Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Masuk Daftar 100 Orang Paling Berpengaruh 2021, Adi Utarini Tak Menyangka Sejajar dengan Tokoh Dunia

Guru Besar UGM, Adi Utarini masuk ke dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia tahun 2021 versi majalah Time.

Tangkap Layar laman resmi Majalah Time
Guru Besar UGM yang juga seornag peneliti Indonesia, Adi Utarini masuk dalam daftar 100 orang paling berpengaruh tahun 2021 versi majalah Time. 

"Bersyukur, itu buat saya kan artinya apa yang dirintis oleh seluruh tim WMP (World Mosquito Programme) Yogyakarta sejak 2011 sampai dengan saat ini diapresiasi, dihargai dan disemangati oleh berbagai pihak," ujar Adi, dikutip dari Kompas.com.

Adi Utarini menyampaikan apa yang diraih saat ini tidak hanya menjadi kebanggaan tim peneliti, tetapi juga menjadi kebangaan Yogyakarta dan Indonesia.

Adi mengatakan, dirinya dan tim selama ini fokus dan berusaha mengerjakan penelitian dengan sebaik-baiknya.

Peneliti utama World Mosquito Program Yogyakarta ini tidak pernah berpikir disandingkan dengan sejumlah orang penting dunia.

"Kami terus terang enggak pernah terus berpikir bahwa ini kita disejajarkan, itu tidak ya. Kita tidak berpikir seperti itu."

"Kita berpikirnya berusaha mengerjakan penelitian ini dengan sebaik-baiknya yang kita mampu, kalau kemudian itu diapresiasi ya alhamdulillah, bersyukur," jelasnya.

Adi Utarini masuk dalam daftar 100 orang paling berpengaruh tahun 2021 versi majalah Time.
Adi Utarini masuk dalam daftar 100 orang paling berpengaruh tahun 2021 versi majalah Time. (Tangkap Layar laman resmi Majalah Time)

Berbagai apresiasi dan penghargaan, lanjutnya, memang harus disyukuri.

Namun, berbagai penghargaan tersebut bukan lantas membuat berpuas diri dan jumawa.

"Saya tidak ingin hal-hal (penghargaan dan apresiasi) seperti ini membuat kita lengah, lalu kita sombong, lalu kemudian juga kita menganggap penelitian ini sudah sangat sempurna, itu tidak," ucapnya.

Adi Utarini menyampaikan rasa bangga dengan tim peneliti WMP Yogyakarta, masyarakat Yogyakarta dan pemerintah daerah serta Yayasan Tahija yang selama ini menjadi patner.

"Tanpa itu semua apalah artinya peneliti, peneliti juga tidak bisa berbuat banyak. Doa kita cuma satu, mudah-mudahan ini membuat jalan lebih banyak masyarakat bisa memperoleh manfaat, kita sekarang kan juga masih menyebar tahun di daerah Sleman, tahun depan Bantul," kata Adi.

Dijelaskan Adi Utarini, uji efikasi Wolbachia selesai pada Agustus 2020.

Setelah itu, fokus dalam implementasi teknologi Wolbachia di Kabupaten Sleman.

Program ini bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Sleman melalui program Si Wolly Nyaman atau Wolbachia- Nyamuk Aman Cegah DBD di Sleman.

"Program yang sedang berlangsung, kami menitipkan telur nyamuk ber-Wolbachia di rumah orangtua asuh dan fasilitas umum," tuturnya.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved