Virus Corona

Kasus Covid-19 Indonesia terus Melonjak, Media Asing Pertanyakan Perlindungan Vaksin Sinovac

Media internasional Aljazeera, menyoroti melonjaknya kasus Covid-19 di Indonesia dan mempertanyakan perlindungan vaksin Sinovac.

Covid19.go.id
ILUSTRASI Vaksin Sinovac. - Media internasional Aljazeera, menyoroti melonjaknya kasus Covid-19 di Indonesia dan mempertanyakan perlindungan vaksin Sinovac. 

TRIBUNTERNATE.COM - Media internasional Aljazeera, menyoroti melonjaknya kasus Covid-19 di Indonesia dan mempertanyakan perlindungan vaksin Sinovac.

Media yang memiliki kantor pusat di Doha, London, dan Washington D.C. tersebut membahas hal ini dengan memaparkan serangkaian data penelitian yang menunjukkan bahwa Sinovac, vaksin Covid-19 yang paling umum digunakan di Asia Tenggara, kurang efektif menangkal varian Omicron.

Aljazeera menyoroti tambahan kasus Covid-19 sebanyak 32.211 kasus pada Jumat (4/2/2022) lalu yang merupakan jumlah tinggi sejak gelombang Delta mulai mereda pada pertengahan Agustus di Indonesia.

Kemudian, Aljazeera juga menyoroti tentang persentase masyarakat Indonesia yang telah divaksin.

Menurutnya, pemerintah Indonesia saat ini hanya baru mencapai 45,9 persen dari target populasi Indonesia sebanyak 208 juta orang yang telah divaksinasi lengkap, dan menekankan bahwa 79 persen di antaranya divaksinasi menggunakan Sinovac.

Aljazeera kemudian membandingkan dengan rata-rata masyarakat global yang telah divaksinasi sebanyak 53,4 persen.

Baca juga: Pasien Covid-19 RS Naik, Luhut: Pasien Gejala Ringan Jangan Masuk RS, Masuk Saja di Isolasi Terpusat

Baca juga: Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan Positif Terinfeksi Covid-19 Varian Omicron

Selanjutnya, Aljazeera juga menyoroti tentang laju vaksinasi Indonesia yang semakin melambat sejak awal tahun karena banyak kabupaten dan provinsi menolak untuk menggunakan vaksin selain Sinovac.

Menurutnya, hal ini disebabkan oleh keluhan tentang efek samping dari vaksin yang dikembangkan oleh Barat, lebih parah.

Rujukan penelitian 

Aljazeera kemudian memaparkan beberapa hasil penelitian tentang efektivitas perlindungan vaksin Sinovac terhadap varian Omicron.

Penelitian pertama adalah dari para peneliti di University of Hong Kong dan Chinese University of Hong Kong.

Dikatakan Aljazeera, para peneliti itu menerbitkan sebuah penelitian yang menemukan bahwa dua dosis Sinovac tidak menghasilkan antibodi yang cukup untuk melawan Omicron.

Penelitian tersebut juga mengungkapkan bahwa Omicron secara signifikan mengurangi efektivitas dua dosis vaksin Pfizer BioNTech, yang dibangun di atas teknologi Messenger RNA (mRNA) baru.

Teknologi mRNA menggunakan kode genetik virus corona untuk mengelabui tubuh agar membuat protein virus sehingga sistem kekebalan tubuh mulai menghasilkan respon defensif. 

Halaman
12
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved