Virus Corona
Varian Delta Plus AY.4.2 Sudah Masuk Singapura, Bagaimana dengan Varian Covid-19 di Indonesia?
Singapura telah mencatat kasus pertama virus corona subvarian delta AY.4.2 pada Selasa (26/10/2021). Sudahkah varian Delta Plus masuki Indonesia?
TRIBUNTERNATE.COM - Singapura mencatatkan kasus pertama virus corona subvarian delta AY.4.2 pada Selasa (26/10/2021) lalu.
Kementerian Kesehatan Singapura menyebutkan bahwa Varian AY.4.2 tersebut dikonfirmasi dari satu kasus impor Covid-19.
Subvarian yang juga dikenal dengan nama varian Delta Plus ini merupakan mutasi dari varian delta, kombinasi dari varian delta AY.4 dan mutasi lonjakan S:Y145H.
Namun demikian, Kementerian Kesehatan Singapura mengatakan bahwa tidak ada bukti bahwa kasus AY.4.2 pertama itu telah menyebar ke masyarakat.
"Sementara efeknya masih dipelajari, AY.4.2 saat ini diperkirakan serupa dengan subvarian delta lainnya dalam hal penularan dan tingkat keparahan penyakit," kata Kementerian Kesehatan Singapura seperti dikutip TribunTernate.com dari The Straits Times.
Subvarian AY.4.2 ini diklasifikasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai varian yang menarik, tetapi bukan varian yang menjadi perhatian.
Diwartakan BBC, para ahli mengatakan bahwa tidak ada indikasi bahwa subvarian AY.4.2 lebih menular atau lebih berbahaya daripada delta, namun penelitian masih terus berlangsung.
Baca juga: 23 Jenis Turunan Virus Corona Varian Delta Ditemukan di Indonesia, Ini Daftarnya
Baca juga: WHO Waspadai Varian Baru Corona AY.4.2 yang Telah Menyebar di Seluruh Inggris dan Negara-Negara Lain
Baca juga: Varian Baru Virus Corona AY.4.2 Ditemukan di Inggris, Turunan Varian Delta, Diduga Lebih Menular

Sementara itu, lebih dari enam persen dari semua kasus subvarian AY.4.2 telah dilaporkan di Inggris.
Data dari database pelaporan virus GISAID juga menunjukkan bahwa kasus subvarian AY.4.2 telah terdeteksi di Amerika Serikat, Kanada, Australia dan sebagian Eropa Barat.
Newsweek melaporkan bahwa Australia dan Jepang masing-masing hanya menemukan satu kasus AY.4.2 pada 19 Oktober 2021.
Profesor biologi sistem komputasi University College London, Francois Balloux mengatakan bahwa subvarian AY.4.2 yang mendorong peningkatan kasus di Inggris saat ini belum diamati.
"Karena AY.4.2 masih pada frekuensi yang cukup rendah, peningkatan 10 persen dalam penularannya hanya dapat menyebabkan sejumlah kecil kasus tambahan," katanya.
"Ini bukan situasi yang sebanding dengan kemunculan Alpha dan Delta yang jauh lebih menular (50 persen atau lebih) daripada strain apa pun yang beredar saat itu," imbuhnya.
Baca juga: Satgas Covid-19 Jelaskan Transisi Pandemi Jadi Endemi, Ada 5 Upaya Bangun Ketahanan Kesehatan
Baca juga: Nama Luhut Binsar Pandjaitan Disebut Sebagai Pejabat yang Terlibat Bisnis PCR, Juru Bicara Membantah
Baca juga: Ini Tanggapan Istana soal Aturan Wajib Tes PCR yang Berubah-ubah
Varian Covid-19 di Indonesia
Sementara itu di Indonesia, menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) virus corona subvarian delta AY.4.2 masih belum terdeteksi.