (Tribun Network/Domu D. Ambarita) (Tribunnetwork.com)

Saat sesi tanya jawab dengan wartawan Indonesia, Austin mengungkapkan bahwa dirinya dan teman-teman sekolah dasar lainnya belum memiliki akun media sosial.

Menurutnya, hal tersebut karena aturan di Australia yang membatasi usia pengguna media sosial minimal 16 tahun.

Guru Bahasa Indonesia di Bertram Primary School, Vincent Sweetman, membenarkan hal tersebut.

Sweetman yang pernah mengajar di sekolah internasional di Jakarta dan kini menikah dengan perempuan asal Bandung mengatakan seluruh murid sekolah dasar memang dilarang menggunakan media sosial.

"Murid-murid SD Bertram memang dilarang bermedia sosial. Sebab konstitusi tidak membolehkan anak usia di bawah 16 tahun mengakses platform media sosial," ujarnya.

Australia menerapkan Online Safety Amendment (Social Media Minimum Age) Act 2024, yang merupakan amandemen terhadap Undang-Undang Keamanan Daring 2021.

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved